MODUL Lokalitas DAN PENGETAHUAN TRADISIONAL MODUL Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional ISBN 978-602-72656-7-7 xxxii+168 halaman; 15x23 cm Tim Penulis Modul Achmad Saeful, Henry Simarmata, Rahmat Hidayatullah, Julmansyah Putra, Tirta Rismahadi Wijaya, Chandra Saputra, Rizqi Handayani, Eva Fitriati, Siti Muniroh, Neneng Nurjanah, Ani Kurniasih, Rohmatul Asna, Toto Sugiarto, Arianto Sitorus Pane, Henriana Hatrawijaya, Syafri Arifuddin, Fahmi Panimbang, Fachrurozi Majid. Editor Achmad Saeful Cetakan I, Juni 2021 Diterbitkan oleh Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia(PSIK-Indonesia) bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia(Kemenko PMK RI) dan FriedrichEbert-Stiftung(FES) Kantor Perwakilan Indonesia. Desain Sampul dan Tata Letak Andi Faisal Isi publikasi ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab para penulis. Dilarang memperbanyak buku ini dalam bentuk apa pun, termasuk fotokopi tanpa izin tertulis dari penerbit. Tidak untuk diperjualbelikan. ii Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional MODUL Lokalitas DAN PENGETAHUAN TRADISIONAL Juni 2021 DAFTAR ISI Kata Pengantar dari Asisten Deputi Pemberdayaan Pemuda Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI.................... vi Kata Pengantar dari Friedrich-Ebert-Stiftung Kantor Perwakilan Indonesia .. viii Kata Pengantar dari Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia.............. xi Pendidikan Sebagai Corong Pelestarian Tradisi dan Budaya Lokal: Sebuah Pengantar......................................................................................................... xiii Pendahuluan.................................................................................................................... xv Cara Penggunaan Modul.............................................................................................. xxx Materi 1: Tradisi Andilan............................................................................................. 2 Materi 2: Tenun Songket Silungkang..................................................................... 8 Materi 3: Falsafah Hidup Ulun Lampung.............................................................. 14 Materi 4: Seba Baduy.................................................................................................. 20 Materi 5: Upacara Tabot di Bengkulu..................................................................... 26 Materi 6: Sambatan Gawe Omah............................................................................. 32 Materi 7: Tradisi Sawer Panganten Sunda............................................................. 38 Materi 8: Seren Taun Cigugur-Kuningan................................................................ 44 Materi 9: Kain Tenun Lurik.......................................................................................... 51 Materi 10: Nganter dalam Tradisi Betawi.............................................................. 56 Materi 11: elestarian Hutan dalam Adat Masyarakat Kesepuhan............. 62 Materi 12: Tatali, Paranti, Karuhun........................................................................... 68 Materi 13: Filosofi Pakaian Adat Sunda................................................................. 74 Materi 14: Kalindaqdaq: Puisi Suku Kata dari Mandar....................................... 80 Materi 15: Sagu Nusantara........................................................................................ 88 Materi 16: Permainan Margala Batak..................................................................... 94 Materi 17: udaya dan Falsafah Merantau dalam Masyarakat Bugis......... 100 Materi 18: Wayang Beber............................................................................................ 106 Materi 19: Angklung..................................................................................................... 112 Materi 20: Satu Tungku Tiga Batu............................................................................. 118 Materi 21: astra Sinawung Ing Kidung dalam Ajaran Ki Hajar Dewantara........ 124 Lampiran............................................................................................................................ 130 Daftar Pustaka................................................................................................................ 163 iv Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional v KATA PENGANTAR Asisten Deputi Pemberdayaan Pemuda Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI Pendidikan memiliki peran penting dalam meningkatkan kemampuan berpikir dan memahami realitas sekitar, selain juga sangat berguna untuk meningkatkan kemampuan bernalar seorang peserta didik. Semua kapabilitas ini tidak harus diperoleh melalui pendidikan formal. Dengan pendidikan informal pun, kemampuan demikian bisa diperoleh seseorang, yakni lewat pengalaman berjumpa dengan yang lain. Kemampuan untuk memahami realitas sekitar ini sangat penting dimiliki setiap warga negara Indonesia, sebab hidup dan berkembang dalam negeri multikultural dengan kekayaan budaya, tradisi, bahasa, pakaian adat, ritus, dan musik yang sangat beragam. Tanpa kemampuan untuk memahami elemen-elemen lokalitas yang lain, modal sosial yang melimpah itu dapat berubah menjadi petaka di mana perbedaan menjadi masalah dan pemantik konflik bukan sebagai berkah dan unsur-unsur positif yang memperkaya khazanah budaya yang ada. Budaya – dan berbagai elemen yang melingkupinya – memiliki nilai-nilai penting seperti tata kehidupan, proses, dan kerja sama yang semuanya sangat penting bagi kehidupan bersama. Oleh karena itu, memahami budaya yang hidup di seantero nusantara merupakan kecakapan penting untuk dimiliki setiap warga negara agar satu sama lain saling mengenal keunikan dan lokalitas masing-masing, sehingga memperkaya khazanah pengetahuan budaya yang dimilikinya. Salah satu inisiatif penting yang kami laksanakan untuk memberi pengertian dan memperkaya pemahaman akan berbagai budaya yang hidup di Indonesia ialah dengan menerbitkan Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional. Kerja-kerja intelektual yang berada di bawah payung Program Sekolah Harmoni Indonesia ini dikoordinasi dan didukung penuh oleh Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia (PSIK-Indonesia) dan Friedrich-Ebert-Stiftung(FES) Indonesia. Modul yang diterbitkan ini merupakan upaya kami untuk memberikan kontribusi bagi bahan ajar dan kurikulum, mempromosikan aktivitas antar-komunitas, dan keragaman lokalitas yang hidup dan berkembang vi Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional di berbagai wilayah di negeri ini. Nilai-nilai utama yang terkandung dalam setiap lokalitas menjadi poin penting yang kami sajikan kepada para pembaca. Misalnya, membahas satu budaya atau tradisi dengan turut menampilkan aspek-aspek positif dari keduanya seperti kerja sama, toleransi, dan alasan mengapa budaya atau tradisi itu masih penting untuk dilestarikan. Bagi kami, para peserta didik perlu mengetahui tema-tema budaya atau tradisi itu lewat pembelajaran di kelas-kelas mereka. Untuk inisiatif dan kerja sama yang luar biasa ini kami sampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada FES Indonesia dan PSIKIndonesia. Kami berharap Program Sekolah Harmoni Indonesia ini dapat memberikan kontribusi positif bagi pengayaan materi pembelajaran di sekolah. Juga, kepada para peserta dan penulis Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional ini kami sampaikan terima kasih atas keikutsertaan, kolaborasi, dan diskusi selama rangkaian kegiatan berlangsung. Selamat membaca dan menyelami keragaman budaya Indonesia melalui tema-tema yang disuguhkan dalam buku ini. Selamat membaca! Asisten Deputi Pemberdayaan Pemuda Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI, Dr. Yohan, M.Si. Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional vii KATA PENGANTAR Friedrich-Ebert-Stiftung Kantor Perwakilan Indonesia Ada banyak praktik, pengalaman dan sumber pengetahuan yang dapat dipelajari dan digali untuk dijadikan bahan pembelajaran dalam proses belajar-mengajar di berbagai tingkatan lembaga pendidikan di Indonesia. Sebagai suatu negara-bangsa yang multikultural, Indonesia sangat kaya dengan budaya, tradisi, sastra dan bahasa, seni musik, tari, lukis, upacara agama dan adat, ritus, arsitek rumah adat, serta pakaian adat tradisional, yang masih hidup dan dilestarikan oleh masyarakat pegiat tradisi dan komunitas lokal. Salah satu maksud dari kegiatan mengkonservasi berbagai elemen kelokalan itu adalah untuk merawat, melindungi dan meneruskan kesinambungan pemahaman pada kultur dan berbagai aspek yang melingkupinya, agar tidak musnah. Sederet elemen ilmu pengetahuan, keterampilan lokal tersebut belakangan kurang mendapat perhatian(baca: dilupakan) oleh masyarakat luas. Bahkan, masyarakat lokal yang termasuk generasi veteran(lahir di rentang waktu 1943-1960), atau yang sering disebut generasi baby boomer 1 dinilai mulai melupakan budaya dan tradisi mereka akibat gempuran arus modernisasi dan globalisasi yang disokong oleh kemajuan teknologi dan informasi. Sebagai penerus estafet budaya dan tradisi, mereka justru lebih mengapresiasi budaya baru yang masuk ke Indonesia, ketimbang budaya dan tradisi yang hidup di lingkungan mereka sendiri. Bagaimana dengan generasi milenial, yang sering juga disebut generasi Y dan generasi yang lebih muda lagi yaitu generasi Z, yang lahir dan tumbuh kembang bersamaan dengan kemajuan teknologi? Kedua generasi itu adalah generasi yang mampu mengaplikasikan semua kegiatan dalam satu waktu seperti nge-tweet menggunakan ponsel, browsing dengan komputer pribadi( personal computer/PC), dan mendengarkan musik menggunakan aplikasi digital, mengakses berbagai situs pendidikan, bertransaksi bisnis daring, hingga memesan makanan dan transportasi, dimana seluruh aktivitas mereka tidak jauh dari seputaran dunia maya. Keakraban mereka pada teknologi dan perangkat-perangkat canggih sudah berlangsung sejak belia, yang kemudian secara langsung juga 1 William Strauss and Howe:‘ Generations: The History of American’s Future…(1991). viii Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional mempengaruhi pola hidup secara pribadi, serta di kehidupan sosial mereka. Karena dibesarkan dengan fasilitas teknologi super canggih, dibanjiri jutaan informasi melalui sumber-sumber yang tersedia di dunia maya, kedua generasi ini cenderung berkomunikasi dan berpandangan terbuka, kreatif, informatif, mempunyai passion, produktif dan efisien. Di luar dugaan, kerap kali mereka terlihat sangat reaktif terhadap hal-hal yang terjadi di seputaranya dan mampu menciptakan berbagai peluang baru seiring dengan perkembangan teknologi yang sangat cepat dan kian mutakhir. Mengetahui fakta dan ciri-ciri di atas, pandangan kedua generasi itu tentang budaya dan tradisi leluhur juga tentu berbeda dengan perspektif generasi sebelumnya. Oleh karenanya, bagaimana memperkenalkan budaya dan tradisi tersebut agar mereka tertarik, mampu memahami dan mungkin lebih jauh, menghidupkan kembali budaya dan tradisi sesuai dengan kesukaan mereka, yakni dengan memanfaatkan berbagai platform teknologi yang tersedia. Pengembangan dengan cara asimilasi, adaptasi, dan inovasi dengan kreasi model dan kemasan, diyakini dapat diterima oleh Generasi Y dan Z, sehingga mereka akan lebih mau terlibat memahami, mengembangkan, dan mengapresiasi lokalitas yang kini masih hidup di masyarakat. Berangkat dari pemikiran di atas, Friedrich-Ebert-Stiftung(FES) Kantor Perwakilan Indonesia berkerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan(Kemenko PMK) Republik Indonesia, dan Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia(PSIK Indonesia), di bawah kegiatan Sekolah Harmoni Indonesia(SHI), membuat inisiatif penting dengan menggelar Kelompok Diskusi Terpumpun( Focus Group Discussion/FGD) Penulisan Modul tentang Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional. Modul tersebut diterbitkan berupa buku fisik dan e-book agar bisa dibaca dan diakses lebih banyak orang di mana pun. Sebagai tambahan dari modul tersebut ada juga produk podcast yang kami kerjakan secara paralel dengan buku ini, yang diharapkan dapat memberi pemahaman yang lebih beragam dan mendalam akan budaya dan tradisi yang hidup di berbagai wilayah. Selama proses pengerjaan Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional ini, paling tidak terdapat tiga poin penting yang bisa kami sampaikan. Pertama, kami melibatkan partisipan(penulis modul) dari kalangan muda yang berkolaborasi dengan para penulis lain yang berpengalaman. Meskipun muda, mereka berkomitmen dan memiliki kemampuan menulis dan analisis yang baik. Hal ini nampak dari abstrak Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional ix yang mereka kirimkan sebagai salah satu syarat mengikuti kegiatan. Kedua, buku Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional ini kami tujukan untuk guru-guru di Sekolah Menengah Pertama(SMP/sederajat) Kelas IX untuk disampaikan kepada peserta didik melalui pembelajaran di kelas. Ketiga, modul ini juga kami siapkan sebagai pengayaan materi pembelajaran baik di sekolah-sekolah formal maupun informal yang diadakan para pegiat literasi di berbagai komunitas. Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisonal ini adalah hasil dari FGD daring yang kami selenggarakan sebanyak 6 kali pertemuan pada 28 April-2 Juni 2021. Kegiatan FGD Penulisan ini melibatkan para penulis muda dari berbagai latar belakang budaya, organisasi, aktivitas atau profesi, laki-laki dan perempuan, dan berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Dengan selesainya kegiatan penulisan modul ini, secara khusus, kami menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada Bapak Yohan, Asisten Deputi Pemberdayaan Pemuda dan Bapak Redemtus Alfredo Sani Fenat, Asisten Deputi Revolusi Mental Kemenko PMK berserta jajarannya yang telah mendukung penuh penyelenggaraan kegiatan ini sehingga dapat berjalan dengan baik dan lancar. Apresiasi dan ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada teman-teman PSIK Indonesia yang telah menyusun rencana, strategi perekrutan perserta, menyelenggarakan acara, dan mengoordinasikan kegiatan dengan berbagai pihak secara baik. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada peserta, narasumber dan mentor yang begitu antusias mengikuti rangkaian FGD Penulisan Modul ini dari awal hingga akhir. Komitmen untuk terus menghadiri kegiatan secara daring, yang sering kali dilaksanakan pada malam hari dan di akhir pekan merupakan upaya yang sangat kami apresiasi, disertai dengan diskusi dan masukan berharga yang memperkaya isi modul. Kami berharap inisiatif ini bisa bermanfaat dan memberikan kontribusi positif bagi proses belajar-mengajar di negeri ini, terutama memperkaya khazanah pengetahuan peserta didik tentang warisan budaya dan tradisi bangsa ini. Selamat membaca! Jakarta, Juni 2021 Dormiana Yustina Manurung Program Koordinator FES Indonesia x Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional KATA PENGANTAR Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia Pendidikan adalah sarana paling penting untuk mengajarkan materi dan menyebarkan nilai-nilai positif kepada para peserta didik. Dengan materi yang baik, pemahaman yang bagus, dan penguasaan atas metode pengajaran yang mumpuni, materi pembelajaran diyakini dapat disampaikan kepada para murid dan diterima oleh mereka dengan sangat baik. Salah satu materi yang penting untuk disampaikan kepada para peserta didik ialah bahasan tentang lokalitas dan pengetahuan tradisional yang begitu kaya dan beragam yang dimiliki bangsa Indonesia. Kekayaan khazanah budaya bangsa Indonesia itu harus diketahui, diterima, dan dipahami para murid sebagai modal sosial mereka untuk mengerti perbedaan sebagai warisan kekayaan yang harus dijaga keberadaanya bersama-sama. Sebagai salah satu upaya untuk melestarikan sekaligus mengenalkan budaya lokal di Nusantara dengan dukungan penuh dari Kemenko PMK RI dan Friedrich-Ebert-Stiftung(FES) Kantor Perwakilan Indonesia menggelar Diskusi Kelompok Terpumpun( Focus Group Discussion /FGD) guna mengumpulkan data dan informasi tentang lokalitas dan pengetahuan tradisional untuk dapat dijadikan materi pembelajaran di kelas-kelas. Untuk menghasilkan karya tulis yang maksimal, kami menyelenggarakan 6 pertemuan yang digelar mulai 28 April – 2 Juni 2021, dengan melibatkan para penulis muda dari berbagai latar belakang budaya, organisasi, aktivitas atau profesi. Seluruh rangkaian kegiatan yang berada di bawah Program Sekolah Harmoni Indonesia(SHI) ini kami laksanakan secara daring mengingat pandemi Covid-19 yang belum berakhir. Meski demikian, antusiasme para pemuda, guru-guru muda, pegiat literasi yang mengikuti FGD Penulisan Modul ini sangat baik. Setiap pertemuan diikuti dengan seksama, materi yang disajikan di setiap pertemuan pun sangat diminti para partisipan. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih banyak atas antusiasme dan pertukaran ide para peserta selama proses kegiatan FGD berlangsung. Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional xi Modul pembelajaran ini kami buat untuk para pendidik di tingkat Sekolah Menengah Pertama, untuk kemudian diajarkan ke para peserta didik sehingga mereka mampu memahami dengan baik tema-tema dan kekhasan tradisi yang ditulis dalam modul tersebut. Kami berharap kehadiran karya Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional ini dapat berkontribusi pada pengayaan informasi tentang budaya dan tradisi di negeri ini. Lebih dari itu, kegiatan ini juga kami harapkan dapat memberikan sumbangan positif bagi metode pembelajaran di kelas-kelas dengan menjadikan para peserta didik sebagai pusat kegiatan belajar-mengajar. Selamat mempelajari kekayaan budaya dan tradisi yang tersaji dalam Modul Pembelajaran ini. Selamat membaca! Dr. Sunaryo Direktur Eksekutif Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia xii Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Pendidikan Sebagai Corong PELESTARIAN Tradisi dan Budaya Lokal: Sebuah Pengantar Achmad Saeful Kekayaan akan tradisi dan budaya lokal, sejatinya merupakan kekayaan yang melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Namun tidak jarang hal ini kerap dilupakan, bahkan sering dicampakkan. Padahal, tradisi dan budaya lokal yang ada di tanah air merupakan bagian dari identitas bangsa yang patut untuk dijaga, dirawat dan dilestarikan. Menjaga, merawat dan melestarikan sebuah identitas bangsa tentu bukan perkara mudah, tetapi salah satu jalan yang dapat ditempuh adalah dengan memberikan pembelajaran melalui jalur pendidikan. Kontribusi pendidikan dalam rangka memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada peserta didik tentu tidak perlu diragukan lagi, maka dengan memberikan pembelajaran berkaitan dengan tradisi dan budaya lokal masyarakat tanah air diharapkan para peserta didik dapat mengenal, memahami dan menelaah setiap nilai-nilai yang ada pada tradisi dan budaya di tanah air, sehingga nilai-nilai itu mampu diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi yang patut digarisbawahi bahwa pengetahuan dan pemahaman peserta didik terhadap tradisi dan budaya lokal sangat ditentukan dari sejauhmana lembaga pendidikan mampu mengakomodir dan memberikan ruang pembelajaran bagi setiap tradisi dan budaya lokal yang ada di tanah air. Sebab dapat dikatakan“corong” pelestarian tradisi dan budaya lokal yang ada di tanah air terdapat dalam dunia pendidikan. Kenyataannya, tidak sedikit lembaga pendidikan justru acuh terhadap pembelajaran tradisi dan budaya lokal tanah air. Bahkan, kehadirannya sering dianggap tidak penting. Anggapan semacam ini tentu tidak dapat dilepaskan dari cara pandang dunia pendidikan saat ini yang lebih mengedepankan pembelajaran ilmu-ilmu eksakta daripada pembelajaran lainnya, termasuk pembelajaran tentang tradisi dan budaya lokal. Dampaknya, anggapan semacam ini berpengaruh pada cara pandang pendidik dalam memberikan pembelajaran yang selalu menekankan pada aspek ilmu-ilmu eksakta saja, akhirnya Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional xiii pembelajaran mengenai tradisi dan budaya lokal menjadi dianaktirikan. Salah satu contoh yang nampak jelas adalah pembelajaran tentang Bahasa Daerah yang saat ini seakan-akan tidak begitu dianggap penting, bahkan di beberapa lembaga pendidikan pembelajarannya justru dihilangkan. Tidak berlebihan kiranya, jika cara pandang di atas dikatakan sebagai cara pandang yang keliru. Karena, mengedepankan pembelajaran ilmu-ilmu eksakta dengan mengesampingkan/menafikan tentang pembelajaran lainnya, termasuk pembelajaran tentang tradisi dan budaya lokal tanah air, tentu sangat tidak sesuai dengan nafas pendidikan itu sendiri, di mana dalam dunia pendidikan semua ilmu selalu anggap penting selama di dalamnya berisi tentang nilai-nilai yang bersifat positif. Sejatinya, dalam setiap tradisi dan budaya lokal yang terdapat pada masyarakat tanah air, terdapat banyak nilai-nilai positif yang bisa dipelajari, seperti nilai kebersamaan dan kepedulian pada tradisi andilan masyarakat Betawi, nilai berbagi dan peduli dengan alam pada tradisi seba Baduy, nilai gotong royong pada tradisi seren taun dan lain sebagainya. Semua nilai-nilai tersebut tentu sangat berguna bila diajarkan kepada peserta didik di setiap lembaga pendidikan, sebab nilai-nilai yang ada dalam tradisi-tradisi itu dapat membantu menumbuhkan dan membentuk karakter luhur peserta didik. Jika muara pendidikan adalah pembentukan karakter luhur, maka pembelajaran mengenai tradisi dan budaya lokal tanah air adalah salah satu jalan menuju pada muara itu. Karenanya, pembelajaran tentang tradisi dan budaya lokal tanah air patut dianggap penting, tidak boleh diabaikan terlebih dinegasikan. Modul yang berisikan tentang berbagai tema tradisi dan budaya lokal ini adalah upaya untuk memberikan penyadaran kepada seluruh orang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan tentang pentingnya mempelajari tradisi dan budaya lokal masyarakat tanah air, termasuk nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Sehingga ke depan mereka yang berkecimpung di dunia pendidikan tidak lagi abai terhadap keberadaan tradisi dan budaya lokal masyarakat tanah air. Sudah sewajarnya setiap lembaga pendidikan dan orang-orang yang terlibat di dalamnya memberikan ruang bagi pembelajaran tradisi dan budaya lokal masyarakat tanah air. Semakin lembaga pendidikan membuka ruang terhadap pembelajaran tradisi dan budaya lokal masyarakat tanah air, semakin dapat terjaga dan terlestarikan tradisi dan budaya lokal tersebut. xiv Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional PENDAHULUAN A. Modul Pengetahuan Tradisional dan Lokalitas Kebudayaan menjadi bagian penting dari kemanusiaan manusia Indonesia. Manusia Indonesia yang tumbuh dalam berbagai lokalitas, peradaban, dan proses berbangsa dan bernegara berkontribusi terhadap tujuan kemerdekaan. Hal ini menjadi bagian inti dari tujuan kemerdekaan, yaitu merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Kemerdekaan itu sendiri adalah momentum penghargaan terhadap martabat kemanusiaan manusia Indonesia.“Pengetahuan tradisional dan lokalitas” menjadi titik belajar kita atas martabat kemanusiaan manusia Indonesia. Masing-masing lokalitas di Indonesia menyatakan kemanusiaan mereka terhadap penghargaan atas kehidupan yang mereka syukuri atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Kemanusiaan ini tumbuh dalam pengetahuan tradisional, yaitu“… Seluruh ide dan gagasan dalam masyarakat, yang mengandung nilainilai setempat sebagai hasil pengalaman nyata dalam berinteraksi dengan lingkungan, dikembangkan secara terus-menerus dan diwariskan pada generasi berikutnya. Pengetahuan tradisional antara lain kerajinan, busana, metode penyehatan, jamu, makanan dan minuman tradisional, serta pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta(sebagaimana dijelaskan dalam penjelasan Undang Undang Republik Indonesia nomor 5 tahun 2017 pasal 5 huruf e). Modul ini merupakan bagian dari upaya kebangsaan kita dalam mengangkat penghargaan terhadap pengetahuan tradisional ke dalam pendidikan. Proses ini membutuhkan pembelajaran yang unik, namun terencana dan berkelanjutan, untuk peka terhadap lokalitas dari warga bangsa kita. Unik karena kepekaan terhadap sesama manusia, sesama warga bangsa, dan alam kehidupan sesama ditumbuhkembangkan. Kepekaan inilah yang juga menjadi inti nilai dari“bahagia” sebagaimana yang dimuat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Para guru menjadi inti dari pembelajaran ini. Para guru telah terlebih dahulu dididik, baik melalui proses formal, melalui pengalaman hidup mereka, interaksi dengan para murid, dan juga dari pemahaman mereka terhadap proses pendidikan secara keseluruhan. Para guru mempunyai Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional xv pengalaman yang unik dalam membangun kepekaan dalam diri murid dan orang tua mereka terhadap lokalitas dari warga bangsa. Kepekaan dan kreativitas menjadi inti dari penghargaan kemanusiaan manusia. Modul ini mengolah titik-titik lokalitas dalam penghargaan ini. Terdapat ribuan titik lokalitas-betapa kayanya Indonesia, dan betapa Maha Murah-nya Tuhan yang Maha Kuasa terhadap Indonesia. B. Profil Pengguna dan Pengolah Modul Modul ini digunakan dan diolah oleh para guru dan pendidik umumnya di pendidikan tingkat menengah pertama(Kelas VII, Kelas VIII, Kelas IX). Pada saat yang sama, modul ini digunakan dan diolah oleh guru dan pendidik pada tingkat dasar-menengah pada umumnya, serta penggiat budaya dan komunitas. guru/pengajar tingkat dasarmenengah pada umumnya guru/pengajar SMP penggiat budaya, penggiat komunitas pada umumnya Bagi guru/pengajar SMP, modul ini dipergunakan secara khusus dalam kegiatan pendidikan mereka dan dalam kegiatan kemasyarakatan mereka. Termasuk juga dalam hal ini termasuk karyakarya mereka(dalam kompetensi), termasuk publikasi buku, publikasi media sosial, kegiatan sosial-kemasyarakatan, bahkan kontribusi ke dalam BIPA(Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing). Bagi guru/pengajar tingkat dasar-menengah pada umumnya, modul ini dapat membantu mereka dalam memahami kebudayaan dalam pembelajaran dan dalam inisiatif kemasyarakatan. Bagi penggiat budaya dan penggiat komunitas pada umumnya, modul ini menghubungkan upaya-upaya mereka dalam inisiatif kemasyarakatan dengan pendidikan(formal), dan membangun proses sistematisasi xvi Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional pengetahuan tradisional yang hidup dan tumbuh di kawasan budaya mereka. C. Pendalaman atas Budaya dan Pendidikan Pengetahuan tradisional dan lokalitas mempunya posisi penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini dirumuskan dalam perihal kebudayaan daerah dalam UUD 1945, sebagai berikut: “Kebudayaan bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budi-daya Rakyat Indonesia seluruhnya. Kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia, terhitung sebagai kebudayaan bangsa. Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab, budaya dan persatuan, dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri, serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia.” Rumusan ini cukup penting mengingat hal ini adalah buah pikiran pendiri bangsa dalam merumuskan pasal 32 UUD 1945. Hal ini adalah hasil upaya dari Panitia Kecil yang menjadi perancang Pendidikan dan Pengajaran BPUPK(Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Panitia Kecil ini diketuai oleh Ki Hadjar Dewantara dengan anggota Prof. Dr. Hoesein Djajadiningrat, Prof. Dr. Asikin, Prof. Ir. Rooseno, Ki Bagoes Hadikoesoemo, K.H. Masjkoer. 1 Dari nama-nama tersebut kita dengan segera mencermati bagaimana pendidikan dan kebudayaann menjadi hal yang amat dekat. Keduanya saling mempengaruhi dan saling menumbuhkan. Hal ini semakin kuat kita dapati susunan pasal mengenai pendidikan(pasal 31) dan pasal mengenai kebudayaan(pasal 32) yang“didempetkan”(“bersisian”) dan ada dalam satu bab, yaitu Bab XIII. Rumusan ini sekaligus mendorong lokalitas untuk tetap dapat diperkaya, sekaligus menjadi sumbangan terhadap kebudayaan bangsa, sebagaimana disampaikan oleh Supomo, masih dalam proses BPUPK: 1 dalam hal ini sepenuhnya kita dapati dalam pemaparan Yudi Latif, Ph.D., dalam karyanya “Pendidikan yang Berkebudayaan, Histori, Konsepsi, dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif”(tahun 2020, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama). Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional xvii “Bahasa negara adalah bahasa Indonesia, sama sekali tidak berarti bahwa misalnya bahasa Jawa atau bahasa Sunda harus dihapuskan. Sama sekali tidak! Saya pernah mendengar dalam sidang ini perkataan: Janganlah memakai nama Soekardjo sebab itu adalah nama Jawa. Kita harus memakai nama Indonesia. Pendapat ini salah! Bukan itu yang dimaksudkan. Nama Jawa atau nama Sunda itu juga nama Indonesia. Jadi bahasa-bahasa daerah, bahasa Jawa dan bahasa lain-lain harus dihormati…Kita harus memelihara sebaik-baiknya bahasa-bahasa daerah yang begitu luas dan tinggi kedudukannya dalam kehidupan masyarakat. Di samping itu kita harus mengembangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, sebagai bahasa negara. Dengan menjunjung tinggi bahasa Indonesia sebagai bahasa negara kita akan mengekalkan persatuan seluruh rakyat Indonesia” 2 . Kebudayaan adalah bagian dari pendidikan, dan pendidikan menjadi bagian dari kebudayaan. Hal ini menegaskan mengenai suatu proses dari“lembah ke puncak”(dalam puncak-puncak kebudayaan), dan menjadi proses menuju“kemajuan adab, budaya, dan persatuan”. Nilai pengakuan“memanusiakan manusia” dalam Keindonesiaan adalah inti dari Pancasila. Nilai-nilai dalam masing-masing sila sekaligus keseluruhan sila mencerminkan apa yang dinyatakan oleh Panitia Kecil perancang Pendidikan dan Pengajaran BPUPK mengenai kebudayaan dan pendidikan. D. Pendalaman Mengenai“Pengetahuan Tradisional” Pengetahuan tradisional adalah salah satu dari 10 objek pemajuan kebudayaan. Secara sendiri, pengetahuan tradisional dipahami sebagai: … Seluruh ide dan gagasan dalam masyarakat, yang mengandung nilai-nilai setempat sebagai hasil pengalaman nyata dalam berinteraksi dengan lingkungan, dikembangkan secara terusmenerus dan diwariskan pada generasi berikutnya. Pengetahuan tradisional antara lain kerajinan, busana, metode penyehatan, jamu, makanan dan minuman tradisional, serta pengetahuan dan 2 Yudi Latif, 2020, Op.cit xviii Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta(sebagaimana dijelaskan dalam penjelasan Undang Undang Republik Indonesia nomor 5 tahun 2017 pasal 5 huruf e). Secara bersama-sama, 10 objek pemajuan kebudayaan itu dipahami sebagai; Unsur kebudayaan yang secara bersama-sama mengembangkan nilai-nilai luhur budaya bangsa; memperkaya keberagaman budaya; memperteguh jati diri bangsa; memperteguh persatuan dan kesatuan bangsa. mencerdaskan kehidupan bangsa; meningkatkan citra bangsa; mewujudkan masyarakat madani; meningkatkan kesejahteraan rakyat; melestarikan warisan budaya bangsa; mempengaruhi arah perkembangan peradaban dunia, sehingga Kebudayaan menjadi haluan pembangunan nasional. tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, ritus, teknologi, seni, bahasa, permainan rakyat, olahraga tradisional pengetahuan tradisional Pengetahuan tradisional adalah salah satu dari 10 objek dalam pemajuan kebudayaan Pengetahuan tradisional ini perlu untuk diidentifikasi(“digali”), diolah, dan ditumbuhkembangkan dalam proses pendidikan, dalam hal ini pendidikan dasar menengah. Secara khusus, modul ini memberikan gambaran umum dan profil khusus mengenai pengetahuan tradisional. Pengetahuan tradisional yang diangkat dalam modul ini hanya beberapa saja dari ribuan pengetahuan tradisional yang hidup di Indonesia. Maka, guru, kurator, pengolah kurikulum, penggiat budaya dan penggiat komunitas perlu melakukan hal ini: Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional xix l mengenai isi dan makna pengetahuan tradisional yang disajikan/dibangun; l dalam mengolah pengetahuan tradisional masuk ke dalam pendidikan; l dalam mendukung penilaian(asesmen) terhadap capaian guru/pengajar dalam pendidikan, dan dalam capaian mereka sebagai guru E. Guru sebagai Pemuda Sebagian besar dari guru/pengajar pada tingkat dasar-menengah adalah kelompok muda/pemuda. Lingkup umur pemuda menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 tahun 2019 adalah 16-30 tahun. Kemudaan ini tentu saja bukan hanya mengenai umur melainkan visi pendidikan yang tumbuh bersama dalam peran-peran mereka. Secara khusus, guru/pengajar sebagai pemuda dipahami dalam kerangka Indeks Pembangunan Pemuda, sebagai berikut: xx Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Dalam lingkup ini, kita dapat mencermati capaian indeks dalam kurun waktu 2015-2018: Khususnya pada“pendidikan” dan“partisipasi dan kepemimpinan”, guru/pengajar dapat mengambil peran dalam“menggali, mengolah, dan menumbuhkembangkan” pengetahuan tradisional ke dalam pendidikan: Mengolah pengetahuan tradisional ke dalam pembelajaran (pengayaan dan muatan lokal) dan pencapaian guru(karya/publikasi, inisiatif dalam masyarakat, bimbingan teknis) Mengolah pengetahuan tradisional ke dalam inisiatif kemasyarakatan dalam bentuk karya kreatif (termasuk yang berbasis media sosial) yang membangun kepekaan kemanusiaan; dan mengolah pengetahuan tradisional menjadi inisiatif yang dibangun dalam inisiatif organisasi, desa, dan kabupaten/kota F. Pembelajaran Pembelajaran dalam kelas mengenai“pengetahuan tradisional” dapat dilakukan dalam 3 hal, yaitu pengayaan dan muatan lokal, dan dalam integrasi ke dalam“Bahasa Indonesia”. - Pengayaan Pendalaman dan perluasan dari kompetensi yang dipelajari. Hal Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional xxi pengayaan Bahasa Indonesia muatan lokal ini dapat dilakukan baik dalam pembelajaran dalam kelas(intra kurikuler), maupun yang merupakan kegiatan lintas lokasi atau dalam komunitas(lintas-kurikuler) - Muatan Lokal Proses pembelajaran berdasarkan kurikulum Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayayaan Republik Indonesia nomor 79 tahun 2014 tentang Muatan Lokal Kurikulum 2013. Pembelajaran ini memasukkan, memadukan, mengolah“pengetahuan tradisional” ke dalam pembelajaran, sebagai: a. lokal mencakup pandangan-pandangan yang mendasar, nilai-nilai sosial, dan artifak-artifak(material dan perilaku) yang luhur yang bersifat lokal. b. dan pra-vokasional adalah muatan lokal yang mencakup pendidikan yang tertuju pada pengembangan potensi jiwa usaha dan kecakapannya. c. lingkungan dan kekhususan lokal lainnya adalah mata pelajaran muatan lokal yang bertujuan untuk mengenal lingkungan lebih baik, mengembangkan kepedulian terhadap xxii Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional lingkungan, dan mengembangkan potensi lingkungan. d. antara budaya lokal, kewirausahaan, pra- vokasional, lingkungan hidup, dan kekhususan lokal lainnya yang dapat menumbuhkan suatu kecakapan hidup. - Bahasa Indonesia Pembelajaran Bahasa Indonesia(“mapel” Bahasa Indonesia) dengan pola tematik dapat memadukan dan/atau melengkapi materi yang ada dengan input dari“pengetahuan tradisional” yang ada di dalam modul ini, atau yang digali secara khusus oleh para guru/pengajar melalui dialog. G. Kompetensi dan Inisiatif Guru/Pengajar Kompetensi guru/pengajar, terutama yang berwujud karya yang mencerminkan kompetensi pedagogik dan profesional, perlu mengolah pengetahuan tradisional menjadi karya kreatif, termasuk dalam publikasi, tutorial, publikasi berbasis media sosial. Kompetensi ini juga dapat diolah ke dalam proses“bimtek”(bimbingan teknis) yang diselenggarakan oleh para guru/pengajar terkait kepada guru/ pengajar lain(proses berjenjang), sebagai upaya memperbagus proses pembelajaran dalam hal pengetahuan tradisional, dan juga untuk melakukan upgrading atas materi tertentu. Guru/pengajar dapat membangun inisiatif kemasyarakatan dengan tujuan untuk melakukan pendalaman terhadap pengetahuan tradisional, dan untuk membangun upaya bersama dalam komunitas, baik itu desa, kabupaten/kota, atau lintas kelompok. Hal ini dapat dilakukan dalam hal: l mengenai isi dan makna pengetahuan tradisional yang disajikan/dibangun; l dalam mengolah pengetahuan tradisional masuk ke dalam pendidikan; l dalam mendukung penilaian(asesmen) terhadap capaian guru/pengajar dalam pendidikan, dan dalam capaian mereka sebagai guru Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional xxiii bimtek karya kreatif inisiatif kemasyarakatan H. Peta Kompetensi Pada dasarnya, peta kompetensi ini sudah banyak dibahas dan diinternalisasikan dalam proses pembelajaran. Secara khusus, peta kompetensi di sini adalah dalam proses mengolah“pengetahuan tradisional” ke dalam pembelajaran-yang merupakan proses mata pelajaran Bahasa Indonesia(“mapel” Bahasa Indonesia), muatan lokal, dan pengayaan. xxiv Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Kelas VII Kompetensi Kompetensi Inti Memahami pengetahuan(faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata Kompetensi Dasar Mengidentifikasi informasi dalam teks deskripsi dan Menelaah struktur dan kebahasaan tentang suatu objek sosial budaya dan peristiwa; materi yang diperdengarkan(visual) dan dilihat (audio visual), atau yang berupa kegiatan interaktif. Uraian dalam“Pengetahuan Tradisional”(Untuk Para Guru/ Pengajar) Para guru/pengajar mengambil pengalaman dalam dialog(sebagai inisiatif kemasyarakatan), studi pribadi mengenai pengetahuan tradisional, bimbingan teknis sebagai bahan ke dalam pembelajaran. Para guru menggunakan modul ini untuk membuat rencana pembelajaran mengenai pengetahuan tradisional dengan dasar kompetensi kelas VII. Para guru/pengajar aktif dalam inisiatif kemasyarakatan dan menuangkan karya kreatif mengenai pengetahuan tradisional. Kompetensi Inti Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret(menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak(menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori Kompetensi Dasar “Menutur”, menjelaskan teks deskripsi dan menyajikan gagasan secara lisan dan tulisan Para guru/pengajar mengolah pengalaman dalam dialog(sebagai inisiatif kemasyarakatan), studi pribadi mengenai pengetahuan tradisional, bimbingan teknis ke dalam proses pembelajaran. Para guru mengolah interaksi kelas( in class), luar kelas( out class), lintas kurikulum dengan menggunakan modul ini dengan dasar kompetensi kelas VII. Para guru/pengajar menyelenggarakan kegiatan kreatif tertentu sebagai inisiatif kemasyarakatan mengenai pengetahuan tradisional. Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional xxv Kelas VIII Kompetensi Kompetensi Inti Memahami pengetahuan(faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata Kompetensi Dasar Menelaah struktur dan kebahasaan berita, teks, atau materi yang diperdengarkan (visual) dan dilihat(audio visual), atau yang berupa kegiatan interaktif. Uraian dalam“Pengetahuan Tradisional”(Untuk Para Guru/ Pengajar) Para guru/pengajar mengambil pengalaman dalam dialog(sebagai inisiatif kemasyarakatan), studi pribadi mengenai pengetahuan tradisional, bimbingan teknis sebagai bahan ke dalam pembelajaran. Para guru menggunakan modul ini untuk membuat rencana pembelajaran mengenai pengetahuan tradisional dengan dasar kompetensi kelas VIII. Para guru/pengajar aktif dalam inisiatif kemasyarakatan dan menuangkan karya kreatif mengenai pengetahuan tradisional. Kompetensi Inti Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret(menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak(menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori Kompetensi Dasar “Menutur”, mengungkapkan pengalaman dan gagasan, menyimpulkan suatu data dan informasi, materi publik dan/atau interaktif, dan memperhatikan struktur, unsur kebahasaan, atau aspek lisan. Para guru/pengajar mengolah pengalaman dalam dialog(sebagai inisiatif kemasyarakatan), studi pribadi mengenai pengetahuan tradisional, bimbingan teknis ke dalam proses pembelajaran. Para guru mengolah interaksi kelas( in class), luar kelas( out class), lintas kurikulum dengan menggunakan modul ini dengan dasar kompetensi kelas VIII. Para guru/pengajar menyelenggarakan kegiatan kreatif tertentu sebagai inisiatif kemasyarakatan mengenai pengetahuan tradisional. xxvi Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Kelas IX Kompetensi Kompetensi Inti Memahami pengetahuan(faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata Kompetensi Dasar Menelaah struktur dan ciri dan aspek kebahasaan; Mengidentifikasi informasi yang bersifat diskusi/pertukaran pikiran Uraian dalam“Pengetahuan Tradisional”(Untuk Para Guru/ Pengajar) Para guru/pengajar mengambil pengalaman dalam dialog(sebagai inisiatif kemasyarakatan), studi pribadi mengenai pengetahuan tradisional, bimbingan teknis sebagai bahan ke dalam pembelajaran. Para guru menggunakan modul ini untuk membuat rencana pembelajaran mengenai pengetahuan tradisional dengan dasar kompetensi kelas IX. Para guru/pengajar aktif dalam inisiatif kemasyarakatan dan menuangkan karya kreatif mengenai pengetahuan tradisional. Kompetensi Inti Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret(menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori Kompetensi Dasar “Menutur”, mengungkapkan pengalaman dan gagasan, menyimpulkan suatu diskusi/pertukaran pikiran Para guru/pengajar mengolah pengalaman dalam dialog(sebagai inisiatif kemasyarakatan), studi pribadi mengenai pengetahuan tradisional, bimbingan teknis ke dalam proses pembelajaran. Para guru mengolah interaksi kelas( in class), luar kelas( out class), lintas kurikulum dengan menggunakan modul ini dengan dasar kompetensi kelas IX. Para guru/pengajar menyelenggarakan kegiatan kreatif tertentu sebagai inisiatif kemasyarakatan mengenai pengetahuan tradisional. Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional xxvii I. Karya Kreatif Para guru/pengajar mengambil peran dalam kehidupan publik (sebagaimana juga dirumuskan dalam Indeks Pembangunan Pemuda). Modul ini dapat digunakan sebagai proses kreatif dalam“pengetahuan tradisional” berwujud karya kreatif. Karya kreatif ini dapat berwujud; Publikasi tertulis(berupa buku, tutorial, inventarisasi) yang disusun secara kreatif, komunikatif, dan dipahami oleh kelompok yang menjadi sasaran. Publikasi dalam ruang media sosial. Pengetahuan tradisional membutuhkan“kekinian”, sesuatu yang interaktif, dan yang dapat dicerna di ruang komunikasi berbasis internet atau mobility. Kegiatan atau peristiwa budaya yang direncanakan dan diupayakan secara khusus bersama dengan komunitas. Proses ini membutuhkan dialog dengan komunitas-komunitas budaya. Bagi dunia pendidikan, proses ini dapat membangun kepekaan manusia terhadap manusia yang lain. Jika dimungkinkan, proses ini dapat berupa proses berkala. Bimbingan teknis yang mengolah baik muatan kurikulum maupun kegiatan/proses budaya ke dalam penguatan pembelajaran berbasis kurikulum. Proses-proses kreatif ini dapat dituangkan dalam hal: - Produk(karya publik): Publikasi tertulis(berupa buku, tutorial, inventarisasi) yang disusun secara kreatif dan komunikatif; publikasi dalam ruang media xxviii Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional sosial. Pengetahuan tradisional membutuhkan“kekinian”, sesuatu yang interaktif, dan yang dapat dicerna di ruang komunikasi berbasis internet atau mobility. - Recycle(daur ulang): Karya-karya yang sudah pernah ada(baik baru saja maupun yang sudah lama) diolah kembali ke dalam produk terkini. Misalnya, publikasi mengenai peristiwa budaya yang tidak lagi dibahas kemudian diolah secara sederhana tetapi kreatif ke dalam materi pembelajaran pada situasi sekarang. Biasanya produk media berbasis media sosial menjadi pilihan. - Co-works/co-creation: Upaya bersama yang terencana dan terorgansir. Proses ini, sebagai contoh, ada dalam bentuk penyusunan kegiatan/peristiwa budaya yang bersifat komunitas atau publik. Jika mungkin, proses ini juga dapat memunculkan dokumentasi. - Platforming: Upaya memasukkan materi(inventarisasi) ke dalam media berbasis internet; disistematisasi sedemikian rupa sehingga menjadi interaktif. - Rekontemporisasi: Upaya untuk membahas kembali materi yang sudah lama ke dalam kajian khusus atau ke dalam proses intra-kurikulum. Contoh dalam hal ini misalnya pelibatan dunia akademi dalam membangun kajian mengenai pengetahuan tradisional tertentu. Kajian khusus ini akan menghasilkan kebaruan dalam materi terkait. Proses ini membutuhkan diskusi dan dialog. Modul ini dapat menjadi titik awal dalam diskusi dan dialog tersebut. Tutorial dapat diselenggarakan untuk mendukung proses ini. Tutorial ini oleh penyusun modul dimaksudkan untuk melakukan pendalaman terhadap materi mengenai“pengetahuan tradisional” dan proses menuju produk kreatif. Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional xxix PENGGUNAAN MODUL DAN PENILAIAN A. Cara Penggunaan Modul Modul lokalitas dan pengetahuan tradisional ditujukan untuk guruguru Sekolah Menengah Pertama(SMP) Kelas IX agar disampaikan kepada peserta didik melalui pembelajaran. Modul ini dapat digunakan sebagai pembelajaran dalam bentuk muatan lokal atau dapat pula digunakan sebagai pengayaan materi. Dalam konteks muatan lokal, pada pelaksanaannya setiap guru dapat memilih beberapa materi dari 21 materi yang terdapat pada modul ini. Yang paling penting setiap materi yang dipilih hendaknya memiliki korelasi dengan lokalitas masyarakat setempat. Sehingga materi yang disampaikan bisa lebih mudah dipahami oleh peserta didik. Kalaupun materi-materi yang terdapat dalam modul ini dirasa tidak berkorelasi dengan lokalitas masyarakat di mana sekolah berada, guru bisa memilih materi-materi dalam modul ini yang dianggap memiliki nilai signifikan dalam pembelajaran. Karena berbagai materi yang disajikan dalam modul ini tidak sekedar berisi tentang pengetahuan tradisi dan budaya lokal suatu masyarakat setempat, tetapi di dalamnya dibahas pula nilai-nilai karakter yang terdapat dari budaya lokal masyarakat setempat itu. Dalam konteks pendidikan, nilai-nilai karakter tidak hanya dapat dipelajari dari mata pelajaran-mata pelajaran yang bersifat formal, tetapi juga dari materi muatan lokal juga materi yang bersifat pengayaan. Maka tidak keliru bila dikatakan materi-materi yang ada dalam modul ini pun dapat dijadikan pembelajaran untuk membangun nilai-nilai karakter peserta didik. Materi-materi dalam modul ini pun bisa dijadikan guru sebagai pengayaan, yaitu dengan cara mengintegrasikan kepada mata pelajaran yang ada di sekolah, seperti mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan(PKn), Ilmu Pengetahuan Sosial(IPS), Ilmu Pengetahuan Alam(IPA) dan sebagainya. Adapun langkah-langkah yang patut dilakukan oleh guru dalam mengoperasionalisasikan modul ini adalah sebagai berikut: xxx Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 1. guru mesti membaca modul ini secara keseluruhan, sehingga mengetahui alur yang terdapat dalam modul ini. 2. membangun pemahaman yang baik, setiap guru diharapkan tidak hanya sekali membaca modul ini, tetapi dapat dilakukan berulang kali. 3. Setiap bagian mesti dibaca secara cermat. 4. membantu memahami materi dari modul ini, guru perlu menemukan/menentukan kata kunci yang terdapat dalam materimateri modul. 5. meningkatkan pemahaman atas materi-materi dalam modul hendaknya diskusikan materi-materi tersebut dengan teman sejawat. 6. latihan pembelajaran dari soal-soal yang ada di dalam setiap materi modul. 7. evaluasi atas jawaban yang diberikan dari latihan pembelajaran sampai benar-benar mampu menjawab hasil pembelajaran secara tepat atau sesuai dengan soal-soal yang disajikan. B. Penilaian Modul Model penilaian dalam modul ini disesuaikan dengan latihan pembelajaran. Bila peserta mampu menjawab seluruh latihan pembelajaran, maka nilai yang didapatkannya masuk dalam kategori Baik Sekali(BS). Jika jawaban dari latihan pembelajaran terdapat satu sampai dua kesalahan, maka nilai yang didapatkan masuk dalam kategori Baik(B). Bila jawaban dari latihan pembelajaran memiliki kesalahan lebih dari dua, maka penilaiannya adalah Cukup(C). Jika seluruh jawaban yang diberikan salah, maka nilainya adalah Buruk(D). Secara hierarki bentuk penilaiannya adalah sebagai berikut: A= Baik Sekali B= Baik C= Cukup D= Buruk Meskipun hasil penilaian disesuaikan dengan latihan pembelajaran, namun penilaian yang diberikan pun tidak boleh menafikan sisi yang Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional xxxi lainnya, seperti aspek sikap dan aspek keterampilan. Penilaian semacam ini tentu sangat berkorelasi dengan indikator pencapaian kompetensi atau capaian pembelajaran. Dalam konteks pembelajaran di sekolah, model penilaian semacam ini seirama dengan semangat Kurikulum K-13. Di sisi lain, penilaian mesti diberikan secara objektif tidak diberikan atas dasar unsur perasaan. Karena itu jawaban yang dianggap benar adalah jawaban yang sesuai dengan pertanyaan pada latihan pembelajaran. Dengan demikian, jawaban yang tidak sesuai dengan pertanyaan mesti dinyatakan sebagai jawaban yang salah/ keliru. Objektivitas dalam penilaian sangat berpengaruh mengukur kemampuan peserta didik dalam memahami berbagai materi tradisi lokal yang diberikan. xxxii Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 1 MATERI 1 Tradisi Andilan 2 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Tema Kelas Alokasi Waktu Metode Pembelajaran Media Belajar Sumber Belajar : Andilan dalam Masyarakat Betawi : 3 SMP : 1 JPL(45 Menit) : Ceramah, Diskusi, dan Tanya Jawab : Projector, Gambar/Video Tradisi Andilan : Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Kompetensi Dasar - dan mengenal tradisi Andilan sebagai bagian dari tradisi masyarakat Betawi Indikator Pencapaian Kompetensi/Capaian Pembelajaran - Pengetahuan Memahami pentingnya keberadaan tradisi Andilan bagi masyarakat betawi - Sikap Menghargai dan menghormati tradisi Andilan yang merupakan bagian dari tradisi masyarakat betawi - Keterampilan Mampu mempraktikkan nilai-nilai penting yang terdapat dalam tradisi Andilan di kehidupan keseharian, seperti kebersamaan, gotong royong dan kepedulian. Tujuan Pembelajaran - dapat menjelaskan tradisi Andilan dalam tradisi masyarakat Betawi - dapat mempraktikkan nilai-nilai penting yang terdapat dalam tradisi Andilan Materi Pembelajaran Masyarakat Betawi dikenal sebagai masyarakat asli Jakarta. Nama Betawi sendiri berasal dari Batavia, sebuah nama yang diberikan oleh Belanda ketika masa penjajahan dulu. Masyarakat Betawi memiliki latar belakang sejarah dengan rentang cukup panjang, keberadaannya telah ada lebih dari 400 tahun lalu. Mereka diduga merupakan salah Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 3 satu suku yang paling akhir terbentuk di antara suku-suku pribumi lainnya yang ada di Nusantara. Saat ini keberadaan masyarakat Betawi telah terpinggirkan dari kota asalnya, Jakarta. Mereka lebih banyak tinggal dipinggiran kota tersebut, seperti di Tangerang, Depok dan Bekasi. Kondisi ini tidak lepas dari banyaknya pendatang yang ada di kota Jakarta, yang oleh para pendatang kota Jakarta dianggap sebagai kota yang tepat untuk meningkatkan kualitas hidup, khususnya dalam bidang ekonomi. Sebagai masyarakat yang telah lama mendiami Nusantara, masyarakat Betawi dikenal sebagai yang memiliki banyak tradisi, seperti tradisi palang pintu, topeng betawi, andilan dan tradisi-tradisi lainnya. Tradisi-tradisi ini pun keberadaannya persis seperti kondisi masyarakatnya, mulai terpinggirkan, jarang dipraktikkan, bahkan tidak sedikit masyarakat Betawi yang tidak mengenali tradisi-tradisi itu, tak terkecuali tradisi Andilan. Tradisi Andilan merupakan tradisi turun menurun yang diwariskan oleh masyarakat Betawi. Andilan dalam bahasa Betawi memiliki arti patungan. Di mana pada tradisi ini, masyarakat Betawi di suatu daerah melakukan patungan untuk membeli kerbau(kebo) sebelum bulan ramadhan, yang nantinya akan disembelih dua atau satu hari menjelang lebaran. Uang patungan ini didapat dari iuran bulanan atau mingguan yang dilakukan saat pertemuan atau pengajian. Sebelum disembelih menjelang lebaran, kerbau itu dipelihara oleh salah seorang masyarakat Betawi yang diberikan kepercayaan terhadapnya. Seseorang yang dipercaya untuk memelihara kerbau itu, patut merawatnya secara baik, tidak hanya sekedar memberikan makan dan minum, tetapi juga harus memperhatikan kesehatannya. Nantinya ketika disembelih, si pemelihara( tukang piare) akan mendapatkan bagian khusus dari kerbau tersebut, seperti kepala atau kulitnya. Waktu penyembelihan dilakukan di malam hari sebelum lebaran. Pada acara penyembelihan ini para orang tua akan mengajak anakanaknya untuk melihat kerbau menangis sambil mengelus-elus dan mendoakan kerbau agar tidak mengamuk ketika hendak disembelih. Setelah itu, daging kerbau yang disembelih dibagikan kepada masyarakat sekitar untuk dimasak dan dijadikan hidangan/lauk pauk pada hari lebaran, umumnya bentuk hidangan itu berupa semur. Cara memasaknya pun terbilang unik, karena melibatkan seluruh unsur masyarakat, tidak hanya kaum wanita, melainkan juga kaum pria. 4 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Kaum pria bertugas untuk membersihkan daging, sementara kaum wanita bertugas untuk memasak dan menyiapkan kayu bakar. Setelah daging kerbau selesai di masak menjadi semur, kemudian daging itu dibagikan ke tetangga sekitar juga kepada kerabat. Semur sendiri yang dimasak dengan menggunakan kecap dan beberapa rempah, secara historis merupakan makanan silang budaya, cara memasaknya berasal dari Cina peranakan dan penamaannya berasal dari Belanda. Kemudian pada masyarakat Betawi masakan ini dijadikan menu utama lebaran dan telah menjadi ciri khasnya. Tidak heran, semur daging selalu menjadi makanan utama pendamping ketupat bagi masyarakat Betawi ketika lebaran, baik di masa lalu maupun saat ini. Menurut tradisi lisan masyarakat Betawi, tradisi memotong kerbau Andilan berasal dari kebudayaan agraris(kebudayaan yang menjadikan pertanian sebagai mata pencaharian pokok) Betawi pra-Islam yang disebut sebagai asung dasar atau mengirim makanan untuk roh leluhur. Tetapi, karena senafas dengan lebaran/idul fitri yang hakikatnya merupakan perayaan kembali ke fitrah, semua aktivitas kultural yang sifatnya menghargai cikal bakal, seperti menghormati leluhur, dijadikan bagian dari tradisi Islam Betawi. Karena itu, pemaknaan tradisi Andilan yang awalnya dilakukan sebagai cara untuk mengirim makanan kepada roh leluhur, bentuk pemaknaannya berubah sebagai ucapan syukur kepada Yang Maha Kuasa. Tradisi Andilan sampai sekarang masih dipraktikkan oleh masyarakat Betawi yang hidup dipinggiran Jakarta, seperti Tangerang, Bekasi, Serengseng Sawah dan Depok. Untuk masyarakat Betawi yang mendiami Jakarta, tradisi ini nampak sudah tidak terlihat. Hal ini dikarenakan kondisi Jakarta tempo dulu dengan saat ini jauh berbeda. Jika dulu Jakarta masih memiliki banyak persawahan, saat ini kondisinya sangat jauh berbeda. Karena, keberadaan persawahan tempo dulu, telah digantikan dengan gedung-gedung bertingkat. Dalam tradisi Andilan, persawahan adalah salah satu kunci yang menjadikan tradisi ini dapat tetap terjaga. Kerbau sebagai hewan yang akan dipelihara tentu akan sulit hidup tanpa adanya persawahan. Tradisi Andilan yang dilakukan oleh masyarakat Betawi bukan merupakan tradisi yang tanpa makna, di dalamnya terkandung nilai yang dapat diambil pelajaran. Setidaknya, terdapat tiga nilai yang dapat dipelajari dari tradisi Andilan; pertama, kerjasama. Wujud konkret kerja Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 5 sama terlihat, ketika masyarakat Betawi di suatu kampung tertentu melakukan patungan( Andilan) untuk membeli kerbau dan memberikan kepercayaan kepada si pemelihara untuk merawatnya. Kedua, gotong royong. Nilai gotong royong dalam tradisi Andilan dapat dilihat dari praktik memasak daging kerbau, di mana semua orang memiliki kontribusi dalam memasaknya, tidak hanya kelompok perempuan, tetapi juga kelompok laki-laki. Ketiga, kepedulian. Nilai kepedulian tidak bisa dilepaskan dari tradisi Andilan, karena nilai ini nampak pada praktik pembagian daging yang telah dimasak menjadi semur kepada tetangga sekitar maupun kepada kerabat. Tidak sekedar ketiga nilai di atas, tradisi Andilan juga lekat dengan makna pentingnya keberadaan ruang terbuka hijau. Melalui keberadaan ruang ini, ekosistem dapat lebih mudah terjaga. Kerbau yang menjadi binatang sembelihan pada tradisi Andilan tidak akan hilang di kota Jakarta selama ruang-ruang terbuka hijau terhampar luas. Karena tradisi andilan berkorelasi dengan ruang terbuka hijau, keberadaannya sangat bergantung dari sejauh mana manusia mampu menjaga keberadaan ruang-ruang tersebut. Semakin mampu manusia menjaganya, semakin dapat terjaga tradisi itu. Tradisi Andilan mengingatkan kepada setiap masyarakat Indonesia, tidak hanya masyarakat Betawi, untuk menjaga dan mengejawantahkan nilai-nilai kerja sama, gotong royong, kepedulian dan cinta kepada alam pada setiap aspek kehidupan. Di sisi lain, nilainilai ini tidak hanya berguna dalam rangka meneguhkan persatuan dan kesatuan bagi masyarakat Indonesia, tetapi mengingatkan tentang pentingnya untuk bersikap bijak kepada alam. Dengan demikian, tradisi Andilan pada masyarakat Betawi hadir tidak sekadar untuk menguatkan sisi kemanusiaan semata, tetapi juga membangun kesadaran untuk cinta kepada alam. Meskipun manusia merupakan makhluk yang diberikan tanggung jawab oleh Tuhan untuk mengelola alam, hendaknya pengelolaan itu tidak dilakukan tanpa memperhatikan kehidupan ekosistem lainnya. Terlebih ekosistem itu memiliki kaitan erat dengan tradisi masyarakat yang ada, pada konteks tradisi Andilan ekosistem itu berupa kerbau dan persawahan. Tradisi Andilan yang merupakan bagian penting pada masyarakat Betawi, jika disederhanakan bermuara pada tiga unsur, yaitu unsur ketuhanan, unsur kemanusiaan dan unsur pelestarian alam. Semua itu, terjalin dalam pesan universalitas agama. Sebuah pesan 6 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional yang mengharuskan manusia beragama untuk menjunjung tinggi dan mengaktualisasikan pesan-pesan agama yang terbalut dalam ketiga unsur tersebut. Sebagai tradisi yang mengandung pesan universalitas agama, tradisi Andilan patut untuk dijaga, dilestarikan dan diajarkan secara terus menerus pada generasi-generasi masyarakat Betawi berikutnya. Rangkuman Materi Tradisi Andilan merupakan tradisi turun menurun yang diwariskan oleh masyarakat Betawi. Andilan dalam bahasa Betawi memiliki arti patungan. Di mana pada tradisi ini, masyarakat Betawi di suatu daerah melakukan patungan untuk membeli kerbau(kebo) sebelum bulan ramadhan, yang nantinya akan disembelih dua atau satu hari menjelang lebaran. Uang patungan ini didapat dari iuran bulanan atau mingguan yang dilakukan saat pertemuan atau pengajian. Tradisi Andilan yang dilakukan oleh masyarakat Betawi bukan merupakan tradisi yang tanpa makna, di dalamnya terkandung nilai yang dapat diambil pelajaran. Setidaknya, terdapat tiga nilai yang dapat dipelajari dari tradisi Andilan; pertama, kerjasama. Kedua, gotong royong. Ketiga, kepedulian. Tradisi Andilan juga lekat dengan makna pentingnya keberadaan ruang terbuka hijau. Tradisi Andilan mengingatkan kepada setiap masyarakat Indonesia, tidak hanya masyarakat Betawi, untuk menjaga dan mengejahwantahkan nilai-nilai kerjasama, gotong royong, kepedulian dan cinta kepada alam pada setiap aspek kehidupan. Latihan Pembelajaran 1. Apa yang dimaksud dengan Tradisi Andilan? 2. Nilai-nilai apa saja yang terdapat dalam Tradisi Andilan? 3. daerah mana Tradisi Andilan berasal dan bagaimana cara praktiknya? 4. Mengapa Tradisi Andilan sudah jarang dipraktikkan di kota Jakarta? 5. Sebutkan unsur-unsur yang terdapat pada tradisi Andilan? Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 7 MATERI 2 Tenun Songket Silungkang 8 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Tema Kelas Alokasi Waktu Metode Pembelajaran Penugasan Media Belajar Sumber Belajar : Tenun Songket Silungkang : 3 SMP : 1 JPL(45 Menit) : Ceramah, Diskusi, Tanya Jawab dan : Projector, Gambar/Video Pembuatan Songket Silungkang : Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Kompetensi Dasar - dan mengenal tenun songket Silungkang sebagai bagian dari tradisi masyarakat Silungkang Indikator Pencapaian Kompetensi/Capaian Pembelajaran - Pengetahuan Memahami pentingnya keberadaan tenun songket Silungkang pada masyarakat Silungkang - Sikap Menghargai tenun songket Silungkang sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Silungkang - Keterampilan Mampu mempraktikkan nilai-nilai simbolik dari ragam hias songket Silungkang pucuak rabuang, seperti kemanfaatan, kekuatan, dan keteladanan. Tujuan Pembelajaran - dapat menjelaskan songket Silungkang sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Silungkang - dapat mempraktikkan nilai-nilai simbolik dari ragam hias songket Silungkang pucuak rabuang. Materi Pembelajaran Songket merupakan salah satu produk tekstil tradisional yang dapat ditemukan di banyak daerah di Indonesia. Masing-masing daerah memiliki ciri khas dalam teknik produksi dan ragam hias tenun songket. Ciri khas ini menjadi identitas budaya dari masing-masing sentra kerajinan tenun songket. Salah satu sentra kerajinan tenun Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 9 songket yang terkenal dengan kekhasan motifnya adalah Silungkang. Silungkang adalah sebuah kecamatan di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat. Kecamatan ini memiliki luas 32,93 km2, dengan populasi 11.359 jiwa pada tahun 2019, terdiri dari perempuan sebanyak 5.657 jiwa dan laki-laki 5.702 jiwa. Mereka bermukim di lima nagari atau desa, yakni Desa Silungkang Oso, Desa Taratak Boncah, Desa Muaro Kalaban, Desa Silungkang Tigo, dan Desa Silungkang Duo. Sejarah Songket Silungkang bermula dari abad ke-19, ketika para pedagang Silungkang membawa hasil pertaniannya ke daerah Pahang, Malaysia. Sewaktu pulang kembali ke Silungkang, mereka membawa tenunan-tenunan indah berupa kain songket Malaysia. Terdorong untuk mencari keuntungan yang lebih besar, lama kelamaan para pedagang Silungkang tertarik untuk mengerjakan sendiri kain songket tersebut. Lalu mereka mempelajari proses pembuatan songket, mulai dari alat tenun, benang, konstruksi tenunan dan proses pewarnaan. Maka jadilah Silungkang sentra kerajinan tenun songket di Minangkabau. Daerah-daerah lain kemudian mengikuti jejak masyarakat Silungkang. Akhirnya daerah Pandai Sikek dan Kubang mulai pula mengembangkan kerajinan tenun songket, dengan karakter ragam hias yang berlainan. Menenun songket telah dikerjakan secara turun-temurun oleh penduduk Silungkang. Songket Silungkang pada awalnya dikerjakan secara manual oleh tangan dengan menggunakan alat tenun tradisional yang disebut“gedogan”. Seiring perjalanan waktu, para penenun Silungkang mulai menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) dan kemudian menggunakan Alat Tenun Mesin(ATM). Namun sampai saat ini kebanyakan penenun Silungkang masih menggunakan ATBM yang merupakan modifikasi dari alat tenun tradisional. Cara menenun songket Silungkang terdiri dari dua tahap, yaitu menenun kain dasar dengan konstruksi tenunan rata atau polos dan menenun ragam hias yang merupakan bagian tambahan. Tenunan dasar yang merupakan konstruksi anyaman polos atau datar diperoleh dengan cara mengangkat dan menurunkan benang bergantian dengan irama 1-2 atau 1-3. Benang yang digunakan kebanyakan dari bahan serat kapas atau benang sutra. Tenunan latar biasanya berwarna merah tua, hijau tua, atau biru tua. Sebelum dicelup dengan bahan pewarna kimia, bahan benang putih itu harus dibersihkan dulu dari kotoran dan unsur-unsur lain yang akan menghalangi masuknya zat pewarna pada waktu proses pencelupan. Ini membuktikan bahwa 10 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional pengrajin tenun Silungkang telah mengenal cara-cara modern dalam proses pemutihan bahan barang tenun. Jika proses pemutihan telah selesai, maka benang itu dibagi-bagi menjadi beberapa bagian yang kemudian dicelup dengan warna yang diperlukan. Setelah tenunan latar selesai, tahap selanjutnya adalah menenun ragam hias dengan benang tambahan. Benang tambahan terdiri dari dua macam, yaitu benang lungsi dan benang pakan. Benang lungsi adalah benang yang disusun secara vertikal yang akan menjadi panjang kain. Benang pakan adalah benang yang disusun secara horizontal yang akan menjadi lebar kain. Benang tambahan itu berbeda warna, ukuran dan bahan seratnya. Perbedaan inilah yang menyebabkan ragam hias terlihat menonjol dan dapat segera terlihat karena berbeda dengan tenunan latarnya. Untuk benang lungsi, pada umumnya digunakan warna merah tua atau merah vermilion yang menyala. Sedangkan untuk benang pakan biasanya menggunakan warna merah dan warnawarna lainnya seperti kuning, hijau muda, hijau tua, biru dan putih. Maksud dari warna-warna itu untuk membentuk motif atau ragam hias. Ragam hias tenun Silungkang diciptakan dengan teknik menenun, yang dikenal dengan teknik pakan tambahan atau supplementary weft. Cara mengangkat mulut lungsi diatur oleh lidi-lidi. Makin banyak jumlah lidi, makin rumit dan kaya ragam hias tenun songketnya. Keterampilan para penenun songket Silungkang ini sangat mengagumkan karena mampu menenun dengan menggunakan 400 lidi dan menghasilkan tenunan hampir tanpa kesalahan. Secara umum, terdapat dua macam kain tenun songket di Silungkang yaitu:(1) Kain songket dengan ragam hias yang dibentuk oleh benang emas sebagai pakan tambahan; dan(2) Kain songket dengan ragam hias yang dibentuk oleh benang yang warnanya berbeda dari warna dasar atau warna latar. Kain songket jenis kedua, yang motifnya tidak dibuat dengan benang emas, dibuat untuk memenuhi pasaran yang lebih luas. Pemakaiannya tidak hanya untuk busana tradisional, tetapi juga untuk bahan kemeja, selendang, taplak meja dan hiasan dinding. Sedangkan kain songket yang motifnya dibuat dengan benang emas pemasarannya relatif terbatas karena harganya mahal dan seringkali hanya digunakan untuk pakaian adat atau busana tradisional. Ragam hias tenun Silungkang biasanya menggunakan nama-nama dan sifat-sifat dari alam seperti tumbuhan, binatang atau bendabenda. Hal ini kemungkinan terkait erat dengan pepatah Minangkabau Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 11 yang terkenal, yaitu“ alam takambang jadi guru”(alam yang maha luas ini dapat dijadikan guru atau contoh). Kekayaan alam Minangkabau dan seni budayanya sangat mempengaruhi terciptanya berbagai ragam hias dengan pola-pola yang mengagumkan. Sekalipun ragam hiasnya tercipta dari alat yang sederhana dan proses kerja yang terbatas, namun tenunannya merupakan karya seni yang amat tinggi nilainya. Jadi Songket Silungkang bukan sekedar kain, melainkan telah menjadi suatu bentuk seni rupa, diproses dengan kecintaan dan diangkat dari imajinasi penciptaan yang ramah terhadap lingkungan alam. Beberapa nama ragam hias songket Silungkang antara lain adalah Pucuak Rabuang, Pucuak Ranggo Patai, Pucuak Jawa, Pucuak Kelapa, Kudo-kudo, Tigo Baleh, Kain Balapak Gadang, Bungo Malur, Bungo Kunyik, Bungo Tanjung, Bungo Ambacang, Kaluak Paku, Barantai, Sisiak, Bada Mudiak, Saluak Laka, Buah Palo Bapatah, Tirai Pucuk Jagung, Balah Kacang, Sirangkak, Itiak Pulang Patang, Buruang Merak dan sebagainya. Selain bersifat menghias, ragam hias songket Silungkang memiliki nilai dan makna simbolik yang mendalam. Contohnya adalah ragam hias pucuak rabuang, salah satu motif yang paling populer dan menjadi ciri khas songket Silungkang. Motif ini melambangkan kemanfaatan, kekuatan, dan suri tauladan. Rebung ini dikiaskan sebagai tumbuhan yang sejak kecil sudah berguna bagi masyarakat. Sewaktu rebung masih kecil dapat digunakan untuk bahan sayuran. Ketika rebung telah tumbuh besar menjadi bambu, ia dapat digunakan sebagai bahan bangunan dan lainnya. Ungkapan adat yang mencerminkan motif ragam hias ini adalah“Muda berguna, tua terpakai.” Maka siapa yang memakai motif ini diharapkan akan berguna bagi masyarakat. Rangkuman Kerajinan tenun songket Silungkang merupakan warisan budaya dan pengetahuan tradisional masyarakat Minangkabau secara khusus dan masyarakat Indonesia secara umum. Tenun songket Silungkang memiliki kekhasan dalam teknik produksi dan ragam hias. Tradisi tenun songket tersebut patut dilestarikan di tengah laju perkembangan teknologi industri tekstil yang dapat menyebabkan teknik tenun tradisional mengalami perubahan cepat sehingga kita kehilangan salah satu teknik tenun tradisional yang membanggakan. 12 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Latihan Pembelajaran 1. Jelaskan sejarah awal mula songket Silungkang? 2. Jelaskan dua cara menenun songket Silungkang? 3. umum, terdapat dua macam kain tenun songket di Silungkang, sebutkan? 4. Sebutkan minimal 5 nama ragam hias songket Silungkang? 5. makna dari ragam hias pucuak rabuang pada songket Silungkang? Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 13 MATERI 3 Falsafah Hidup Ulun Lampung 14 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Tema Kelas Alokasi Waktu Metode Pembelajaran Media Belajar Sumber Belajar : Piil Pesenggiri dan Harga Diri Ulun Lampung : 3 SMP : 1 JPL(45 Menit) : Ceramah, Diskusi, dan Penugasan : Projector, Slide Powerpoint, Kertas HVS : Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Kompetensi Dasar - Piil Pesenggiri sebagai falsafah hidup ulun Lampung Indikator Pencapaian Kompetensi/Capaian Pembelajaran - Pengetahuan 1. Mengetahui unsur-unsur dalam Piil Pesenggiri 2. Pentingnya Piil Pesenggiri sebagai identitas ulun Lampung - Sikap 1. semangat hidup pantang menyerah dalam meraih prestasi ( Juluk Adek) 2. yang lain dan suka saling memberi( Nemui Nyimah) 3. dalam pergaulan dan suka bermusyarah( Nengah Nyappur) 4. kerelaan dalam tolong menolong dan gotong-royong( Sakai Sambayan) - Keterampilan 1. mampu merumuskan dan menuliskan citra diri ideal yang ingin diwujudkan dalam bentuk prestasi dan karakter terpuji sebagai bentuk harga diri(kehormatan) Tujuan Pembelajaran - belajar dapat menyebutkan dan menjelaskan unsur-unsur Piil Pesenggiri - belajar dapat menjelaskan kaitan Piil Pesenggiri dengan motivasi berprestasi Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 15 Materi Pembelajaran Hadikusuma, dalam bukunya Masyarakat dan Adat Budaya Lampung, menyebutkan bahwa Piil Pesenggiri adalah nilai dasar yang menjadi falsafah hidup ulun Lampung. Nilai dasar tersebut terejawantah dalam perilaku dan interaksi ulun Lampung dalam keseharian, baik dengan sesama ulun Lampung, maupun terhadap suku-suku lain yang ada di Lampung. Piil Pesenggiri juga sering dimaknai sebagai tanda atau simbol harga diri bagi ulun Lampung. Piil Pesenggiri memiliki empat unsur yang semua unsurnya disebutkan berpasangan, yaitu pertama, Juluk Adek, memiliki arti menyukai nama baik dan gelar yang terhormat. Kedua, Nemui Nyimah, bermakna suka menerima dan memberi dalam suasana suka dan duka. Ketiga, Nengah Nyappur, mengandung arti suka bergaul dan bermusyawarah dalam menyelesaikan suatu masalah. Dan terakhir, Sakai Sambayan, yang berarti suka menolong dan bergotong royong dalam hubungan kekerabatan dan kemasyarakatan. Piil Pesenggiri, menurut Hilma Hadikusuma, S.H. dan Rizani Puspa Wijaya, S.H. lebih lengkap tergambar dari kalimat berikut ini: “Tando nou ulun Lappung, wat Pi’il Pesenggiri, you balak pi’il ngemik malou ngigau diri. Ulah nou bejuluk you beadek, iling mewari ngejuk ngakuk nemui nyimah ulah nou pandai you nengah you nyappur, nyubadi jejamou, begawiy balak, sakai sambayan.” Artinya: Tandanya orang Lampung, ada Piil Pesenggiri, ia berjiwa besar, mempunyai malu, menghargai diri. Karena lebih bernama besar dan bergelar. Suka bersaudara, beri memberi terbuka tangan. Karena pandai, ia ramah suka bergaul. Mengolah bersama pekerjaan besar dengan tolong-menolong. Piil Pesenggiri merupakan cerminan harga diri bagi ulun Lampung. Seseorang yang meneggakkannya dalam kehidupan berarti telah menjaga dan meninggikan harga dirinya. Piil artinya rasa malu(harga diri), sedangkan Pesenggiri bermakna pantang mundur. Harga diri yang dimaksud tentu dalam pengertian yang positif, bahwa ulun Lampung disebut memiliki harga diri jika selalu menjaga nama baik, suka menolong, pandai bergaul, dan senantiasa tolong-menolong dalam segala urusan, sebagaimana yang terdapat dalam empat unsur Piil Pesenggiri. Namun, seringkali pemaknaan harga diri bagi ulun Lampung dipadankan dengan kata gengsi yang cenderung berkonotasi negatif 16 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional dan sempit. Pun, kekeliruan ini akhirnya memberi kesan bahwa Piil Pesenggiri dimaknai hanya sebagai privilese, bahwa seseorang itu memiliki keistimewaan lebih dari yang lain, untuk itu harus dihargai dan ditinggikan. Pemahaman harga diri yang salah kaprah itulah yang tampaknya menjadi musabab munculnya sikap gengsi yang justru bertentangan dengan semangat Piil Pesenggiri. Sejatinya, Piil Pesenggiri merupakan semangat ulun Lampung untuk menorehkan prestasi, sehingga dengan sendirinya prestise akan mengikutinya. Seseorang yang menjalankan Piil Pesenggiri akan memotivasi dirinya untuk berprestasi dan menghadirkan manfaat seluas-luasnya bagi keluarga dan masyarakat. Pencapaian prestasi dan kebermanfaatan itulah yang menjadi cerminan harga diri ulun Lampung. Sebuah cerita mengenai pengamalan Piil Pesenggiri di kalangan masyarakat Abung di masa lalu, menjadi salah satu gambaran gigihnya ulun Lampung untuk merubah dirinya menjadi lebih baik(berprestasi). Ketika ulun Lampung merasa malu pada orang sekampung, merasa tersingkir dari pergaulan adat karena dianggap rendah. Prinsip harga diri membuatnya berpikir‘mengapa orang bisa bernilai, kenapa aku tidak bisa bernilai’. Ulun Lampung dari pada menanggung malu, memilih menyingkir ke dalam hutan. bekerja keras membuka lahan, membuat ladang untuk menanam lada. Setelah sepuluh tahun kemudian pulang ke kampung dengan segala kebanggaan mengundang sanak kerabat dan para pemuka adat mengadakan begawei cakak pepadun, sehingga anakanaknya berjuluk atau bergelar kecil dan ber- adek, bergelar adat, misalnya dengan gelar“ Sutan Selibar Jagad”. Juluk Adek(gelar), dalam adat Lampung diberikan melalui sebuah proses upacara adat( begawei cakak pepadun) yang dimaksudkan sebagai pemberitahuan kepada keluarga dan masyarakat secara umum bahwa seseorang sudah memiliki gelar. Upacara ini tak jarang membutuhkan dana yang cukup besar, sehingga ulun Lampung harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mewujudkannya, salah satunya dengan gigih bekerja, sebagaimana tercermin dalam cerita masyarakat Abung tempo dulu. Secara filosofis, Juluk Adek berkaitan dengan ikhtiar dan keberhasilan seseorang. Artinya, ulun Lampung yang mengamalkan Piil Pesenggiri haruslah memiliki semangat bekerja keras untuk Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 17 memperoleh keberhasilan dalam hidupnya. Sehingga seseorang itu pantas menyandang Adek(gelar) setelah dengan ikhtiar dan kesungguhannya mewujudkan cita-citanya sebagaimana tercermin dalam Juluk(nama panggilan kecilnya). Nama kecil( Juluk) diberikan kepada seseorang ketika remaja. Juluk merupakan gambaran ideal dirinya yang ingin dicapai di masa depan. Dengan cita-cita dan harapan yang tercermin dalam nama kecil itu ( Juluk), dia akan bekerja keras mewujudkannya sehingga mencapai keberhasilan. Maka ketika seseorang sampai pada keberhasilan, pantaslah ia mendapat sebuah gelar( Adek). Dalam semangat kerja keras untuk memperoleh keberhasilan dan kebermanfaatan itulah ulun Lampung percaya akan memperoleh harga diri(kehormatan). Juluk Adek meniscayakan setiap pribadi ulun Lampung untuk mengikhtiarkan dan selalu menjaga prestasinya. Maka ulun Lampung yang memiliki Juluk Adek secara ideal akan menjadi pribadi yang dinamis dan siap merespon perubahan demi menjaga nama baik yang disematkan pada dirinya. Atau memiliki rasa malu jika berdiam diri tidak mengikhtiarkan kesuksesan hidupnya. Nilai dalam Piil Pesenggiri merupakan harta karun budaya Lampung yang menjadi sumber motivasi agar setiap orang hidup dinamis dalam usaha memperjuangkan nilai-nilai positif, hidup terhormat, kehadirannya bermanfaat, dan memiliki harga diri. Konsekuensi logis dari pengamalan Piil Pesenggiri bagi ulun Lampung adalah dengan menjaga harga diri(kehormatan) yang mewujud dalam semangat berprestasi( Juluk Adek), sikap menghargai orang lain( Nemui Nyimah, bergaul dalam kesetaraan( Nengah Nyappur), dan selalu bersedia untuk berkolaborasi, bekerjasama saling tolong menolong( Sakai Sambayan). Maka, dengan menegakkan semua itu, ulun Lampung telah memiliki harga diri; telah Bupiil Bupesenggiri. Rangkuman Pandangan hidup ulun Lampung yang bersumber dari Piil Pesenggiri, melahirkan pola pikir, sikap, dan perilaku ulun Lampung yang berpantang untuk mundur atau menyerah demi memperjuangkan harga diri(kehormatan). Bagi ulun Lampung, harga diri dapat diraih dengan selalu bersemangat untuk berprestasi dan berkontribusi. Dalam dunia pendidikan, semangat Piil Pesenggiri dapat mengilhami seluruh warga sekolah untuk berlomba menjadi pribadi yang sukses 18 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional dan mulia. Seorang guru yang mengamalkan Piil Pesenggiri akan terus bersemangat menjadi guru terbaik yang tak pernah berhenti belajar. Pun, seorang pelajar akan senantiasa menempa dirinya untuk berpresetasi demi mewujudkan cita-citanya. Latihan Pembelajaran 1. Apa yang dimaksud dengan Piil Pesenggiri? 2. Sebutkan empat unsur yang terdapat dalam Piil Pesenggiri? 3. Piil Pesenggiri dikatakan sebagai cerminan harga diri bagi ulun Lampung? 4. proses Jalur Adek diberikan dalam tradisi Piil Pesenggiri? 5. Nilai-nilai apa yang terkandung dalam tradisi Piil Pesenggiri? Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 19 MATERI 4 Seba Baduy 20 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Tema Kelas Alokasi Waktu Metode Pembelajaran Media Belajar Sumber Belajar : Seba Baduy : 3 SMP : 1 JPL(45 Menit) : Ceramah, Diskusi, dan Tanya Jawab : Projector, Gambar/Video Tradisi Seba Baduy : Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Kompetensi Dasar - dan mengenal tradisi Seba Baduy sebagai bagian dari tradisi masyarakat Baduy Indikator Pencapaian Kompetensi/Capaian Pembelajaran - Aspek Pengetahuan Memahami pentingnya keberadaan tradisi Seba Baduy bagi masyarakat Baduy - Aspek Sikap Menghargai dan menghormati tradisi Seba Baduy yang merupakan bagian dari tradisi masyarakat Baduy - Aspek Keterampilan Mampu mempraktikkan nilai-nilai penting yang terdapat dalam tradisi Seba Baduy di kehidupan keseharian, seperti syukur, berbagi dan peduli kepada alam. Tujuan Pembelajaran - Siswa dapat menjelaskan Seba Baduy pada tradisi masyarakat Baduy - dapat mempraktikkan nilai-nilai penting yang terdapat dalam tradisi Seba Baduy. Materi Pembelajaran Salah satu tradisi unik dan berlangsung ratusan tahun adalah perayaan adat“ Seba” yang merupakan peninggalan leluhur( kokolot) dan dilaksanakan setiap tahun. Acara ini digelar setelah musim panen ladang huma, tradisi ini sudah berlangsung sejak zaman kesultanan Banten. Dalam bahasa Baduy“ Seba” berarti seserahan. Maka Seba Baduy merupakan tradisi seserahan hasil bumi serta melaporkan Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 21 berbagai kejadian yang telah berlangsung selama satu tahun terakhir di Suku Baduy kepada Ibu Gede dan Bapak Gede atau pemerintah setempat yang biasa disebut dengan upeti pada kerajaan. Suku Baduy adalah salah satu suku di Indonesia yang tinggal di daerah terpencil di wilayah pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten. Suku baduy—mereka menyebut dirinya Urang Kanekes—sendiri bukanlah suku terasing, tetapi suku yang dengan sengaja mengasingkan dirinya dari kehidupan luar dengan tujuan melaksanakan amanat leluhur dan pusaka Karuhun yang mewasiatkan untuk selalu memelihara keseimbangan dan keharmonisan alam semesta. Tatar Kanekes merupakan tanah ulayat milik warga masyarakat Baduy yang pengukuhannya diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 32 tahun 2001. Oleh karena itu, di dalam wilayah Kanekes memuat aturan adat sekaligus aturan administrasi pemerintahan desa pada umumnya(Pasal 2 ayat 1 dan 2 Peraturan Desa Kanekes Nomor 1 tahun 2007). Peraturan Daerah tersebut kemudian diperkuat lagi oleh Surat Keputusan Bupati Lebak Nomor 590/Kep.233/Huk/2002 tanggal 16 Juli 2002 tentang Penetapan Batas-batas Hal Ulayat di Desa Kanekes yaitu seluas 5.136,58 hektar yang terdiri atas 3.000 hektar hutan lindung dan 2.136,58 hektar berupa tanah garapan dan pemukiman. Secara geografis, Desa Kanekes di sebelah utara berbatasan dengan Desa Bojongmenteng, Desa Cisimeut, Desa Nyagati di Kecamatan Leuwidamar dan Sungai Ciujung; sebelah barat berbatasan dengan Desa Parakan Beusi, Desa Keboncau, Desa Karang Nunggal di Kecamatan Bojongmanik dan Sungai Cibarani; Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Cikate di Kecamatan Cijaku dan Sungai Cidikit; dan sebelah timur berbatasan dengan Desa Karang Combong dan Desa Cilebang di Kecamatan Muncang serta Sungai Cisimeut (Pasal 4 dan 5 Peraturan Desa Kanekes Nomor 1 Tahun 2007). Desa yang wilayahnya berada di kawasan pegunungan Kendeng dengan titik koordinat 6°27’27”-6°30’ Lintang Utara(LU) dan 108°3’9”-106°4’55” Bujur Timur(BT)(Permana, 2006) ini terdiri atas 59 Kampung(tiga kampung Baduy dalam, 55 kampung Baduy Luar, dan sebuah kampung luar Baduy). Kampung Baduy dalam terdiri atas Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Kampung Baduy luar terdiri atas Kaduketug 1, Kaduketug 2, Cipondok, Kadukaso, Cihulu, Marengo, Balingbing, 22 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Gajeboh, Cigula, Kadujangkung, Karahkal, Kadugede, Kaduketer 1, Kaduketer 2, Cicatang 1, Cicatang 2, Cikopeng, Cibongkok, Cirokokod, Ciwaringin, Cibitung, Batara, Panyerangan, Cisaban 1, Cisaban 2, Leuwihandam, Kadukohak, Cirancakondang, Kaneungai, Cicakalmuara, Cicakal Tarikolot, Cipaler 1, Cipaler 2, Cicakal Girang 1, Babakan Cicakal Girang, Cicakal Girang 2, Ciipit Lebak, Ciipit Tonggoh, Cikasi Cinangsi, Cikadu 1, Cijangkar, Cijengkol, Cilingsuh, Cisagu 1, Cisagu 02, Babakan Eurih, Cijanar, Ciranji, Cikulingseng, Cicangkudu, Cibagelut, Cisadane, Batubeulah, Cibogo, dan Pamoean. Sedangkan satu kampung yang berada di luar Baduy adalah Cicakal Girang. Kampung ini tidak dikategorikan sebagai“Baduy” mayoritas warga masyarakatnya telah beragama Islam dan bukan Sunda Wiwitan. Upacara Seba adalah ungkapan rasa syukur masyarakat Baduy karena telah mendapatkan hasil panen yang melimpah. Kegiatan Seba ini dilakukan tanpa paksaan dari pihak manapun. Masyarakat Baduy berbondong-bondong membawa hasil buminya kepada pemerintah. Masyarakat Baduy dalam biasanya mengenakan pakaian serba putih sementara masyarakat Baduy Luar mengenakan pakian serba hitam datang dengan berjalan kaki. Sebelumnya, masyarakat Baduy terlebih dahulu melakukan ritual adat Kawalu dan Ngalaksa. Kawalu adalah ritual yang diadakan saat musim panen selama tiga bulan dengan berpuasa dan tidak melakukan pantangan-pantangan yang diberlakukan. Biasanya pada saat ritual ini kawasan wisata Baduy ditutup. Kemudian dilanjutkan dengan ritual Ngalaksa, Ngalaksa adalah saling berkunjung ke tetangga dan saudara, bersilaturahmi dan mengirimkan makanan sebagai ucapan rasa syukur. Sedangkan Seba sendiri adalah puncak dari rangkaian ritual tersebut Orang Baduy beranggapan Seba itu suatu keharusan yang tak boleh diabaikan. Hasil bumi yang mereka panen belum boleh dinikmati, bila Seba belum dilaksanakan. Karena Seba merupakan kewajiban maka apabila nanti di Kota Serang(tempat Residen atau sekarang Gubernur Banten), tidak ada orang yang mau menerimanya, menurut mereka semua barang bawaan akan ditaruh di tempat yang dianggap tepat untuk melaksanakan Seba, walau di pinggir jalan sekalipun. Jaro Warega dan kokolotan Kaduketug menyampaikan amanat karuhunnya sebagai berikut;“Bisi engke dina hiji waktu atawa jaman seba euweuh nu narima, poma tetep kudu dilaksanakeun, sanajan ngan aya tunggul jeung dahan sapapan nu nyaksian”(Apabila nanti seba tidak ada yang Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 23 menerima, Seba harus tetap dilaksanakan, walau hanya ada tunggul kayu dan dahan yang menyaksikan). Upacara Seba tidak hanya memberikan seserahan berupa hasil tani dan hasil bumi, tapi terdapat dialog penting antara masyarakat Baduy dengan para panggede atau pejabat daerah Banten. Masyarakat adat Baduy selalu menitipkan pesan kepada Pemerintah untuk tetap menjaga kelestarian alam, hutan, dan lingkungan. Sebab, masyarakat Baduy percaya hal itu dapat menjauhkan dari bencana. Sesuai dengan pikukuh Baduy dalam menjaga alamnya“Gunung teu beunang dilebur, Lebak teu beunang dirakrak, Buyut teu beunang dirobah, Larangan aya di darat di cai, Gunung aya maungan, lebak aya badakan, Lembur aya kokolotan, leuwi aya buayaan.”(gunung tidak boleh dilebur, darat tidak boleh dirusak, yang lama tidak boleh dirubah, larangan ada di darat dan air, gunung ada harimaunya, darat ada badaknya, kampung ada tetuanya, air ada buayanya). Alam merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, sebab manusia tidak bisa hidup tanpa alam. Alam harusnya dibiarkan saja, dimanfaatkan seperlunya sehingga fungsi alam tidak berubah. Upacara Seba adalah media komuniksi antara masyarakat Baduy dengan pemerintah serta evaluasi kurun waktu satu tahun terakhir yang meliputi evaluasi tentang kelestarian alam, moralitas manusia, hukum yang berlaku, dan sejumlah aspek kehidupan lainnya. Upacara Seba Baduy memiliki makna lebih dari sekedar upacara seremonial semata. Seba merupakan bentuk kearifan yang ada di masyarakat adat Urang Kanekes, Kabupaten Lebak yang membawa pesan hidup damai dan penuh persatuan antara masyarakat dengan pemerintah dan yang lebih penting adalah keserasian alam semesta. Rangkuman Upacara Seba yang dilakukan oleh masyarakat Baduy adalah upacara adat yang setiap tahun dilakukan dan merupakan puncak ritual masyarakat Kanekes. Hal ini berkaitan dengan keseluruhan upacara yang ada pada masyarakat Baduy yang merupakan refleksi dari kearifan lokal( local wisdom) mereka. Upacara Seba merupakan bentuk kegiatan adat yang sangat penting bagi masyarakat Baduy, karena bukan hanya upacara adat yang melibatkan masyarakat Baduy itu sendiri tetapi juga melibatkan masyarakat luas yakni pemerintah daerah setempat. 24 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Latihan Pembelajaran 1. Apa yang dimaksud dengan tradisi Seba Baduy? 2. upacara Seba dikatakan sebagai ungkapan syukur masyarakat Baduy? 3. Apa itu ritual Kawalu dan Ngalangsa? 4. apa yang disampaikan masyarakat Baduy kepada pemerintah pada upacara Seba Baduy? 5. Nilai-nilai apa yang terdapat dalam upacara Seba Baduy? Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 25 MATERI 5 Upacara Tabot di Bengkulu 26 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Tema Kelas Alokasi Waktu Metode Pembelajaran Media Belajar Sumber Belajar : Upacara Tabot di Bengkulu : 3 SMP : 1 JPL(45 Menit) : Ceramah, Diskusi, dan Tanya Jawab : Projector, Gambar/Video Upacara Tabot : Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Kompetensi Dasar - dan mengenal Upacara Tabot sebagai bagian dari tradisi masyarakat Bengkulu Indikator Pencapaian Kompetensi/Capaian Pembelajaran - Aspek Pengetahuan Memahami pentingnya keberadaan Upacara Tabot bagi masyarakat Bengkulu - Aspek Sikap Menghargai dan menghormati Upacara Tabot yang merupakan bagian dari tradisi masyarakat Bengkulu - Aspek Keterampilan Mampu merumuskan makna filosofis yang terdapat dalam Upacara Tabot yang merupakan bagian dari tradisi masyarakat Bengkulu Tujuan Pembelajaran - dapat menjelaskan Upacara Tabot dalam tradisi masyarakat Bengkulu - dapat merumuskan makna filosofis Upacara Tabot yang terdapat dalam tradisi masyarakat Bengkulu Materi Pembelajaran Upacara Tabot merupakan salah satu upacara tahunan yang diselenggarakan oleh masyarakat Bengkulu pada setiap awal bulan Muharram. Kata“Tabot” itu sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti“kotak kayu” atau“peti.” Dalam upacara tersebut, Tabot dimaksudkan sebagai peti mati yang merupakan representasi kuburan Imam Husein. Tradisi ini berasal dari praktik takziyah di kalangan Syi’ah Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 27 yang melakukan pementasan drama tentang tragedi-tragedi sejarah dan peristiwa-peristiwa keagamaan, musibah, kesyahidan para imam di kalangan Syi’ah, yang melibatkan penggunaan Tabot, yaitu sesuatu yang berbentuk lubang makam. Pada mulanya, upacara Tabot di Bengkulu ini merupakan ritual atau liturgi keagamaan yang dilakukan oleh pendatang yang berasal dari India(Bengali dan Madras) saat meraka dipekerjakan oleh East Indian Company(EIC) milik Inggris untuk pembangunan Benteng Marlborough di Bengkulu. Upacara Tabot yang dilaksanakan oleh para imigran India ini bertujuan untuk mengenang wafatnya cucu nabi Muhammad, Imam Husein ibn Ali ibn Abi Thalib, di Padang Karbala pada 10 Muharam 61 Hijriyah(681 M). Di India, penggunaan Tabot sebagai miniatur kuburan ini pertama kali digunakan dalam upacara peringatan kematian Imam Husein pada abad ke-14 M atau ke-15 M. Sementara di Bengkulu, tradisi upacara Tabot telah bermetamorfosa menjadi festival kemasyarakatan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat dan pemerintahan Bengkulu. Keberlangsungan upacara Tabot di Bengkulu ini tidak terlepas dari keberadaan orang-orang Sipai yang merupakan keturunan dari para imigran India yang dulu menetap di Bengkulu. Salah satu sumber menyebutkan diantara orang-orang yang dibawa oleh Inggris dari India ke Bengkulu adalah Maulana Ichsad, Imam Sobari, Imam Suandari dan Imam Syahbudin. Mereka inilah yang pada kemudian hari memulai dan memperkenalkan perayaan Tabot kepada masyarakat lokal di Bengkulu. Selanjutnya, sumber lain juga menyebutkan Syekh Burhanuddin atau yang lebih dikenal dengan Imam Senggalo sebagai orang pertama yang memperkenalkan upacara Tabot di Bengkulu. Setelah selesai pembangunan benteng, sebagian orang-orang India ini kembali ke daerah asalnya, namun sebagiannya lagi menetap dan berasimilasi dengan penduduk lokal di Bengkulu, yang kemudian dikenal sebagai orang-orang Sipai. Orang-orang Sipai sebagai keluarga pewaris Tabot ini umumnya menetap di Kecamatan Teluk Segara. Bersama dengan pemerintahan Bengkulu, orang-orang Sipai menyelenggarakan dan melestarikan upacara Tabot sebagai bentuk menjalankan wasiat dari leluhur mereka. Masing-masing keluarga pewaris Tabot ini dipimpin oleh kepala keluarga dan anak laki-laki tertua. Sebagai keluarga-keluarga pewaris Tabot, mereka biasanya memiliki satu perangkat“ penja ,” yakni 28 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional sebuah benda yang menyerupai telapak tangan lengkap dengan jarijarinya yang melambangkan tubuh Husain bin Ali. Keluarga pewaris Tabot atau orang-orang Sipai ini membentuk perkumpulan bersama yang dinamakan Kerukunan Keluarga Tabot (KKT). Pembentukan KKT ini dilatarbelakangi oleh undangan yang diterima oleh Provinsi Bengkulu untuk menampilkan kekayaan seni budaya mereka di Jakarta pada 1991. Menyambut undangan tersebut, Pemerintah Provinsi Bengkulu tampaknya memandang perlu untuk menampilkan prosesi Tabot sebagai bagian dari warisan seni-budaya masyarakat Bengkulu. Karena itu, tampillah KKT sebagai pihak yang bertanggung jawab untuk melakukan kegiatan-kegiatan semacam ini. Dalam perkembangan berikutnya, Orang Sipai atau keluarga Tabot yang sudah tergabung dalam KKT ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Daerah Bengkulu dalam prosesi perayaan Tabot setiap 1 sampai 10 Muharam setiap tahunnya, yang oleh pemerintah dipandang bisa menjadi daya tarik wisata bagi orang-orang luar untuk datang ke Bengkulu. Di Bengkulu, terdapat 17 kelompok Tabot yang masing-masing bertanggung jawab untuk melaksanakan dan melestarikan Upacara Tabot. 17 kelompok Tabot tersebut adalah: Syafril(Tabot Imam/ Pasar Melintang), Zainuddin(Bangsal/Tengah Padang), Syapuan Dahlan(Tabot Kampung Batu), Bayu Syarifuddin(Tabot Kampung Bali), Agussalim Kasim(Tabot Lempuing), Zulkifli(Tabot Tengah Padang), Syofyan(Tabot Kebun Ros), Syaiful Mukli(Tabot Penurunan), Ibrahim Kaem(Tabot Pondok Besi), Dayat Djafri(Tabot Bajak), Idrus Kasim (Tabot Anggut Bawah), Bambang Hermanto(Tabot Tengah Padang), Muhidin(Tabot Malabero), Mahyuddin(Tabot Kebun Beler), Saidina Muhammad(Tabot Tengah Padang) dan Bayuang Saril(Tabot Tengah Padang). Upacara Tabot di Bengkulu dilaksanakan selama sepuluh hari, yakni dari tanggal 1 sampai dengan 10 Muharam. Adapun tahapan dari upacara Tabot di Bengkulu adalah sebagai berikut: mengambik tanah, duduk penja, menjara, meradai, arak penja, arak seroban, gam(masa tenang/berkabung), arak gedang, dan Tabot tebuang. Setiap tahapan dalam prosesi upacara Tabot ini mengandung makna filosofis, dimulai dari 1) mengambik tanah yang mengingatkan manusia tentang kejadian manusia yang diciptakan dari tanah kemudian kembali lagi ketanah. 2) Duduk penja(mencuci jari-jari), sebagai simbol mengajak umat Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 29 agar selalu menyucikan diri yang di awali dari kedua tangan karena tanganlah yang dapat membuat menjadi kotor dan tangan pulalah yang dapat membuat kita menjadi bersih baik lahir maupun batin. 3) Menjara bermakna perjalanan panjang di malam hari dengan arakarakan dol, bendera,dan panji-panji kebesaran yang diibaratkan ketika akan terjadi perang kerbala. 4) Meradai(mengumpulkan dana), yang dimaknai sebagai upaya untuk membangkitkan emansipasi masyarakat dalam bentuk beras, gula, minuman, uang, atau lainnya. 5) Arak Penja (mengarak jari-jari), sebagai simbol lima huruf sang pencipta, simbol rukun, dan simbol penghormatan kepada Imam Husein sebagai raja para suhada di padang karbala. 6) Arak Serban(mengarak surban), adalah asesoris yang dipakai sebagai ikat dan penutup kepala mahkota kehormatan Iman Husein. 7) Gam(Masa Tenang/Berkabung), dimaknai sebagai hari berkabung atau hari bersedih yang diperingati setiap tanggal 9 muharam dimaksudkan untuk merenung tentang kesyahidan Imam Husein. 8) Arak Gedang( taptu akbar), merupakan malam puncak dalam prosesi ritual Tabot, sekaligus sebagai penutupan secara resmi festival rakyat yang diselengarakan oleh dinas kebudayaan dan pariwisata. 9) Tabot Terbuang, adalah rangkaian terakhir dalam upacara Tabot yang dimaknai sebagai ekspresi membuang keburukan dan kesombongan, serta mengenang syahidnya Imam Husein di Padang Karbala. Namun karena sudah cukup lama dipraktikkan oleh beberapa generasi, maka upacara Tabot ini sudah dianggap sebagai pesta rakyat Bengkulu. Masyarakat Bengkulu secara umum cenderung memposisikan upacara Tabot sebagai bagian dari kegiatan senibudaya, festival yang memberikan keuntungan ekonomi, serta menandai kekayaan khazanah sejarah Bengkulu. Pada perayaan Tabot tersebut dilaksanakan juga berbagai pameran, perlombaan, serta kesenian lainnya yang diikuti oleh kelompok-kelompok kesenian yang ada di Provinsi Bengkulu sehingga menjadi ajang hiburan rakyat dan menjadi kalender wisata tahunan yang ditunggu baik oleh wisatawan domestik, maupun wisata mancanegara. Rangkuman Upacara Tabot adalah upacara tahunan yang dilaksanakan oleh masyarakat Bengkulu pada setiap tanggal 1 hingga 10 Muharram. Di awal kemunculannya, upacara Tabot merupakan artikulasi lokal 30 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional masyarakat Bengkulu yang dilakukan dalam rangka memperingati kematian atau kesyahidan Imam Husein ibn Ali ibn Abi Thalib di Padang Karbala pada awal bulan Muharam 61 Hijriyah(681 M). Dengan kata lain, Upacara Tabot adalah versi lain dari tradisi Takziyah yang dilakukan oleh kalangan Syi’ah di wilayah Asia Selatan(India) yang dibawa ke Bengkulu oleh para imigran India pada masa pembangunan Benteng Marlborough di Bengkulu pada sekitar awal abad ke-18 M. Prosesi upacara Tabot ini diselenggarakan oleh pemerintahan Bengkulu bersama 17 kelompok Kerukunan Keluarga Tabot(KKT), mereka adalah para keluarga pewaris Tabot atau yang dikenal dengan orang-orang Sipai. Adapun prosesi upacara Tabot berlangsung sejak tanggal 1 Muharram hingga 10 Muharram dengan rangkaian acara sebagai berikut: mengambik tanah, duduk penja, menjara, meradai, arak penja, arak seroban, gam(masa tenang/berkabung), arak gedang, dan Tabot tebuang. Keseluruhan rangkaian prosesi Tabot ini dimaknai sebagai sebagai bentuk ekspsresi kecintaan dan penghormatan terhadap cucu Nabi Muhammad SAW, yakni Husein bin Abi Thalib yang terbunuh di Padang Karbala. Namun, belakangan, upacara Tabot juga dimaknai secara kultural oleh masyarakat Bengkulu sebagai pesta rakyat dan festival tahunan masyarakat, sekaligus kegiatan menyambut dan memeriahkan tahun baru Islam. Latihan Pembelajaran 1. yang dimaksud dengan Upacara Tabot pada masyarakat Bengkulu? 2. awal mula terjadinya Upacara Tabot pada masyarakat Bengkulu? 3. Sebutkan tujuh belas kelompok Tabot yang ada di Bengkulu? 4. Bagaimana proses pelaksanaan Upacara Tabot beserta tahapannya? 5. minimal tiga nilai filosofis yang terdapat dalam Tradisi Tabot? Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 31 MATERI 6 Sambatan Gawe Omah 32 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Tema Kelas Alokasi Waktu Metode Pembelajaran Media Belajar Sumber Belajar : Sambatan Gawe Omah : 3 SMP : 1 JPL(45 Menit) : Ceramah, Diskusi, dan Tanya Jawab : Projector, Gambar/Video Tradisi Sambatan : Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Kompetensi Dasar - dan mengenal tradisi sambatan gawe omah sebagai bagian dari tradisi masyarakat Jawa Indikator Pencapaian Kompetensi/Capaian Pembelajaran - Aspek Pengetahuan Memahami pentingnya keberadaan tradisi sambatan gawe omah bagi masyarakat Jawa - Aspek Sikap Menghargai dan menghormati tradisi sambatan gawe omah yang merupakan bagian dari tradisi masyarakat betawi - Aspek Keterampilan Mampu mempraktikkan nilai-nilai penting yang terdapat dalam tradisi sambatan gawe omah, seperti tolong-menolong, kerja sama, solidaritas dan empati. Tujuan Pembelajaran - dapat menjelaskan tradisi sambatan gawe omah dalam tradisi masyarakat Jawa - dapat mempraktikkan nilai-nilai penting yang terdapat dalam tradisi sambatan gawe omah. Materi Pembelajaran Nilai gotong royong dan sikap saling tolong-menolong melekat kuat dalam masyarakat Indonesia, tidak terkecuali masyarakat Jawa di pedesaan. Ini terlihat dengan masih lestarinya kebiasaan masyarakat Jawa untuk bekerja bersama dalam membantu tetangga yang sedang kesusahan dan membutuhkan pertolongan. Masyarakat Jawa Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 33 mengenalnya sebagai tradisi sambatan. Sambatan berarti kegiatan bergotong royong dengan rasa kekeluargaan yang sasarannya perseorangan. Salah satu pekerjaan yang membutuhkan tenaga sambatan adalah membangun rumah ( gawe omah). Di daerah pedesaan Jawa, apabila ada tetangga yang kesusahan pada saat mendirikan atau memperbaiki rumah, tetangga sekitarnya akan datang membantu secara sukarela sebagai tenaga sambatan. Sambatan sendiri berasal dari kata sambat yang berarti mengaduh atau berkeluh kesah. Tradisi ini menunjukkan tingginya rasa empati serta kuatnya semangat kekeluargaan dan kebersamaan pada masyarakat Jawa pedesaan. Satu pemandangan yang hampir tidak kita jumpai di masyarakat perkotaan. Ada tiga ciri dalam tradisi sambatan. Pertama, sambatan bukanlah kerja bakti. Kerja bakti atau yang disebut gugur gunung pada masyarakat Jawa ditujukan untuk kepentingan bersama. Sedangkan sambatan ditujukan untuk membantu seorang individu atau satu keluarga tertentu yang membutuhkan bantuan. Ini dilakukan karena individu atau keluarga tersebut tidak mampu menyelesaikan pekerjaannya sendiri sehingga membutuhkan uluran tangan dari orang lain. Adapun ciri yang kedua adalah pekerjaan dilakukan secara sukarela atau tidak ada upah. Kegiatan sambatan memang dimaksudkan untuk membantu orang yang sedang kesusahan dan membutuhkan pertolongan orang lain. Tenaga sambatan akan bekerja secara secara ikhlas tanpa mengharap imbalan uang atas pekerjaannya. Sebagai rasa terima kasih, orang yang dibantu akan melayani para pekerja dengan suguhan makanan dan minuman. Tradisi sambatan ini sangat berguna untuk menciptakan jaring pengaman bagi masyarakat tidak mampu. Orang-orang yang hidupnya pas-pasan, hanya mampu memenuhi kebutuhan pokoknya saja, sering kali mengalami kesulitan ketika mereka terbebani oleh persoalan lain. Sebab itu, mereka membutuhkan pertolongan orang lain. Pada saat itulah tenaga sambatan dibutuhkan karena dilakukan dengan sukarela dan tidak ada sistem upah. Sambatan menjadi solusi untuk meringankan beban pekerjaan orang yang meminta tolong. Ciri yang ketiga adalah adanya asas timbal balik(prinsip resiprositas). Kegiatan sambatan merupakan salah satu perwujudan semangat persaudaraan dan kerukunan dalam masyarakat pedesaan. 34 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Kerukunan masyarakat desa dapat dilihat dari bagaimana warganya saling bantu-membantu untuk meringankan beban orang lain. Tidak ada bayaran bagi yang melakukan kegiatan sambatan. Namun, ada kecenderungan di mana seseorang yang telah dibantu akan mengingat jasa orang-orang yang telah menolongnya dan akan membalas kebaikannya ketika mereka membutuhkan bantuan. Adanya asas timbal balik dalam praktik sambatan tersebut memberikan rasa keterikatan yang positif yang bermanfaat untuk meningkatkan rasa kebersamaan dan menjadi perekat kerukunan di dalam masyarakat pedesaan. Masyarakat tahu bahwa pada hakikatnya manusia saling bergantung antara satu dengan yang lainnya. Tidak ada orang yang dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Itu sebabnya, sikap saling tolong-menolong sangat diperlukan untuk kebaikan bersama. Dari ketiga ciri tersebut di atas, kita bisa melihat ada beberapa nilai yang terkandung di dalam sambatan, yaitu tolong-menolong, kerja sama, sukarela, kekeluargaan, solidaritas, empati, kesetaraan sosial, dan kepercayaan. Di masa lalu, sambatan menjadi kebiasaan yang dilakukan masyarakat pedesaan di Jawa. Dilaporkan, di beberapa daerah pedesaan di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta tradisi ini masih dilakukan sampai sekarang. Setidaknya sampai tahun 2013, sambatan bahkan masih dilakukan oleh orang Jawa di daerah transmigrasi, seperti yang terjadi di Desa Meranti Jaya, Kecamatan Mandiangin, Kabupaten Sorolangun, Jambi. Namun, harus diakui, saat ini intensitas pelaksanaan sambatan tidak seperti dulu. Tidak semua warga yang sedang membangun atau memperbaiki rumah di pedesaan Jawa mengadakan sambatan. Hanya warga tertentu saja yang masih melaksanakan sambatan. Salah satu sebab semakin jarangnya sambatan adalah material dan proses pembangunan rumah yang semakin berkembang. Jika dulu, rumah-rumah dibangun secara tradisional dengan kayu, bambu, dan bahan-bahan alami lainnya sehingga masyarakat sekitar relatif bisa membantu. Saat ini, umumnya rumah dibangun dengan material (batu bata, pasir, dan semen) dan cara yang lebih modern sehingga membutuhkan keahlian khusus dalam proses pembangunan. Lagi pula, spesialisasi di bidang pekerjaan yang berkembang di zaman ini juga membuat semakin sedikit orang yang mampu bekerja di bidang Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 35 pertukangan. Penyebab lainnya adalah pengaruh uang dan berkembangnya sikap individualisme. Tekanan hidup masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya semakin besar. Uang dan waktu menjadi hal yang semakin penting sehingga tumbuh rasa enggan untuk bekerja tanpa bayaran. Nilai-nilai yang dulu kuat di masyarakat pedesaan, seperti kekeluargaan, sukarela, kerja sama, dan tolong menolong, mulai memudar. Ini membuat kerja sambatan yang tidak menuntut bayaran secara langsung berupa uang semakin jarang dilakukan. Selain itu, meningkatnya perekonomian masyarakat juga menyebabkan berkurangnya intensitas tradisi sambatan. Masyarakat yang mampu membangun atau merenovasi rumah dengan biaya sendiri tentu tidak membutuhkan bantuan sambatan. Mereka juga lebih memilih membayar orang untuk membangun rumahnya karena menganggap prinsip resiprositas dalam tradisi sambatan sebagai hal yang merepotkan. Mereka merasa enggan ketika harus melakukan “pekerjaan kasar” untuk membantu membangun rumah tetangga mereka. Lagi pula orang-orang semakin terikat dengan pekerjaannya sehingga tidak bisa sewaktu-waktu terlibat dalam sambatan. Orangorang juga menganggap menyambat tetangga dengan tuntutan adat sikap sopan santun dan kewajiban untuk menjamu amat merepotkan. Mengingat manfaatnya yang besar, baik sebagai jaring pengaman sosial maupun perekat hubungan antarwarga, sangat penting untuk melestarikan tradisi gotong royong ini. Keberlanjutan sambatan merupakan hal penting karena merupakan salah satu wadah pemersatu masyarakat. Merasakan kesusahan dan kesenangan orang lain, menimbulkan nilai solidaritas dan empati. Terlebih lestarinya sambatan ini dapat menjadi indikator keberlanjutan masyarakat desa. Kerukunan merupakan kunci keberlangsungan dan kesejahteraan hidup masyarakat, terutama bagi warga yang hidup di pedesaan yang dicirikan dengan budaya komunalnya. Tentu yang terutama sekali harus dilestarikan adalah nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, yaitu nilai gotong royong, kebersamaan, dan saling tolong-menolong. Sementara bagaimana tradisi ini dilaksanakan tentu harus menyesuaikan diri dengan di kondisi masyarakat yang ada sehingga tidak memberatkan dan dapat membawa manfaat sebesarbesarnya bagi kehidupan bersama. Misalnya, di Desa Suruhan, sambatan biasanya dilakukan pada awal pembuatan fondasi rumah, 36 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional sedangkan tahap penyelesaiannya( finishing) biasanya dilakukan oleh tukang. Dengan cara ini, tetangga sekitar masih bisa membantu sebagai tenaga sambatan, meskipun untuk pekerjaan yang dibutuhkan keahlian khusus dilakukan oleh orang yang lebih ahli. Rangkuman Sambatan merupakan salah satu tradisi gotong royong yang ada di pedesaan Jawa. Berbeda dengan kerja bakti yang ditujukan untuk kepentingan bersama, sambatan ditujukan untuk kepentingan perseorangan atau keluarga. Tradisi ini merupakan perwujudan dari kuatnya nilai kebersamaan dan tolong-menolong pada masyarakat pedesaan. Amat disayangkan dengan perkembangan zaman, tradisi sambatan mulai semakin ditinggalkan. Padahal, tradisi ini memiliki manfaat yang besar, yaitu sebagai sarana untuk memperkuat tali persaudaraan dan kerukunan serta sebagai jaring pengaman sosial bagi warga yang kurang mampu. Sebab itu, tradisi ini sebaiknya terus dilestarikan, terutama nilai-nilai yang dikandungnya. Meski dalam pelaksanaannya harus disesuaikan dengan kondisi setempat sehingga tidak memberatkan dan membawa manfaat yang sebesar-besarnya bagi kehidupan bersama. Latihan Pembelajaran 1. Apa yang dimaksud dengan tradisi sambatan? 2. Sebutkan tiga ciri tradisi sambatan? 3. Sebutkan nilai-nilai yang ada pada tradisi sambatan? 4. Di daerah mana saja praktik sambatan dilakukan? 5. faktor penyebab yang menjadikan tradisi sambatan saat ini jarang dilakukan? Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 37 MATERI 7 Tradisi Sawer Penganten Sunda 38 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Tema Kelas Alokasi Waktu Metode Pembelajaran Media Belajar Sumber Belajar : Tradisi Sawer Panganten Sunda : 3 SMP : 1 JPL(45 Menit) : Ceramah, Diskusi, Tanya Jawab dan Demonstrasi : Projector, Gambar/Video Tradisi Sawer : Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Kompetensi Dasar - dan mengenal tradisi Sawer Panganten Sunda sebagai bagian dari tradisi masyarakat Sunda Indikator Pencapaian Kompetensi/Capaian Pembelajaran - Aspek Pengetahuan 1. Siswa mampu mengetahui definisi sawer panganten Sunda 2. mampu memahami karakteristik upacara perkawinan adat Sunda - Aspek Sikap 1. mampu menanamkan nilai-nilai berbagi kepada sesama dalam kehidupan sehari-hari 2. Siswa mampu meneladani nilai-nilai kasih sayang - Aspek Keterampilan 1. Siswa mampu mempraktekkan nyanyian sawer panganten Sunda 2. Siswa mampu mendemonstrasikan upacara sawer panganten Sunda Tujuan Pembelajaran - mampu mempraktekkan nyanyian sawer panganten Sunda - mampu mendemonstrasikan upacara sawer panganten Sunda Materi Pembelajaran Saat ini, di zaman yang semakin modern, warisan budaya leluhur yang dilaksanakan dalam bentuk upacara tradisional bisa dikatakan masih memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Bahkan di beberapa wilayah di Indonesia, upacara tradisional masih dipatuhi oleh masyarakat pendukungnya sampai sekarang. Upacara tradisional yang dipandang memiliki makna filosofis menyebabkan masyarakat Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 39 merasa takut akan mengalami hal-hal yang tidak diinginkan jika tidak melaksanakan upacara tradisional tersebut. Salah satu unsur budaya yang masih diakui keberadaannya dan masih sering dilaksanakan oleh masyarakat adalah upacara perkawinan adat. Upacara ini dianggap sebagai warisan budaya leluhur karena dianggap penting dalam perjalanan hidup pasangan suami istri. Upacara perkawinan di satu daerah tentunya berbeda dengan upacara perkawinan di daerah lain. Masing-masing daerah memiliki keunikan dan keragaman yang berbeda-beda, baik dari segi ritual perkawinan, prosesi, tarian, nyanyian, maupun alat-alat yang digunakan dalam upacara perkawinan adat tersebut. Hal ini menggambarkan adanya perbedaan pandangan, pemahaman, aliran dan kepercayaan yang dianut oleh berbagai daerah yang ada di Indonesia. Di antara upacara perkawinan yang masih banyak dilaksanakan oleh masyarakat adalah sawer panganten yang menjadi bagian dari rangkaian prosesi upacara perkawinan adat Sunda. Secara umum perkawinan adat suku Sunda terbagi dalam dua bagian, yakni upacara sebelum perkawinan dan upacara sesudah perkawinan. Upacara sebelum perkawinan merupakan kegiatan perencanaan dan pematangan menuju jenjang perkawinan, sedangkan upacara sesudah perkawinan merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mendo’akan kebaikan bagi pasangan suami istri dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Upacara yang dilaksanakan sebelum akad nikah adalah: Neundeun omong(titip pesan), narosan(melamar), seserahan (menyerahkan barang-barang pemberian dari calon pengantin lakilaki kepada calon pengantin perempuan), lengkahan(melangkahi kakaknyan – ini terjadi apabila calon pengantin perempuan menikah lebih dulu dibanding dengan kakaknya), ngecagkeun aisan (menurunkan pangkuan), ngaras(memohon do’a kepada orang tua), siraman(memandikan calon pengantin), ngerik(membersihkan bulubulu di sekitar kening dan ngeuyeuk seureuh(menata daun sirih). Adapun upacara yang dilaksanakan setelah akad nikah adalah: Sawer panganten, nincak endog(menginjak telur), buka pintu, huap lingkung (saling menyuapi), mareuman seuneu(menyiram api), ngaleupaskeun japati(melepaskan merpati) dan numbas(kenduri setelah tujuh hari perkawinan). Sawer atau nyawer berasal dari kata awer, yang artinya air jatuh menjiprat. Pengertian lain menjelaskan bahwa sawer itu adalah 40 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional taweuran, yang artinya perkerjaan tersebut dilaksanakan di dalam panyaweran atau cucuran atap. Pada akhirnya makna tersebut dipahami sebagai air yang jatuh menciprat dari cucuran atap. Oleh karena itulah, proses sawer panganten dilaksanakan dengan cara melempar benda-benda dan/atau makanan yang gerakannya seperti mencipratkan air. Adapun orang yang bertugas untuk melempar bendabenda tersebut disebut dengan juru sawer. Proses sawer panganten dilakukan dengan menempatkan pasangan pengantin yang baru saja melaksanakan akad tersebut duduk di atas kursi di depan para tamu undangan. Tempat yang digunakan untuk upacara sawer merupakan tempat terbuka yang biasa disebut tempat panyaweran. Pasangan pengantin tersebut didampingi oleh pagar ayu dan/atau pagar bagus yang bertugas memayungi pengantin dengan payung besar seperti layaknya payung kerajaan yang dipenuhi dengan hiasan-hiasan yang menawan dan berkilau. Upacara sawer panganten diawali dengan melantunkan syair/puisi sawer. Puisi sawer adalah puisi yang biasa dilagukan atau dinyanyikan pada waktu upacara sawer seperti pada waktu upacara khitanan dan perkawinan. Nada-nada yang dibunyikan pada saat puisi sawer dilantunkan biasanya diambil dari nada-nada pupuh Sunda. Setelah melantunkan satu bait syair sawer, juru sawer menyelinginya dengan menaburkan atau melemparkan benda-benda atau makanan ke atas payung pengantin dan para tamu undangan atau khalayak yang ada di tempat panyaweran. Adapun benda-benda yang dilemparkan berisi beras, irisan kunyit, permen, uang logam dan bermacam – macam bunga rampai yang disimpan di dalam bokor atau baskom yang terbuat dari perunggu atau kuningan. Sehingga dalam waktu yang bersamaan, anak-anak ataupun orang dewasa yang hadir pada upacara sawer tersebut akan bergerombol di belakang pengantin saling berebut memungut uang sawer dan permen. Selanjutnya juru sawer akan kembali melanjutkan membaca puisi sawer untuk bait-bait yang lain. Sawer tersebut dilakukan hingga puisi sawer selesai dinyayikan dan benda-benda sawer habis dibagikan. Nada-nada atau lagu yang dinyanyikan oleh juru sawer tersebut diadopsi dari lagu yang dalam tradisi seni Sunda disebut dangding atau pupuh. Dalam tradisi kesenian Sunda terdapat 17 pupuh yang dibagi menjadi sekar ageung dan sekar alit. Pupuh yang masuk ke dalam kategori sekar ageung adalah: asmarandana, kinanti, sinom dan Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 41 dangdanggula. Sedangkan pupuh yang masuk ke dalam kategori sekar alit adalah: Balakbak, juru demung, durma, gambuh, gurisa, ladrang, magatru, maskumambang, mijil, pangkur, pucung, lambang dan wirangrong. Pupuh- pupuh tersebut biasa dinyanyikan sesuai dengan karakteristik dan fungsinya masing-masing. Misalnya untuk keperluan acara sawer panganten, salah satu pupuh yang biasanya dinyanyikan adalah pupuh kinanti. KINANTI Tumut ka papagah sepuh(Patuh kepada pepatah orang tua) Tawisna hideup mupusti(Tanda kedua mempelai harus mengingat) Konci gedong kabagjaan(Kunci utama kebahagian) Aya dina sepuh utami(Ada di orang tua yang utama) Pundut mah anggur du’ana(Dipinta do’anya) Sangkan tingtrim laki rabi(Supaya rumah tangga menjadi tentram) Adapun makna yang terkandung dalam simbol benda-benda perlengkapan sawer adalah: 1. Beras putih; menjadi simbol kesejahteraan dan kebahagiaan. 2. Uang logam; melambangkan kekayaan. 3. menjadi harapan agar nama kedua mempelai senantiasa harum dengan perilaku yang mulia. 4. sirih; sebagai bentuk doa agar kedua mempelai selalu hidup rukun dan saling pengertian satu sama lain. 5. atau kuning; melambangkan emas dan dianggap sebagai simbol kemuliaan. 6. dengan rasa manis menjadi pengharapan agar kehidupan mempelai selalu berjalan harmonis. Rangkuman Upacara Sawer Panganten Sunda merupakan upacara tradisional warisan budaya leluhur Indonesia. Secara bahasa sawer atau nyawer berasal dari kata awer, yang artinya air jatuh menjiprat. Adapun secara istilah sawer diartikan sebagai upacara adat panganten Sunda yang dilaksanakan dengan cara membagikan benda/makanan kepada para tamu undangan. Sawer panganten diawali dengan melantunkan syair/ puisi sawer yang kemudian dinyanyikan dengan nada-nada pupuh Sunda. Adapun orang yang bertugas untuk menyanyikan puisi sawer 42 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional dan membagikan benda/makanan disebut sebagai juru sawer. Selama menyanyikan pupuh Sunda, juru sawer akan membagikan makanan dengan cara dilempar yang kemudian akan diperebutkan oleh para tamu undangan baik dari kalangan anak-anak maupun dewasa. Bendabenda yang dilemparkan berisi beras, irisan kunyit, permen, uang logam dan bermacam – macam bunga rampai yang disimpan di dalam bokor atau baskom yang terbuat dari perunggu atau kuningan. Latihan Pembelajaran 1. yang dimaksud dengan tradisi sawer panganten dalam tradisi masyarakat Sunda? 2. umum perkawinan adat suku Sunda terbagi dalam dua bagian, sebutkan? 3. Apa yang dimaksud dengan puisi sawer? 4. minimal tiga makna yang terkandung dalam simbol bendabenda perlengkapan sawer panganten pada tradisi Sunda? 5. apa yang terkandung dalam tradisi sawer panganten pada masyarakat Sunda? Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 43 MATERI 8 Seren Taun Cigugur-Kuningan 44 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Tema Kelas Alokasi Waktu Metode Pembelajaran Media Belajar Sumber Belajar : Seren taun Cigugur-Kuningan : 3 SMP : 1 JPL(45 Menit) : Ceramah, Diskusi, dan Tanya Jawab : Laptop, Projector, Gambar/Video Seren taun : Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Kompetensi Dasar - dan mengenal seren taun sebagai bagian dari tradisi masyarakat Sunda Wiwitan Indikator Pencapaian Kompetensi/Capaian Pembelajaran - Aspek Pengetahuan Memahami pentingnya keberadaan seren taun bagi masyarakat Sunda Wiwitan - Aspek Sikap Menghargai dan menghormati seren taun yang merupakan bagian dari tradisi masyarakat Sunda Wiwitan - Aspek Keterampilan Mampu mempraktikkan nilai-nilai penting yang terdapat dalam tradisi seren taun di kehidupan keseharian, seperti bersyukur, kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian. Tujuan Pembelajaran - dapat menjelaskan seren taun yang merupakan bagian dari tradisi masyarakat Sunda Wiwitan - dapat mempraktikkan nilai-nilai penting yang terdapat dalam tradisi seren taun Materi Pembelajaran Seren taun merupakan upacara perlambang rasa syukur dan terima kasih masyarakat Sunda kepada sang pencipta atas keberhasilan pertanian pada tahun itu. Seren taun ini dilaksanakan secara turuntemurun. Lahan yang subur, hasil pertanian yang melimpah, semua disyukuri dalam bentuk dilaksanakannya seserahan berbagai Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 45 bahan makanan terutama padi dan buah-buahan. Beberapa tempat melaksanakan upacara ini, yaitu Banten, Sukabumi, dan CigugurKuningan. Tulisan ini fokus pada upacara Seren Taun di CigugurKuningan. Arti dari kata Seren Taun sendiri ialah pelepasan tahun, yakni upacara yang diadakan di akhir tahun dan mendekati pengujung awal Tahun Baru Saka. Upacara ini diselenggarakan setiap tahun tanggal 22 Rayagung, bulan terakhir kalender Sunda dan sudah ada sejak ratusan tahun sejak Kerajaan Pajajaran hingga saat ini. Lokasi Upacara dipusatkan di pendopo Paseban Tri Panca Tunggal, kediaman Pangeran Djatikusumah, yang didirikan tahun 1840, di Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Sekarang ini, upacara seren taun lebih cenderung dilaksanakan masyarakat adat dalam hal ini masyarakat adat Sunda Wiwitan, dibanding masyarakat Sunda secara keseluruhan. Masyarakat adat Sunda Wiwitan sendiri secara jumlah, amat kecil dibanding dengan masyarakat Sunda secara keseluruhan. Namun demikin, gaung dari upacara adat seren taun ini amatlah besar. Namanya tidak hanya terdengar di tingkat nasional, melainkan sudah dikenal di dunia internasional. Maka tak heran setiap acara ini digelar seringkali dihadiri orang asing dari berbagai negara. Terdapat dinamika dalam pelaksanaan upacara seren taun setiap tahunnya. Jika dahulu, upacara ini murni ritual tanda syukur kepada sang maha kuasa, saat ini, selain ungkapan rasa syukur tersebut, pelaksanaan upacara ini juga memiliki tujuan lain. Seren taun saat ini merupakan bagian dari upaya memperkokoh adat istiadat warisan budaya bangsa serta dijadikan sebagai bagian dari upaya memelihara kehidupan yang harmonis diantara anggota masyarakat yang beragam. Selain itu, sekarang ini seren taun dijadikan sebagai event pariwisata. Sebagai bagian ungkapan rasa syukur dan upaya memperkokoh adat istiadat warisan budaya bangsa, seren taun selalu dirayakan dengan berbagai pertunjukan. Pertunjukan berupa prosesi seserahan makanan juga pagelaran seni budaya. Semuanya memperlihatkan keberagaman. Meskipun masyarakat Sunda sudah banyak yang tidak meyakini agama leluhurnya dan beralih ke berbagai agama, tetapi dalam keberagaman tersebut, seren taun sebagai ungkapan rasa syukur, peninggalan tradisi kepercayaan masyarakat Sunda, tetap dilaksanakan. Tradisi ini bagian dari pengetahuan budaya bangsa. Upacara ini 46 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional memperlihatkan betapa religiusnya masyarakat Sunda. Apa yang terjadi dalam kehidupan selalu dikaitkan dengan sang pencipta. Selain itu, upacara ini memperlihatkan kehidupan masyarakat yang harmonis. Dalam perbedaan yang ada, berbeda agama, etnis, bahasa, masyarakat masih bisa melaksanakan kegiatan bersama. Mengetahui dan mempelajari upacara adat ini merupakan upaya untuk memahami nilai-nilai kearifan lokal dan bagaimana melestarikan nilai kearifan lokal para leluhur tersebut. Generasi muda penerus bangsa hendaknya mampu menghargai seren taun sebagai bagian dari budaya bangsa. Dalam seren taun ini, setiap individu rakyat memberikan sesuatu/makanan sebagai tanda mensyukuri karunia Tuhan. Upacara ini, di satu sisi memperlihatkan sikap religius, di sisi lain memerlihatkan sikap toleransi kepada yang berbeda. Seren taun merupakan bagian dari upaya mempertahankan keharmonisan dalam keberagaman bangsa. Di sini kita melihat bahwa seren taun sebagai perekat masyarakat. Seren taun, wujudnya adalah seserahan, diperlihatkan dengan menyerahkan berbagai buah-buahan dan bahan makanan lainnya. Prosesi diawali dengan sekelompok anak muda membawa buahbuahan, diteruskan dengan para ibu yang membawa padi di atas kepala, dan akhirnya sekelompok bapak-bapak membawa padi dengan cara dipikul. Seren taun juga berisi pertunjukan seni-budaya berupa tarian tradisional yang menggambarkan rasa syukur atas karunia yang diberikan sang pencipta dan pantun sunda yang berisi perjalanan Dewi Sri(Dewi Sri adalah tokoh yang melegenda dalam masyarakat tatar Sunda). Bagian berikutnya dari acara seren taun ini dilakukan dengan menumbuk padi. Aktivitas ini justru merupakan puncak dari tradisi seren taun ini. Padi yang ditumbuk pada puncak acara sebanyak 22 kwintal dengan pembagian 20 kwintal untuk ditumbuk dan dibagikan kembali kepada masyarakat dan 2 kwintal digunakan sebagai benih (kuningankab.go.id). Seluruh masyarakat bisa berpartisipasi dalam menumbuk padi untuk menghasilkan beras. Dengan menyaksikan upacaranya, hadirin akan memahami upacara tersebut dan mampu mempraktekan tradisi seren taun dalam kehidupan keseharian. Dengan demikian, tradisi seren taun dapat terus hadir di tengah-tengah masyarakat yang terus mengalami perubahan Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 47 secara dinamis. Rangkuman Meskipun agama asli Sunda Wiwitan tidak lagi dianut oleh masyarakat Sunda, tradisi seren taun layak dipertahankan. Tradisi ini mampu menjadi perekat masyarakat yang beragam dari sisi agama, suku, ras dan golongan. Tradisi ini juga, jika bisa dikapitalisasi, bisa menjadi ajang pariwisata yang mendatangkan keuntungan bagi masyarakat, bangsa, dan negara. Latihan Pembelajaran 1. Apa yang dimaksud dengan seren taun? 2. Kapan upacara seren taun dilaksanakan? 3. Pertunjukkan apa yang ditampilkan pada upacara seren taun? 4. Apa tujuan diadakannya upacara seren taun? 5. Nilai-nilai apa yang terdapat dalam upacara seren taun? 48 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 49 MATERI 9 Kain Tenun Lurik 50 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Tema Kelas Alokasi Waktu Metode Pembelajaran Media Belajar Sumber Belajar : Kain Tenun Lurik : 3 SMP : 1 JPL(45 Menit) : eramah, Diskusi, Tanya Jawab dan Demonstrasi : Projector, Gambar Kain Tenun Lurik/ Video Pembuatan Kain Tenun Lurik : Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Kompetensi Dasar - dan mengenal tradisi kain tenun lurik sebagai bagian dari tradisi masyarakat Jawa Tengah Indikator Pencapaian Kompetensi/Capaian Pembelajaran - Aspek Pengetahuan Memahami pentingnya keberadaan kain tenun lurik bagi masyarakat Jawa Tengah - Aspek Sikap Menghargai dan menghormati keberadaan kain tenun lurik yang merupakan bagian dari tradisi masyarakat Jawa Tengah - Aspek Keterampilan Mampu mempraktikkan nilai-nilai yang terdapat dalam makna kain tenun lurik, seperti kesungguhan dan keterampilan. Tujuan Pembelajaran - dapat menjelaskan kain tenun lurik dalam tradisi masyarakat Jawa Tengah - dapat mempraktikkan nilai-nilai yang terdapat dalam makna kain tenun lurik. Materi Pembelajaran Salah satu kekayaan wastra Nusantara yang masih lestari hingga saat ini adalah kain tenun lurik. Kain tenun dengan corak berjalur-jalur ini telah ada di Jawa sejak lama dan tersebar di beberapa daerah, seperti Yogyakarta, Klaten, dan Solo. Meski tergolong sederhana, baik dalam penampilan maupun pengerjaannya, tenun lurik sarat akan makna. Kain tenun lurik menjadi bagian dari kerajinan rakyat yang tumbuh Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 51 dan berkembang di Kecamatan Pedan dan Desa Tlingsing di Kecamatan Cawas, Klaten, Jawa Tengah. Tlingsing dikenal sebagai“Desa Wisata Tenun”, sedangkan Pedan dikenal sebagai sentra kain lurik terbesar di Jawa Tengah. Dengan keberadaan dua sentra produksi kain lurik tersebut, tak heran jika Klaten disebut sebagai daerah yang paling perhatian terhadap kelestarian produk budaya ini. Secara umum, kain tenun merupakan hasil dari pembuatan kain dengan menyilangkan benang secara vertikal( lungsi) dan horizontal ( pakan) menggunakan sebuah alat. Sedangkan nama lurik berasal dari bahasa Jawa kuno“ larik” yang berarti baris, deret, garis atau lajur. Pendapat lain mengatakan lurik berasal dari kata“rik” yang berarti garis atau parit yang bermakna sebagai pagar atau pelindung bagi pemakainya. Dalam bahasa Jawa sendiri ada kata lorek yang berarti lajur atau garis-garis belang. Nama“lurik” hanya digunakan di Jawa. Akan tetapi, dengan sebutan yang berbeda, kain tenun yang menyerupai lurik juga terdapat di Sumatra, Bali, Lombok, Sumba, Timor. Di luar Jawa, tenun lurik sering digabung dengan teknik tenun lain, seperti ikat dan songket. Menurut catatan sejarah, kain tenun lurik telah digunakan masyarakat Jawa setidaknya sejak zaman Mataram Kuno. Sebuah prasasti peninggalan Kerajaan Mataram Kuno dari tahun 851–882 M menunjukkan keberadaan kain lurik pakan malang. Prasasti Raja Erlangga di Jawa Timur tahun 1033 menyebutkan motif kain lurik tuluh watu. Bukti lain bahwa kain tenun telah digunakan sejak dulu adalah adanya penggambaran kain tersebut pada arca-arca dan relief candi yang tersebar di Pulau Jawa. Pada relief Candi Borobudur, misalnya, terdapat relief yang menggambarkan seseorang sedang menenun dengan alat tenun gendong. Jejak kain khas Jawa ini juga terekam pada cerita Wayang Beber, wayang tertua yang sudah ada sebelum lahirnya wayang kulit. Dikisahkan seorang ksatria melamar seorang Putri Raja dengan mas kawin alat tenun gendong. Kain lurik kemudian menjadi pakaian khas pria di wilayah Kerajaan Mataram Islam. Terbuat dari bahan katun kasar, harga kain satu ini terjangkau untuk masyarakat kelas bawah. Kain lurik biasanya digunakan sebagai bahan baju surjan, baju pria di wilayah Kesultanan Yogyakarta, dan baju beskap di wilayah Kasunanan Surakarta. Pada kaum wanita, kain lurik digunakan sebagai kain gendong. Penampakan kain lurik memang sederhana. Namun, seperti 52 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional umumnya wastra Nusantara lainnya, kain tenun lurik sarat akan makna. Dahulu orang membuat lurik didahului dengan berbagai macam ritual, dengan maksud agar lurik yang tercipta sesuai dengan maknanya, yakni agar dapat menjadi pelindung bagi setiap pemakainya. Kain lurik memiliki tiga corak utama. Pertama, lajuran, yaitu corak lajur yang garis-garisnya membujur searah benang lungsi(vertikal). Kedua, pakan malang, yaitu corak yang garis-garisnya melintang searah benang pakan(horizontal). Ketiga, cacahan, yaitu gabungan antara corak lajuran dan corak pakan malang sehingga membentuk corak kotak-kotak. Dari tiga corak utama tersebut lahirlah beragam corak kain lurik, seperti liwatan, tumbar pecah, kembenan, nyampingan, kluwung, tuluh watu, pletek jarak, dan telu-pat. Sebagai produk budaya, setiap motif lurik yang terlahir mengandung makna. Misalnya, motif liwatan yang digunakan pada acara selamatan tujuh bulanan atau mitoni mengandung harapan agar bayi yang dikandung dapat melewati masa kelahiran dengan selamat. Corak telu-pat yang diciptakan oleh Sultan Hamengkubuwono I merujuk pada angka 7(penjumlahan dari telu yang berarti 3 dan pat atau papat yang berarti 4) yang melambangkan kehidupan dan kemakmuran. Juga ada motif kembang gedhang(kembang pisang) atau tuntut yang melambangkan tuntutan untuk berupaya keras dan sungguh-sungguh dalam meraih sesuatu. Meski terlihat sederhana, proses pengerjaan kain lurik membutuhkan keterampilan dan kejelian dalam memadukan warna serta tata susunan garis yang selaras dan seimbang agar menghasilkan kain lurik yang indah. Pada awalnya, alat tenun yang digunakan dalam proses pembuatan kain lurik sangat sederhana, yaitu alat tenun bendho dan gendong. Keduanya terbuat dari bambu atau batang kayu. Disebut bendho karena alat yang digunakan untuk merapatkan benang berbentuk bendho(golok). Disebut alat tenun gendong karena saat menenun, salah satu bagiannya diletakkan di belakang pinggang. Dalam perkembangannya, untuk mencapai hasil produksi maksimal dan lebih cepat, para perajin tenun lurik beralih menggunakan alat tenun bukan mesin(ATBM) yang lebih modern. Hingga saat ini, masih ada perajin kain tenun lurik yang masih mempertahankan penggunaan alat tenun bukan mesin, meski sebagian sudah beralih menggunakan alat tenun mesin. Secara garis besar, proses pembuatan tenun sederhana terbagi Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 53 menjadi tiga tahap, yaitu pemintalan, pewarnaan, dan proses penenunan. Pertama-tama, kapas dipintal menjadi benang( lawe). Benang tersebut kemudian disiapkan untuk menjadi benang pakan (benang yang melintang ke arah lebar kain) dan benang lungsi(benang yang membujur ke arah panjang kain). Benang lungsi harus diberi kanji dan kemudian dikeringkan terlebih dahulu agar menjadi lebih kuat. Sebab, dalam proses menenun, benang lungsi akan mengalami tegangan dan hentakan sewaktu merapatkan benang pakan. Setelah itu, benang diberi warna, bisa menggunakan pewarna alami maupun pewarna buatan. Pembuatan pewarna alami dilakukan dengan cara tradisional, yaitu dengan merendam sumber warna yang berasal dari daun, kulit kayu, akar, biji dan lainnya dalam air selama lima hari atau lebih. Setelah itu, benang dicelupkan larutan warna yang telah disiapkan. Namun, sebelumnya benang tersebut harus direndam terlebih dahulu dengan air larutan buah kemiri yang telah digiling halus dan disaring. Ini dilakukan untuk meningkatkan peresapan warna sehingga warna kain tidak mudah luntur. Selanjutnya adalah proses menenun menggunakan alat tenun. Benang lungsi disusun sejajar selebar kain yang akan ditenun. Kemudian benang pakan dimasukkan di antara benang-benang lungsi sehingga membentuk suatu anyaman benang lalu dirapatkan. Demikian seterusnya berturut-turut sehingga menjadi selembar kain. Kain tenun lurik masih bertahan hingga masa kini dan bahkan berkembang, baik dari segi pembuatan, corak dan warnanya, maupun penggunaannya. Jika dulu pembuatan kain lurik menggunakan alat tenun tradisional yang sangat sederhana, kemudian beralih menggunakan alat tenun bukan mesin(ATBM) yang lebih modern, kini digunakan juga alat tenun mesin(ATM). Alat tenun mesin digunakan untuk memenuhi besarnya permintaan terhadap jenis kain ini. Motif kain tenun lurik juga berkembang. Mengikuti perkembangan mode dan busana, kain tenun lurik mengadopsi corak dan warna-warna kekinian. Penggunaannya pun meluas. Sebelumnya, masyarakat Jawa menggunakannya sebagai kain gendong, baju sehari-hari, dan pakaian dalam upacara adat. Kini, motif lurik juga dipakai untuk menambah unsur estetik pada busana, juga digunakan pada tas, dompet, dan sepatu. Motif lurik bahkan digunakan untuk memperindah interior ruangan. 54 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Rangkuman Kain tenun lurik merupakan sebuah produk budaya yang meski terlihat sederhana, tetapi sarat makna. Nama lurik berasal dari kata “rik” yang berarti garis atau parit, dengan makna agar kain tersebut dapat menjadi pagar atau pelindung bagi pemakainya. Sampai saat ini, kain lurik masih lestari dan bahkan berkembang. Mengikuti perkembangan mode dan busana, kain lurik mengadopsi corak dan warna-warna kekinian. Penggunaannya juga meluas. Kini, motif lurik juga dipakai untuk menambah unsur estetik pada busana, juga pada tas, dompet, dan sepatu. Motif lurik bahkan digunakan untuk memperindah interior ruangan. Latihan Pembelajaran 1. Apa yang dimaksud dengan lurik? 2. Sejak kapan kain tenun lurik digunakan oleh masyarakat Jawa? 3. Apa makna motif liwatan yang terdapat pada kain tenun lurik? 4. Sebutkan tiga corak utama yang terdapat dalam kain tenun lurik? 5. Jelaskan proses pembuatan tenun secara sederhana? Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 55 MATERI 10 Nganter Dalam Tradisi Betawi 56 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Tema Kelas Alokasi Waktu Metode Pembelajaran Media Belajar Sumber Belajar : Nganter dalam Tradisi Betawi : 3 SMP : 1 JPL(45 Menit) : eramah, Diskusi, Tanya Jawab, Demonstrasi, Bermain Peran : Projector, Gambar/Video Tradisi Nganter : Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Kompetensi Dasar - dan mengenal tradisi nganter sebagai bagian dari tradisi masyarakat Betawi Indikator Pencapaian Kompetensi/Capaian Pembelajaran - Aspek Pengetahuan Memahami pentingnya keberadaan tradisi nganter bagi masyarakat betawi - Aspek Sikap Menghargai dan menghormati tradisi nganter yang merupakan bagian dari tradisi masyarakat betawi - Aspek Keterampilan Mampu mempraktikkan nilai-nilai penting yang terdapat dalam tradisi nganter pada kehidupan keseharian, seperti kekeluargaan dan kepedulian. Tujuan Pembelajaran - dapat menjelaskan tradisi nganter dalam tradisi masyarakat Betawi - dapat mempraktikkan nilai-nilai penting yang terdapat dalam tradisi nganter Materi Pembelajaran Etnis Betawi diketahui mempunyai beragam budaya yang dikenal, seperti Ondel-Ondel, Tanjidor, Lenong dan beberapa kesenian lainnya. Begitu pula dari segi kuliner, terdapat masakan gabus pucung, nasi uduk, semur(daging, ayam, telur bahkan jengkol), laksa dan sebagainya. Pada sisi aktivitas sosial( Nyambat), ada beberapa Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 57 kebiasaan bersama yakni Mendirikan Rumah, Membajak Sawah, Bikin Tarub dan Pelampang, Nganter, Memberi Uang, Memberi Minum, Mengurus Kematian, Melepas Haji, Nyambut Haji dan kegiatan sosial lainnya. Materi ini hendak menyoroti aktivitas Nganter. Menurut orang Betawi sendiri, Abdul Chaer, yang juga meneliti banyak dimensi kehidupan sehari-hari masyarakat Betawi tempo dulu di sela-sela kesibukannya mengajar di Universitas Negeri Jakarta, Nganter adalah mengantarkan sesuatu kepada orang lain. Sesuatu yang di- anter biasanya berupa makanan, minuman, buah-buahan dan lain-lain. Bila seseorang mempunyai pohon buah tertentu dan saat ngalap (memetik), beberapa buah ia bagikan ke tetangga-tetangganya. Kadang bila ada kerja bakti warga, buah tersebut juga dibagikan kepada orang-orang yang sedang kerja. Abdul Chaer menambahkan contoh lain; bila seseorang memasak masakan istimewa, ia juga menyisihkan masakan tersebut untuk di- anter ke tetangga dekat yang mencium bau masakan tersebut. Intensitas Nganter ini lebih banyak terjadi pada bulan Ramadhan. Ketika ada yang memasak kolak misalnya, maka ia membagikan ke tetangga-tetangga terdekat. Tetangga-tetangganya lalu memberi balesan berupa masakan yang dibuatnya. Sehari menjelang lebaran (baik lebaran Idul Fitri maupun Idul Adha), intensitas Nganter ini makin tinggi. Isi yang di- anter pun adalah masakan khas lebaran seperti ketupat, sayur sambel godok, sayur laksa, semur daging, sayur kembili, sop ayam, gabus pucung, dan berbagai jenis makanan lainnya. Pada hari Idul Fitri, orang-orang yang berkunjung membawakan gegawan(oleholeh berupa kue-kue seperti kue cina, rengginang, opak, dan lain-lain). Orang-orang yang lain pun membalas kunjungan dengan menyertakan gegawan pula. Dengan begitu, hampir semua orang dapat merasakan masakan tetangganya, juga kue-kue tradisional dan modern(baik yang diolah sendiri maupun dibeli lantaran ingin praktis) dan minuman. Semua kelas sosial bersuka-cita karenanya dan merasakan indahnya kebersamaan. Terdapat anteran istimewa yang biasanya dilakukan oleh menantu kepada mertuanya. Isinya pun adalah masakan menantu. Pada musim ikan bandeng, isi anterannya adalah ikan berduri ini. Semakin besar ikan bandeng yang diberikan, semakin terlihat keseriusan silaturrahmi menantu kepada mertua. Begitu juga ada anteran ikan ini dari seorang 58 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional ibu kepada besannya dan pula sebaliknya. Tradisi mengantar ikan bandeng ini lantas memengaruhi orang-orang Tionghoa(ada juga yang menyebutkan orang-orang Cina) untuk melakukannya. Bagi orangorang Tionghoa, Bandeng memiliki banyak duri yang dimaknai sebagai simbol rejeki yang berlimpah. Abdul Chaer mengatakan bahwa tradisi Nganter ini telah berlangsung sampai tahun 1950-an. Namun untuk saat ini, kebiasaan ini sudah jarang dilakukan atau hanya dilakukan oleh segelintir orang/ masyarakat Betawi. Nganter yang dimaksud di sini adalah saling berbalas memberi masakan(makanan). Adapun Nganter dengan membawakan gegawan, masih semarak dilakukan pada tiap lebaran Idul Fitri(yang berarti dilakukan minimal setahun sekali). Uraian budaya Nganter tersebut memberikan gambaran mengenai sosok masyarakat Betawi yang merawat tali kekeluargaan dan persahabatan. Tali kekeluargaan dibasuh dengan berkirim makanan dan minuman baik dari yang muda kepada yang tua atau sebaliknya, juga dari besan ke besan. Tali persahabatan dijaga dengan berkirim hal yang sama dari murid ke guru, kerabat ke kerabat. Kebiasan ini juga memiliki makna sosial lain yakni adanya upaya membangun budaya gotong-royong dengan menyambangi mereka yang berasal dari kelas tak berpunya. Perihal penting lainnya yang terdapat dari tradisi Nganter ini adalah sebagai jembatan untuk mendinginkan dan melunturkan suatu kecurigaan misalnya, akibat perselisihan maupun kesalahpahaman antarkeluarga atau antarkerabat. Tradisi nganter yang dipraktikkan oleh masyarakat Betawi, memiliki beberapa nilai yang dapat dijadikan pelajaran, kekeluargaan dan kepedulian. Sisi kekeluargaan dapat dilihat dari cara masyarakat Betawi mempraktikkan tradisi nganter dengan memberikan beberapa makanan kepada para keluarga(baik yang muda kepada yang tua maupun sebaliknya) besan, bahkan kepada para kerabat. Sementara itu, sisi kepedulian dapat dilihat dari cara masyarakat Betawi mempraktikkan tradisi nganter dengan memberikan beberapa makanan kepada para tetangga. Rangkuman Nganter adalah mengantarkan sesuatu kepada orang lain. Sesuatu yang di- anter biasanya berupa makanan, minuman, buahbuahan dan lain-lain. Intensitas Nganter ini lebih banyak terjadi pada Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 59 bulan Ramadhan. Ketika ada yang memasak kolak misalnya, maka ia membagikan ke tetangga-tetangga terdekat. Tradisi nganter yang dipraktikkan oleh masyarakat Betawi, memiliki beberapa nilai yang dapat dijadikan pelajaran, kekeluargaan dan kepedulian. Latihan Pembelajaran 1. Apa yang dimaksud dengan tradisi nganter pada masyarakat Betawi? 2. bulan apa dan hari besar apa intensitas nganter semakin tinggi? 3. minimal lima makanan yang dijadikan sebagai pemberian pada tradisi nganter? 4. Mengapa tradisi nganter dapat dikatakan penting? 5. Nilai-nilai apa yang terdapat dari tradisi nganter? 60 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 61 MATERI 11 Pelestarian Hutan dalam Masyarakat Adat Kasepuhan 62 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Tema Kelas Alokasi Waktu Metode Pembelajaran Media Belajar Sumber Belajar : Hutan dalam Masyarakat Hukum Adat Kasepuhan : 3 SMP : 1 JPL(45 Menit) : Diskusi, Tanya Jawab, Pengamatan dan Kunjungan : Projector, Gambar/Video Pelestarian Hutan Adat Kasepuhan : Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Kompetensi Dasar - dan mengenal tradisi pelestarian hutan Masyarakat Adat Kasepuhan Indikator Pencapaian Kompetensi/Capaian Pembelajaran - Aspek Pengetahuan Memahami pentingnya pelestarian hutan bagi Masyarakat Adat Kasepuhan - Aspek Sikap Menghargai dan menghormati tradisi pelestarian hutan sebagai bagian dari Masyarakat Adat Kasepuhan - Aspek Keterampilan Mampu mempraktikkan nilai-nilai penting yang terdapat dari tradisi pelestarian hutan bagi Masyarakat Adat Kasepuhan, seperti cinta dan peduli kepada alam/hutan. Tujuan Pembelajaran - dapat menjelaskan pelestarian hutan sebagai bagian dari Masyarakat Adat Kasepuhan - dapat mempraktikkan nilai-nilai penting yang terdapat dalam tradisi pelestarian hutan pada Masyarakat Adat Kasepuhan Materi Pembelajaran Masyarakat Adat Kasepuhan hidup bergantung pada alam, mereka memanfaatkan apa yang alam sediakan tanpa mengambilnya secara berlebihan. Pemahaman tentang menjaga alam sudah tertuang sejak Kasepuhan itu ada, hal ini terbukti melalui beberapa tatali paranti karuhun(Aturan Adat Leluhur) yang isinya mengacu pada bagaimana Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 63 seharusnya hidup selaras dengan alam, seperti konsep pemahaman dan menjaga kelestarian hutan. Mengenai konsep hutan, Masyarakat Adat Kasepuhan punya pandangan tersendiri. Jika pemerintah mempunyai program zonasi hutan lindung, maka masyarakat adat Kasepuhan mengenal adanya leuweung tutupan, leuweung titipan, leuweung awisan dan leuweung garapan/sampalan yang merupakan bagian dari tatali paranti karuhun. Leuweung Tutupan, disebut juga leuweung kolot/leuweung geledegan(rimba), merupakan sebuah lahan hutan yang masih terjaga keasliannya. Habitat dan vegetasinya masih tidak tersentuh. Masyarakat adat mengkategorikan hutan ke dalam hutan larangan yang sama sekali tidak boleh diganggu gugat, bahkan masyarakat adat meyakini bahwa hutan ini dijaga oleh makhluk gaib, dan siapapun yang mencoba memasuki dan mengganggu keaslian hutan ini akan tertimpa kabendon dan kuwalat. Ketika sudah berhubungan dengan kabendon atau akibat dari sesuatu yang melanggar aturan adat maka tidak ada tawar menawar lagi bagi masyarakat hukum adat. Leuweung Titipan, lahan hutan ini merupakan titipan dari karuhun. Mengenai penggunaannya masyarakat adat belum diizinkan sebelum ada wangsit dari karuhun untuk membuka atau menggarapnya. Aturan pada hutan ini tidak seketat leuweung tutupan, jika memang ada kebutuhan mendesak yang harus diambil dari hutan ini, maka masih bisa dimasuki namun harus celuk(meminta izin kepada karuhun (Leluhur) dengan melakukan ritual khusus). Leuweung Awisan, yaitu hutan atau lahan cadangan yang akan digunakan untuk lahan pemukiman atau lahan garapan pada masa yang akan datang, setelah ada perintah atau wangsit yang mengharuskan untuk berpindah atau ngalalakon(berkelana). Pusat kasepuhan memang selalu berpindah-pindah sesuai perintah karuhun, sehingga bukan tidak mungkin jika kepindahannya bukan semakin ke tempat yang ramai, tapi justru semakin menjauh dan terpencil memasuki lahan atau hutan baru. Leuweung sampalan, lahan hutan ini merupakan hutan garapan yang digunakan untuk pemukiman dan lahan pertanian, biasanya berada di posisi dataran rendah. Pemahaman tentang konsep hutan ini merupakan sebuah kearifan lokal yang bahkan sudah ada sebelum gaung pembagian zonasi hutan lindung oleh pemerintah. Artinya Masyarakat Adat Kasepuhan sejak dahulu sudah memahami betapa pentingnya hutan untuk kehidupan, 64 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional hutan adalah sirah cai(sumber mata air) sehingga jika merusak hutan, berarti merusak sumber air. Adapun merusak sumber air bermakna merusak keberlangsungan hidup masyarakat adat. Pemanfaatan hasil hutan seperti kayu untuk membangun rumah juga dibatasi. Beberapa pohon yang diperbolehkan untuk digunakan untuk membangun rumah yaitu, pohon puspa, kisereh dan pasang. Di beberapa kasepuhan akan sedikit berbeda, tetapi satu hal yang pasti bahwa penggunaan hasil hutan dibatasi hanya sekedar untuk kebutuhan yang mendesak. Hasil hutan lain yang boleh dimanfaatkan adalah tanaman obat yang terdapat di hutan, seperti pohon gaharu dan pohon kemenyan, yang digunakan juga sebagai alat ritual adat. Selain itu, ada pula rotan yang digunakan untuk bahan pembuatan berbagai perkakas dapur dan perkakas lain untuk kebutuhan sehari-hari, seperti untuk membuat kaneron(tas tradisional dari rotan). Pemanfaatan yang serba dibatasi bertujuan untuk mempertimbangkan kelangsungan atau kelestarian hutan itu sendiri, hal ini sangat bertolak belakang dari ulah para oknum yang mengekplorasi hutan tanpa tanggung jawab dan melakukan penebangan terhadapnya untuk kepentingan pribadi. Sementara itu konsep hutan adat juga diatur dalam Peraturan Daerah No 8 Tahun 2015 Kabupaten Lebak tentang, Pengakuan, Perlindungan dan Pemberdayaan Masyarakat Hukum Adat yang memuat pengakuan 522 Kelompok Masyarakat Adat Kasepuhan, dijelaskan bahwa Leuweung Kolot atau disebut dengan Leuweung Tutupan adalah wilayah adat yang berdasarkan hukum adat dipertahankan sebagai wilayah konservasi lingkungan. Leuweung Titipan atau Cawisan adalah wilayah adat yang berdasarkan hukum adat dipertahankan sebagai wilayah cadangan untuk kegiatan pemanfaatan tanah dan sumber daya alam. Leuweung Sampalan atau Garapan adalah wilayah adat yang berdasarkan hukum adat dipergunakan untuk kepentingan mata pencaharian atau pemukiman masyarakat hukum adat.Leuweung Kolot atau Titipan adalah hutan adat yang berada di dalam wilayah adat. Selain PERDA, penegakan hak ulayat masyarakat adat juga tertuang dalam Putusan MK 35/PUU-X/2012 yang isi putusannya mengacu pada “Hutan adat adalah hutan hak dan bukan merupakan hutan negara”. Sehingga jika ada hutan adat yang masih masuk claim sebagai hutan negara, maka negara wajib mengeluarkannya dan mengembalikannya kepada masyarakat adat, karena itu merupakan perintah UndangModul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 65 Undang. Putusan tersebut merupakan legal standing bagi masyarakat adat sebagai penjaga dan pelestari hutan. Rangkuman Masyarakat Adat Kasepuhan hidup bergantung pada alam, mereka memanfaatkan apa yang alam sediakan tanpa mengambilnya secara berlebihan. Pemahaman tentang menjaga alam sudah tertuang sejak Kasepuhan itu ada, hal ini terbukti melalui beberapa tatali paranti karuhun(Aturan Adat Leluhur) yang isinya mengacu pada bagaimana seharusnya hidup selaras dengan alam. Mengenai konsep hutan, masyarakat Masyarakat Adat Kasepuhan mengenal adanya leuweung tutupan, leuweung titipan, leuweung awisan dan leuweung garapan/ sampalan yang merupakan bagian dari tatali paranti karuhun. Leuweung Tutupan, disebut juga leuweung kolot/leuweung geledegan(rimba), merupakan sebuah lahan hutan yang masih terjaga keasliannya. Leuweung Titipan, lahan hutan ini merupakan titipan dari karuhun. Mengenai penggunaannya masyarakat adat belum diizinkan sebelum ada wangsit dari karuhun untuk membuka atau menggarapnya. Leuweung Awisan, yaitu hutan atau lahan cadangan yang akan digunakan untuk lahan pemukiman atau lahan garapan pada masa yang akan datang, setelah ada perintah atau wangsit yang mengharuskan untuk berpindah atau ngalalakon(berkelana). Latihan Pembelajaran 1. Apa yang dimaksud dengan Leuweung Tutupan? 2. Apa yang dimaksud dengan Leuweung Titipan? 3. Apa yang dimaksud dengan Leuweung Awisan? 4. Apa yang dimaksud dengan Leuweung Sampalan? 5. Berikan penjelasan mengapa kita harus melestarikan hutan? 66 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 67 MATERI 12 Tatali, Paranti, Karuhun 68 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Tema Kelas Alokasi Waktu Metode Pembelajaran Media Belajar Sumber Belajar : Tatali, Paranti, Karuhun : 3 SMP : 1 JPL(45 Menit) : Diskusi, Tanya Jawab, Pengamatan dan Kunjungan : Projector, Gambar/Video Praktik Tatali, Paranti, Karuhun : Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Kompetensi Dasar - dan mengenal tradisi Tatali, Paranti, Karuhun pada Masyarakat Adat Kasepuhan Indikator Pencapaian Kompetensi/Capaian Pembelajaran - Aspek Pengetahuan Memahami pentingnya tradisi Tatali, Paranti, Karuhun pada Masyarakat Adat Kasepuhan - Aspek Sikap Menghargai dan menghormati tradisi Tatali, Paranti, Karuhun pada Masyarakat Adat Kasepuhan - Aspek Keterampilan Mampu mempraktikkan nilai-nilai penting yang terdapat dari tradisi Tatali, Paranti, Karuhun pada Masyarakat Adat Kasepuhan, seperti ketaatan(pada Tuhan dan Nagara) dan peduli kepada alam dan manusia. Tujuan Pembelajaran - dapat menjelaskan tradisi Tatali, Paranti, Karuhun sebagai bagian dari Masyarakat Adat Kasepuhan - dapat mempraktikkan nilai-nilai penting yang terdapat pada tradisi Tatali, Paranti, Karuhun Masyarakat Adat Kasepuhan Materi Pembelajaran Di Provinsi Banten, tepatnya di Kabupaten Lebak, terdapat dua entitas Masyarakat Adat, di antaranya ada Masyarakat Adat Suku Baduy dan Masyarakat Adat Kasepuhan. Berbeda dengan Masyarakat Adat Suku Baduy yang mengisolasi diri dari dunia luar, Masyarakat Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 69 Adat Kasepuhan Banten Kidul yang wilayahnya berada di desadesa tradisional dan setengah tradisional, bersedia menerima dan menyaring teknologi modern. Masyarakat Adat Kasepuhan Banten Kidul tersebar di daerah Provinsi Banten dan Jawa Barat di bagian Selatan. Di Provinsi Banten, khususnya di Kabupaten Lebak, sudah ditetapkan Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2015 yang mengatur tentang Pengakuan, Perlindungan, dan Pemberdayaan Masyarakat Hukum Adat Kasepuhan. Perda tersebut mencatat ada 522 Kasepuhan yang sudah teridentifikasi sebagai Masyarakat Hukum Adat. Kasepuhan terbagi menjadi beberapa kelompok, ada Kasepuhan induk atau Kasepuhan besar, Kasepuhan kecil seperti kaolotan yang tersebar di beberapa wilayah. Terdapat enam pupuhu Kasepuhan atau Kasepuhan Induk, di antaranya Wewengkon Citorek, Kasepuhan Guradog, Kasepuhan Bayah, Wewengkon Kasepuhan Sajira, Kasepuhan Cicarucub, dan Kasepuhan Cisungsang. Sebagian wilayah Kasepuhan berada di wilayah Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Sebagian besar wilayah Kasepuhan kondisinya adalah pegunungan dan perbukitan. Sebagai masyarakat adat, mereka menggantungkan kehidupan dengan alam dan sumber utama mata pencahariannya adalah dengan bertani tradisional. Mereka meyakini bahwa konsep keseimbangan hidup damai dan makmur dengan tidak mengorbankan alam sudah tertanam dalam tatali paranti karuhun. Tatali, Paranti, dan Karuhun dapat diartikan sebagai pedoman kehidupan Masyarakat Adat Kasepuhan yang dalam proses penerapannya terelaborasi dalam ketiga kategori, yaitu aturan Mokaha, Nagara dan Sara. Ketiga kategori ini dalam Masyarakat Adat Kasepuhan dikenal dengan istilah nyanghulu ka hukum(Sara), nunjang ka nagara (Nagara), mupakat ka balarea(Mokaha). Ketiga sumber aturan yang terbungkus dalam Tatali Paranti Karuhun berjalan berdampingan, saling melengkapi dan tidak pernah terjadi pertentangan dalam pelaksanaannya di Komunitas Adat Kasepuhan. Tiga unsur ini juga selaras dengan konsep ajaran agama Islam yakni hablumminallah (hubungan dengan Allah), hablumminannas(hubungan dengan manusia), dan hablumminal’alam(hubungan dengan alam). Pertama, mokaha mengandung arti aturan yang bersumber dari tradisi leluhur yang masih terjaga dan dipatuhi oleh seluruh anggota Masyarakat Adat dan menggunakan tradisi lisan secara turun temurun. Mokaha berisi tentang tata aturan dan nilai-nilai tradisi yang mengatur 70 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional larangan, pantangan, kewajiban, konsep pengelolaan wilayah adat, proses ritual, aturan yang berkaitan dengan life cycle(siklus kehidupan), pertanian, dan tata cara pengambilan keputusan dengan Musyawarah Adat. Mokaha didominasi oleh aturan-aturan tradisi yang mengatur hubungan dengan sesama anggota masyarakat adat, seperti mengatur hubungan dengan leluhur melalui ritual-ritual, mengatur dan melaksanakan pola/konsep pertanian tradisional, pengelolaan wilayah dan hutan adat berdasarkan zonasi dan pengaturan tentang kelembagaan adat dan tugas-tugas pemegang jabatan di struktur lembaga adat. Kedua, sara, yaitu aturan dan nilai agama Islam yang bersumber dari Alqur’an dan Hadits yang dianut oleh seluruh anggota Masyarakat Adat Kasepuhan di Banten Kidul. Aturan Agama ini menjadi landasan peribadatan dalam berhubungan dengan Allah SWT, Tuhan Sang Pencipta. Sama dengan muslim lainnya, Masyarakat Adat Kasepuhan juga melaksanakan kewajiban dan larangan yang mengatur tata kehidupan beragama seperti aturan peribadatan, aturan perkawinan, Hak Waris, dan lain sebagainya. Dalam hal ini Masyarakat Adat Kasepuhan harus berprinsip dan berpegang teguh pada syariat agama yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan. Ketiga, nagara. Aturan ini bersumber dari aturan penguasa saat ini atau aturan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Masyarakat Adat Kasepuhan juga merupakan penduduk Indonesia yang mempunyai hak dan kewajiban sama dengan penduduk lainnya di Indonesia. Konsep nunjang ka nagara mengandung arti bahwa Masyarakat Adat Kasepuhan mendukung Negara Kesatuan Republik Indonesia, patuh dan tunduk terhadap kebijakan dan peraturan perundang undangan yang berlaku di Indonesia. Soal aturan kependudukan, pertanahan, pendidikan, layanan kesehatan, KHUP, perpajakan, kehutanan, lingkungan hidup, dan aturan aturan lainnya yang sah, itu semua berlaku sama dan setara terhadap Masyarakat Adat Kasepuhan. Ketiga konsep itulah yang sampai saat ini berlaku dan berjalan seimbang dan seiring dalam kehidupan Masyarakat Adat Kasepuhan tanpa adanya benturan atau saling bertabrakan. Konsep Tatali, Paranti, dan Karuhun yang diwariskan dari para leluhur selalu menjadi pedoman bagi mereka dalam menjalankan hidup yang damai dan saling menyayangi, bukan saja dengan sesama manusia, tetapi juga antarmanusia dengan alam. Tatali, Paranti, dan Karuhun harus terus Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 71 dijaga, ditaati, ditradisikan, dan diwariskan kepeda generasi beikutnya agar masyarakat, khususnya pemuda adat, terhindar dari perilaku ekstrem, intoleran, dan radikal. Sebagai contoh ketika Pandemi Covid-19 tengah melanda seluruh dunia, Masyarakat Adat Kasepuhan melakukan caranya sendiri untuk menangkal dan melindungi warga adat, yaitu dengan melaksanakan Ritual Tolak Bala, juga secara bersama-sama berdo’a terhadap Allah SWT agar Pandemi segera berakhir, dan menerapkan Protokol Kesehatan sesuai anjuran Pemerintah. Pelaksanaan Ritual Tolak Bala dan Ritual Ngaraksa Lembur merupakan contoh dari aturan Mokaha, dan berdoa bersama kepada Allah SWT merupakan perilaku dari aturan Sara, sedangkan menerapkan Protokol Kesehatan merupakan bukti patuh terhadap aturan Pemerintah. Masyarakat Adat selalu menjalankan adat istiadat dan tradisi tanpa mengesampingkan hubungan mereka dengan Tuhannya dan aturan perundangan-undangan yang berlaku. Bagi mereka adat istiadat harus selalu berjalan beriringan dengan kepercayaan mereka yakni ajaran agama Islam. Karena keduanya sama-sama mengajarkan kebaikan dan melarang adanya kejahatan. Walaupun semua Masyarakat Adat Kasepuhan beragama Islam, akan tetapi mereka masih menjalankan adat tradisi atau tatali paranti yang telah diwariskan leluhur mereka, seperti memberikan sesajen, membakar menyan, mengadakan ritual adat, dan tradisi-tradisi lain di luar ajaran agama Islam. Salah satu ritual adat yang mereka laksanakan adalah ritual adat Seren Taun, yakni perayaan panen padi yang diadakan setiap satu tahun sekali. Ritual Seren Taun merupakan bentuk rasa syukur Masyarakat Adat atas berkah yang Tuhan berikan melalui panen yang melimpah. Masyarakat Adat Kasepuhan sangat memuliakan padi. Menjual padi, beras, maupun olahan dari beras itu menjadi pantangan bagi Masyarakat Adat Kasepuhan. Seren Taun yang biasanya dilaksanakan dengan meriah selama 7 hari 7 malam yang menampilkan berbagai kesenian tradisonal, selama pandemi Covid-19 dilakukan dengan sederhana dan diikuti terbatas hanya oleh para tetua adat saja. Hal ini juga membuktikan kepatuhan mereka terhadap aturan Nagara namun tetap melaksanakan aturan Mokaha. Kearifan lokal yang ada di Kasepuhan Banten Kidul yang bernuansa moderasi beragama terdapat dalam Tatali, Paranti, dan Karuhun atau norma-norma adat yang menjadi dasar kehidupan mereka, yakni tilu 72 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional sapamulu, dua sakarupa, hiji eta-eta keneh(tiga sejenis, dua serupa, dan satu itu-itu juga), yang bermakna bahwa meskipun Masyarakat Adat Kasepuhan memiliki berbagai macam keinginan, perilaku, dan sifat, pada hakikatnya semuanya berasal dari satu sumber yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Konsep aturan dasar tersebutlah yang mengendalikan seluruh perilaku Masyarakat Adat Kasepuhan. Rangkuman Tatali, Paranti, dan Karuhun, dapat diartikan sebagai pedoman kehidupan Masyarakat Adat Kasepuhan yang dalam proses penerapannya terelaborasi dalam tiga kategori, yaitu aturan Mokaha, Nagara dan Sara. Ketiga kategori ini dalam Masyarakat Adat Kasepuhan dikenal dengan istilah nyanghulu ka hukum(Sara), nunjang ka nagara (Nagara), mupakat ka balarea(Mokaha). Ketiga sumber aturan yang terbungkus dalam Tatali, Paranti, dan Karuhun berjalan berdampingan, saling melengkapi dan tidak pernah terjadi pertentangan dalam pelaksanaannya di Komunitas Adat Kasepuhan. Tiga unsur ini juga selaras dengan konsep ajaran agama Islam yakni hablumminallah (hubungan dengan Allah), hablumminannas(hubungan dengan manusia), dan hablumminal’alam(hubungan dengan alam). Konsep Tatali, Paranti, dan Karuhun yang diwariskan dari para leluhur selalu menjadi pedoman bagi masyarakat Adat Kasepuhan dalam menjalankan hidup yang damai dan saling menyayangi, bukan saja dengan sesama manusia, tetapi juga antarmanusia dengan alam. Latihan Pembelajaran 1. Apa arti dari Tatali, Paranti, dan Karuhun? 2. Apa arti dari Mokaha? 3. Apa arti dari Sara? 4. Apa arti dari Nagara? 5. apa yang terdapat dalam Tatali, Paranti, dan Karuhun pada Masyarakat Adat Kasepuhan? Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 73 MATERI 13 Filosofi Pakaian Adat Sunda 74 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Tema Kelas Alokasi Waktu Metode Pembelajaran Media Belajar Sumber Belajar : Filosofi Pakaian Menurut Adat Sunda : 3 SMP : 1 JPL(45 Menit) : Ceramah, Diskusi, dan Tanya Jawab : Projector, Gambar Pakaian Adat Sunda : Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Kompetensi Dasar - Mengetahui dan mengenal filosofi pakaian menurut adat Sunda Indikator Pencapaian Kompetensi/Capaian Pembelajaran - Aspek Pengetahuan Memahami pentingnya filosofi pakaian menurut adat Sunda - Aspek Sikap Menghargai dan menghormati pakaian adat Sunda sebagai bagian dari tradisi masyarakat Sunda - Aspek Keterampilan Mampu mempraktikkan nilai-nilai filosofis yang terdapat pada pakaian masyarakat Sunda, seperti pekerja keras, ketulusan, dan toleran. Tujuan Pembelajaran - Siswa dapat menjelaskan filosofi pakaian menurut adat Sunda - dapat mempraktikkan nilai-nilai filosofis yang terdapat pada pakaian masyarakat Sunda Materi Pembelajaran Desa Rawabogo, yang terletak di Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat merupakan daerah yang terdiri dari perkebunan dan pesawahan. Desa Rawabogo ini merupakan pintu masuk menuju situs megalitikum Gunung Padang yang terletak di perbatasan Kecamatan Ciwidey dan Cililin, Kabupaten Bandung Barat. Batu-batu yang berdiri kokoh di atas Gunung Padang dijuluki oleh masyarakat seperti Batu Lawang Saketen, Batu Masjid, Batu Keraton, Batu Lorong, Batu Kidang Kencana, Batu Leuit Salawe Jajar, Batu Kacapi, Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 75 Batu Gedag. Batu-batu tersebut menjadi situs dilaksanakannya ritual adat untuk mengenal tahapan-tahapan perjalanan kehidupan seorang manusia. Dalam rangkaian ritual di Gunung Padang, selain warga setempat, pendatang dapat ikut serta dalam pelaksanaannya. Hal pokok bagi siapapun yang melaksanakan ritual adalah taat pada aturan penggunaan pakaian, baik dari segi warna maupun bentuk. Peserta perempuan mengenakan pakaian atas-bawah yaitu putih dan hitam dilengkapi dengan selendang bermotik batik. Sementara peserta laki-laki mengenakan pakaian pangsi hitam bermodel longgar serta mengenakan ikat di kepala. Dari segi pakaian saja, nilai-nilai filosofis yang tinggi sudah termaktub di dalamnya sebagai cerminan konsep manusia dalam kacamata adat Sunda. Baik peserta perempuan maupun laki-laki, sama-sama menggunakan aspek warna hitam pada pakaiannya. Warna hitam mempunyai makna siap bekerja dan tidak takut kotor. Hal ini untuk mengajarkan bahwa orang Sunda adalah seorang pekerja keras, giat, serta tidak malas. Bagi peserta laki-laki, imajinasi ini dimungkinkan dengan pemakaian bentuk celana lebar dan berukuran pangsi(panjang ¾). Dengan model pakaian tersebut maka dimungkinkan orang pemakainya lebih sigap dan cekatan dalam bergerak. Demikian juga pada peserta perempuan, yaitu pakaian serupa kebaya yang panjangnya sebagai atasan yang hanya beberapa sentimeter di bawah lutut dengan model longgar yang memungkinkan kemudahan bergerak. Selendang bagi perempuan yang diselempangkan di dada pun sebagai penanda kesiapan untuk bekerja keras. Selendang mempunyai fungsi beraneka ragam dalam membantu pekerjaan. Dengan demikian dari segi gender, baik laki-laki maupun perempuan sama-sama memiliki mental pekerja keras yang dicerminkan dari warna dan bentuk pakaiannya. Selain itu, warna hitam secara konseptual merupakan warna yang dapat menyerap semua warna serta dapat mempengaruhi semua warna. Filosofi di balik karakter warna hitam ini menunjukkan bahwa orang Sunda harus setia pada nilai-nilai yang diturunkan para lelulur tetapi juga harus bisa menyesuaikan diri dengan perubahan zaman yang ada. Secara sosiologis, diharapkan kehadiran orang Sunda dimanapun dapat selalu dirasakan dan dinantikan. Selain unsur warna hitam, pakaian untuk laki-laki selalu dipadu dengan kaos dalam putih. Hal ini menunjukkan filosofi bahwa orang 76 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Sunda tidak mengutamakan penampilan tetapi mengutamakan hati. Aspek hati yang ditunjukkan dengan warna putih menjadi nilai keutamaan seseorang. Hati yang putih artinya hati yang tulus, tanpa pamrih. Bagi peserta laki-laki harus pula mengenakan ikat kepala berbentuk bujur sangkar, empat sudut menunjukkan empat arah mata angin: wetan, kulon, kaler jeung kidul dengan titik pusat di tengah. Titik pusat ini adalah Sang Ilahi sebagai penentu hidup manusia. Empat sudut ikat ini merujuk pada empat kitab manusia, yaitu Quran, Injil, Zabur dan Taurat. Keempat kitab tersebut mempunyai sumber yang sama yaitu yang Ilahi. Cara pemakaiannya adalah jika dilipat secara diagonal ikat kepala ini akan berbentuk segi tiga yang setiap sudutnya memiliki arti welas-asih(belaskasih), rokhman-rokhim(penyayang dan pengampun) dan silihwangi(benar-benar seorang manusia atau manusia yang manusiawi). Sifat ini menjadi inti dari setiap agama. Pada anatomi tubuh, ikatan kepala pun menunjukkan suatu ikatan persatuan dari panca indera yang memiliki fungsi dan kepentingan yang berbeda-beda. Mata berfungsi untuk melihat sesuatu. Hidung berfungsi untuk mencium sesuatu. Telinga berfungsi untuk mendengar sesuatu. Kulit berfungsi untuk merasakan sesuatu. Lidah berfungsi untuk mencicipi sesuatu. Dengan fungsi dan kepentingan masing-masing indera berbeda-beda tersebut, didorong akan adanya kesetaraan fungsi, tidak ada yang merasa lebih daripada yang lain karena semua aspek saling membutuhkan. Ikat kepala merupakan simbol pengikat persatuan dari fungsi yang berbeda-beda ini. Selain itu, ikat kepala juga bermakna sebagai pedoman hidup. Setiap manusia yang diciptakan di dunia ini harus memiliki pedoman hidup yang dapat menuntunnya menjadi manusia yang utuh atau sempurna. Corak atau motif batik pada ikat kepala pun memiliki makna. Batik bermakna“batas”. Motif ini untuk mengingatkan bahwa manusia harus mengetahui akan batas atau mampu untuk mengekang hawa nafsunya. Dengan demikian, ikat kepala menunjukkan pengendalian diri dan bisa berarti sikap toleransi terhadap semua perbedaan. Filosofi yang terdapat dalam bentuk, warna dan corak pakaian yang dipakai dalam ritual adat di Gunung Padang ini dapat menjadi sarana pendidikan karakter bagi generasi muda. Di balik sesuatu yang menempel pada tubuh, disertai warna yang sederhana terdapat nilai-nilai luhur yang menjadi cerminan konsep manusia Sunda yang filosofis, agamis dan estetik. Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 77 Rangkuman Desa Rawabogo ini merupakan pintu masuk menuju situs megalitikum Gunung Padang yang terletak di perbatasan Kecamatan Ciwidey dan Cililin, Kabupaten Bandung Barat. Batu-batu yang berdiri kokoh di atas Gunung Padang dijuluki oleh masyarakat seperti Batu Lawang Saketen, Batu Masjid, Batu Keraton, Batu Lorong, Batu Kidang Kencana, Batu Leuit Salawe Jajar, Batu Kacapi, Batu Gedag. Batu-batu tersebut menjadi situs dilaksanakannya ritual adat untuk mengenal tahapan-tahapan perjalanan kehidupan seorang manusia. Dalam rangkaian ritual di Gunung Padang, selain warga setempat, pendatang juga dapat ikut serta dalam pelaksanaannya. Hal pokok bagi siapapun yang melaksanakan ritual adalah taat pada aturan penggunaan pakaian, baik dari segi warna maupun bentuk. Peserta perempuan mengenakan pakaian atas-bawah yaitu putih dan hitam dilengkapi dengan selendang bermotik batik. Sementara peserta laki-laki mengenakan pakaian pangsi hitam bermodel longgar serta mengenakan ikat di kepala. Warna hitam mempunyai makna siap bekerja dan tidak takut kotor. Hal ini untuk mengajarkan bahwa orang Sunda adalah seorang pekerja keras, giat, serta tidak malas Kaos dalam putih menunjukkan filosofi bahwa orang Sunda tidak mengutamakan penampilan tetapi mengutamakan hati. Aspek hati yang ditunjukkan dengan warna putih menjadi nilai keutamaan seseorang. Hati yang putih artinya hati yang tulus, tanpa pamrih. Selain itu, ikat kepala juga bermakna sebagai pedoman hidup. Setiap manusia yang diciptakan di dunia ini harus memiliki pedoman hidup yang dapat menuntunnya menjadi manusia yang utuh atau sempurna. Corak atau motif batik pada ikat kepala pun memiliki makna. Batik bermakna“batas”. Motif ini untuk mengingatkan bahwa manusia harus mengetahui akan batas atau mampu untuk mengekang hawa nafsunya. Latihan Pembelajaran 1. julukan yang terdapat pada batu-batu yang berdiri di atas Gunung Padang, Desa Rawabogo di perbatasan Kecamatan Ciwidey dan Cililin, Kabupaten Bandung Barat? 2. makna warna hitam pada pakaian adat Sunda ketika melakukan ritual adat untuk mengenal tahapan-tahapan perjalanan kehidupan seorang manusia! 78 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 3. makna warna putih pada pakaian adat Sunda ketika melakukan ritual adat untuk mengenal tahapan-tahapan perjalanan kehidupan seorang manusia! 4. makna ikat kepala pada pakaian adat Sunda ketika melakukan ritual adat untuk mengenal tahapan-tahapan perjalanan kehidupan seorang manusia! 5. apa yang terdapat pada pakaian adat masyarakat Sunda ketika melakukan ritual adat untuk mengenal tahapan-tahapan perjalanan kehidupan seorang manusia? Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 79 MATERI 14 Kalindaqdaq: Puisi Suku Kata dari Mandar 80 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Tema Kelas Alokasi Waktu Metode Pembelajaran Media Belajar Sumber Belajar : Kalindaqdaq: Puisi Suku Kata dari Mandar : 3 SMP : 1 JPL(45 Menit) : Ceramah, Diskusi, dan Tanya Jawab : Laptop, Projector, Puisi Kalindaqdaq : Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Kompetensi Dasar - dan mengenal Kalindaqdaq(Puisi Suku Kata dari Mandar) sebagai bagian dari tradisi masyarakat Mandar Indikator Pencapaian Kompetensi/Capaian Pembelajaran - Aspek Pengetahuan Memahami pentingnya keberadaan Kalindaqdaq bagi masyarakat suku Mandar - Aspek Sikap Menghargai dan menghormati Kalindaqdaq yang merupakan bagian dari tradisi masyarakat Mandar - Aspek Keterampilan Mampu mempraktikkan nilai-nilai penting yang terdapat dalam tradisi andilan di kehidupan keseharian, seperti kebersamaan, gotong royong dan kepedulian. Tujuan Pembelajaran - dapat menjelaskan Kalindaqdaq dalam tradisi masyarakat Mandar - dapat mempraktikkan Kalindaqdaq dengan pola 8-7-5-7 dan pola 15-12 suku kata Materi Pembelajaran Puisi menjadi salah satu tradisi kebudayaan kesusastraan yang berkembang di dunia dan juga di Indonesia. Hampir setiap daerah memiliki jenis puisinya masing-masing dengan aturannya sendiri. Dalam konteks global ada haiku dengan tiga lariknya di Jepang, ada soneta dengan struktur kuatrin dan terzina di Italia, ada syair Arab, Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 81 dan di Indonesia ada pantun sebagai tradisi puisi melayu dengan aturan sampiran dan isinya. Dalam konteks yang lebih lokal, ada londe di Toraja dengan aturan suku katanya, elong di Bugis dengan bentuk tiga lariknya, kelong di Makassar, dan di Mandar ada yang disebut Kalindaqdaq sebagaimana londe, elong dan kelong dengan aturan suku katanya yang ketat. Mandar sendiri adalah sebuah etnik yang mendiami Sulawesi Barat. Secara historis Mandar merupakan wilayah persekutuan 14 kerajaan yang terbagi atas 7 kerajaan di hulu(gunung) yang disebut Pitu Ulunna Salu dan 7 kerajaan di hilir(laut) yang disebut Pitu Babana Binanga dengan berdasar pada perjanjian allamungan batu di luyo berkat inisiasi maraqdia kedua balanipa, Tomepayung. Secara geografis mandar kini terbentang dari Paku sampai Suremana yang merupakan batas wilayah provinsi Sulawesi Barat yang baru menemukan otonomi daerahnya pada tanggal 22 september 2004. Sebagaimana etnik yang kita pahami, Mandar pun memiliki beragam kebudayaan, dan salah satu kebudayaan di bidang kesusastraanya yang paling terkenal disebut Kalindaqdaq. Kalindaqdaq adalah puisi tradisional Mandar yang merupakan puncak sastra Mandar. Ia merupakan puisi yang diperuntukkan untuk memotivasi berbagai aspek kehidupan masyarakat Mandar juga sebagai alat penyebaran informasi dalam berbagai hal. Kalindaqdaq memiliki banyak defenisi oleh para budayawan Mandar. Setidaknya ada dua pendapat, menurut Suradi Yasil, Kalindaqdaq dapat ditinjau dari etimologinya, di mana“ Kali” berarti Gali dan“ Daqdaq” berarti Dada, sehingga Kalindaqdaq diartikan sebagai isi dada atau perasaan yang dinyatakan dengan kalimat yang indah. Sementara itu A. M. Mandra menganggap, Kalindaqdaq berasal dari beberapa kata arab, yaitu qaldan yang bermakna memintal, karena Kalindaqdaq memerlukan ketekunan dan kehati-hatian seperti menenun; qilidun bermakna gudang dan qaladah atau qalaaid yang bermakna hiasan perempuan, sehingga Kalindaqdaq bermakna ungkapan yang disampaikan dengan ketekunan dan kehati-hatian dengan menggunakan kalimat yang indah sebagaimana hiasan perempuan. Kalindaqdaq sudah berkembang di Mandar sebagai tradisi lisan dan sampai sekarang masih bisa kita temukan penggunaannya seperti dalam perhelatan Sayyang Pattudu(kuda menari)—sebuah tarian kuda dengan seorang perempuan dan laki-laki penunggangnya baru 82 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional saja menamatkan Alquran. Dulu Kalindaqdaq digunakan saat ingin melamar seseorang, di mana pihak pelamar akan mengutus seseorang untuk melakukan prosesi berbalas Kalindaqdaq di mana pihak yang dilamar juga akan mempersiapkan orang yang akan membalas Kalindaqdaq, sayangnya tradisi itu sudah mulai ditinggalkan. Penggunaan Kalindaqdaq dengan beragam peruntukkannya ini tergambarkan dari tema Kalindaqdaq itu sendiri, di mana Kalindaqdaq memiliki ragam tema; Kalindaqdaq agama yang lebih banyak bicara mengenai pengajaran nilai-nilai keagamaan, penuturan adat untuk menyampaikan petuah-petuah adat, pamali, dan pesan-pesan leluhur, Kalindaqdaq asmara yang berkutat pada romansa, Kalindaqdaq anak-anak yang penuh dengan kelakar, dan Kalindaqdaq hiburan yang disampaikan dengan niatan untuk saling menghibur. Penentuan tema ini juga dikarenakan kalindaqdaq tidak memiliki judul sehingga penghimpunannya berdasarkan tema. Berdasarkan bentuknya, Kalindaqdaq dibagi atas tiga, yaitu Kalindaqdaq nakeke(anak-anak), to manetuo(anak muda) dan to mabubeng(orang tua) yang mana bentuknya ini dibagi berdasarkan kelompok usia. Kalindaqdaq nakeke merupakan sebuah Kalindaqdaq yang digunakan sekaligus sebagai ungkapan oleh anak-anak untuk menyatakan perasaannya, baik itu kesedihan atau kelakar yang isinya lebih banyak sindiran dan olok-olokan. Lalu, Kalindaqdaq to manetuo digunakan oleh anak muda yang beirisi perasaan menggebu-gebu kepada perempuan, ungkapan suasana hati yang disampaikan dengan rayuan-rayuan dan ungkapan melankolia bilamana cintanya tidak terbalas. Sementara Kalindaqdaq to mabubeng, adalah Kalindaqdaq yang diperuntukkan untuk orang tua di mana isinya lebih banyak nasihat, pendidikan moral, ungkapan saat meminang dan yang akan dipinang dan lebih banyak berkaitan dengan pesan keagamaan. Dalam historiografi puisi Indonesia, Kalindaqdaq merupakan jenis puisi lama yang berpegang pada aturan yang ketat, atau dalam kata lain disebut sebagai puisi suku kata. Aturan penulisannya harus menggunakan suku kata dan Kalindaqdaq memiliki aturan suku kata 8-7-5-7. Delapan suku kata di larik pertama, tujuh suku kata di larik berikutnya, lima suku kata di larik ketiga dan tujuh suku kata di larik penutup. Kalindaqdaq sebagaimana pantun yang terdiri dari empat larik di setiap baitnya, namun tidak membagi dua lirik pembuka sebagai sampiran dan dua larik akhir sebagai isi, melainkan keseluruhan Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 83 lariknya yang merupakan isi. Berikut contoh Kalindaqdaq dalam tema agama(Islam): Peqissangngi tongang-tongang(8 suku kata) Rokonna asallangang(7 suku kata) Sambona batang(5 suku kata) Lambiq lao di aheraq(7 suku kata) Peq-is-sang-ngi to-ngang-to-ngang Ro-kon-na a-sal-la-ngang Sam-bo-na ba-tang Lam-biq lao di a-he-raq Kenalilah sebenar-benarnya Rukun Islam Pelindung diri Sampai ke akhirat Yang dimaksud dalam Kalindaqdaq di atas, merupakan nasihat mengenai rukun Islam sebagai pelindung diri bagi umat Islam dunia akhirat. Kalindaqdaq dengan pola 8-7-5-7 merupakan pola yang paling umum yang dirumuskan oleh Suradi Yasil, tetapi dalam salah satu naskah lontar terdapat Kalindaqdaq dengan pola dua larik dalam satu kerat atau bait. Hal ini diafirmasi Bakrie Latif dan Darmansyah dalam buku yang ditulis oleh keduanya berjudul Sastra Mandar. Penulis buku Sastra Mandar itu merumuskan pola lain dengan suku kata 15-12 suku kata. Argumentasi keduanya didasarkan dari adanya keterhubungan antara Kalindaqdaq dan syair arab dan pantun melayu yang memiliki kesamaan bentuk(struktur). Dalam hal ini puisi empat larik dalam satu bait dan Syair Arab dan Pantun melayu memiliki bentuk puisi dengan dua larik, sehingga inilah yang menjadi alasan mengapa ada Kalindaqdaq dalam bentuk dua larik tersebut. Adapun contoh Kalindaqdaq dua larik perbait dengan tema agama: Mula dianna dunia Makka anna’ Madina(15 suku kata) Posi’na lino iyamo Baetullah(12 Suku kata) 84 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Mu-la di-an-na du-ni-a Mak-ka an-na’ Ma-di-na Po-si’-na li-no i-ya-mo Ba-e-tul-lah Puisi itu dapat dimaknai secara leksikal: Pertama kali dunia ada, Makkah-lah dengan Madinah Pusatnya dunia itulah Baitullah Terdapat sedikit perbedaan penulisaan ejaan mandar di antara keduanya. Pada Kalindaqdaq versi Suradi Yasil bunyi hamzah( glottal stop) dilambangkan dengan menggunakan huruf(q), berdasarkan lokakarya pembakuan ejaan latin bahasa-bahasa daerah(termasuk ejaan Mandar) di Sulawesi Selatan pada tahun 27 Agustus 1975 di Ujung Pandang. Sementara itu, versi Bakrie Latief dan Darmansyah menggunakan apostrof(‘) dengan alasan penggunaan apostrof dalam tulisan Mandar akan memudahkan bagi penutur aslinya secara umum(orang Mandar) dan orang non-Mandar secara khusus untuk menyebutkannya. Alasan lain karena(q) adalah huruf dan bukanlah tanda baca. Dengan kata lain Bakrie Latif dan Darmansyah menolak mengikuti konvensi pembakuan ejaan di tahun 1975 itu. Perbedaan tersebut adalah sesuatu yang lumrah dalam diskursus kebudayaan dan keberagamannya merupakan salah satu bentuk khazanah kebudayaan itu sendiri, terkecuali argumentasi tersebut disampaikan dengan tidak berdasarkan pada penelitian ilmiah, barulah argumentasi tersebut digugurkan melalui kritik yang ilmiah pula. Kalindaqdaq seharusnya sudah menjadi identitas sekaligus kebanggaan masyarakat Indonesia secara umum dan orang-orang Mandar secara khusus, terlepas dari versi penulisan Kalindaqdaq mana yang diikuti, sebab Kalindaqdaq telah mewarnai keberagamaan sastra nusantara yang penuh dengan tradisi sastra yang kaya, sehingga kepunahan satu saja tradisi sastra ini akan membuat kita kehilangan identitas sebagai bangsa. Rangkuman Kalindaqdaq merupakan puisi tradisional di Mandar—sebuah etnik di Sulawesi Barat. Hingga kini Kalindaqdaq masih bisa ditemukan di Mandar dalam beberapa perhelatan, baik itu dalam hajatan warga yang baru saja anggota keluarganya menamatkan Alquran hingga dalam pementasan seni. Kalindaqdaq yang merupakan tradisi yang sudah Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 85 bertahan puluhan tahun ini perlu dilestarikan dengan menjadikannya sebagai mata pelajaran di sekolah agar keberadaannya tidak punah oleh perkembangan zaman. Latihan Pembelajaran 1. Apa yang dimaksud dengan Kalindaqdaq? 2. Apa yang dimaksud dengan perhelatan Sayyang Pattudu? 3. minimal tiga ragam tema yang terdapat Kalindaqdaq? 4. Sebutkan tiga bentuk Kalindaqdaq! 5. Tuliskan puisi Kalindaqdaq dengan pola 8-7-5-7! dalam 86 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 87 MATERI 15 Sagu Nusantara 88 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Tema Kelas Alokasi Waktu Metode Pembelajaran Media Belajar Sumber Belajar : Sagu Nusantara : 3 SMP : 1 JPL(45 Menit) : Ceramah, Diskusi, dan Tanya Jawab : Projector, Video Pembuatan Sagu Nusantara : Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Kompetensi Dasar - dan mengenal sagu nusantara sebagai bagian dari tradisi masyarakat Nusantara Indikator Pencapaian Kompetensi/Capaian Pembelajaran - Aspek Pengetahuan Memahami pentingnya keberadaan sagu nusantara sebagai bagian kekhasan bagi masyarakat nusantara - Aspek Sikap Menghargai dan menghormati sagu nusantara yang merupakan bagian dari tradisi masyarakat nusantara - Aspek Keterampilan Mampu menjaga nilai-nilai penting yang terdapat dalam Sagu nusantara, seperti menjaga dan melestarikan alam Tujuan Pembelajaran - dapat menjelaskan sagu nusantara dalam tradisi lokal masyarakat nusantara - dapat mempraktikkan nilai-nilai penting yang terdapat dalam sagu nusantara Materi Pembelajaran Sagu atau rumbia merupakan tanaman asli nusantara yang hidup dengan perikehidupan di berbagai lokalitas. Tanaman asli ini mencerminkan pola hidup dan traditional knowledge yang tumbuh dan berkembang. Tanaman ini menjadi jembatan antara wilayah atau daerah tangkap air, wilayah perairan laut, hutan, dan pemukiman. Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 89 Penyebaran sagu di Indonesia(total sekitar 5.539.637 ha): Papua dan Papua Barat, 5.239.637 ha hutan sagu; Maluku 60.000 ha hutan sagu; Sulawesi 30.000 ha hutan sagu semi budidaya; Kalimantan :20.000 ha semi budidaya; Sumatera 50.000; Kep. Riau 20.000; Kep. Mentawai 10.000; Lain-lain 150.000 Bagaimana komunitas ini“menyimpan” dan“mengolah” secara tradisional? 1. diolah menjadi proses tata pemukiman. Pemukiman dan komunitas tradisional selalu menggunakan sagu untuk batas, sebagai kecukupan pangan mereka(dengan melihat umur tanaman) tiap rumah, dan mendorong pemulihan lahan. 2. dan limbah sagu diolah menjadi alat-alat rumah tangga. Alat-alat ini tidak akan pernah habis. 3. baik dalam hutan maupun budidaya, dijadikan wahana planning mengenai kecukupan pangan, pemukiman, dan ketersediaan alatalat. 4. menjadi“tanaman obat”, baik dari isi batang maupun dahan dan akar-nya. Proses-proses yang dibutuhkan dalam membangun knowledge management: 1. proses masukan ke dalam pokok-pokok pemajuan 90 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional kebudayaan daerah; 2. dasar dan pengetahuan olah mengenai sagu Pada Maret 2020, Festival Sagu Nusantara diselenggarakan sebagai urun rembuk para pemulia tanaman dan pangan sagu serta pemulia pengetahuan mengenai sagu di Kecamatan Tebing Tinggi Timur Kabupaten Kepulauan Meranti. Festival ini dikerjakan bersama masyarakat setempat, pemerintah desa, kecamatan dan kabupaten, dan para pemulia sagu Nusantara. Pekan Sagu nusantara diselenggarakan juga pada tahun 2020. Serentak 14 provinsi menyelenggarakan kegiatan yang menghadirkan pemulia sagu nusantara serta gelar produk sagu. Menjadi bagian penting dari sagu nusantara adalah masyarakat adat. Masyarakat adat ini, baik di kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Sulawesi(terutama tengah dan selatan) telah memuliakan sagu dalam pangan, dalam kehidupan keseharian mereka, dan dalam menghormati alam. Sagu diperlakukan sebagai bagian dari nilai-nilai adat terutama dalam upaya mewariskan pangan dan alam kepada generasi berikutnya. Bagi masyarakat adat dan masyarakat pantai, sagu menjadi titik temu. Sagu yang diolah menjadi pangan pokok, salah satunya dikenal dengan nama “Kapurung”, diolah dengan bahan dari laut. Papeda di Maluku diolah dan dinikmati dengan ikan. Rempah-rempah menjadi bagian dari penganan ini. Kapurung(jurnalpalopo.pikiran-rakyat.com) Sagu juga menjadi bagian dari pengetahuan mengenai kelestarian alam. Masyarakat adat, masyarakat pantai, dan masyarakat desa, menanam dan melestarikan sagu untuk menata tanah lingkungan kehidupan. Sagu efektif menjadi tanggul untuk sungai dan penahan abrasi di wilayah muara. Lingkungan yang saling mendukung ini kemudian dikembangkan menjadi pengetahuan tradisi mereka. Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 91 (Sumber: presentasi Prof. Dr. Agnes Rampisela) Rangkuman Sagu atau rumbia merupakan tanaman asli nusantara yang hidup dengan perikehidupan di berbagai lokalitas. Tanaman asli mencerminkan pola hidup dan traditional knowledge yang tumbuh dan berkembang. Tanaman ini menjadi jembatan antara wilayah atau daerah tangkap air, wilayah perairan laut, hutan, dan pemukiman. Sagu juga menjadi bagian dari pengetahuan mengenai kelestarian alam. Masyarakat adat, masyarakat pantai, dan masyarakat, menanam dan melestarikan sagu untuk menata tanah lingkungan kehidupan. Latihan Pembelajaran 1. Bagaimana sagu disimpan dan diolah? 2. tujuan dari diadakannya Festival Sagu Nusantara pada Maret 2020? 3. adat mana saja yang memuliakan keberadaan sagu nusantara? 4. Mengapa sagu menjadi bagian penting bagi masyarakat adat? 5. Nilai-nilai pelajaran apa yang terdapat dalam sagu nusantara? 92 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 93 MATERI 16 Tradisi Lokal Masyarakat Batak 94 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Tema Kelas Alokasi Waktu Metode Pembelajaran Media Belajar Sumber Belajar : Permainan Margala Batak : 3 SMP : 1 JPL(45 Menit) : Ceramah, Diskusi, Tanya Jawab, Demonstransi : Projector, Gambar/Video Permainan Margala Batak : Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Kompetensi Dasar - dan mengenal permainan Margala sebagai bagian dari tradisi masyarakat Batak Indikator Pencapaian Kompetensi/Capaian Pembelajaran - Aspek Pengetahuan Memahami pentingnya keberadaan peramainan Margala bagi masyarakat Batak - Aspek Sikap Menghargai dan menghormati permainan Margala yang merupakan bagian dari tradisi masyarakat Batak - Aspek Keterampilan Mampu mempraktikkan nilai-nilai penting yang terdapat dalam permainan Margala di kehidupan keseharian, seperti kerjasama, kekompakkan dan sportivitas. Tujuan Pembelajaran - dapat menjelaskan permainan Margala dalam tradisi masyarakat Batak - dapat mempraktikkan nilai-nilai penting yang terdapat dalam permainan Margala Materi Pembelajaran Seiring perkembangan zaman, permainan tradisional mulai dilupakan bahkan ada yang menghilang. Lahan kosong yang menyusut dan perkembangan teknologi menjadi faktor permainan tradisional ditinggalkan. Anak-anak zaman sekarang alias zaman“ now” lebih suka memegang gawai dan bermain game online. Kebiasaan ini sejatinya Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 95 bisa menghambat perkembangan sosial anak. Mereka cenderung mengasingkan diri dan tidak mau bersosialisasi. Anak-anak yang kecanduan gadget juga jarang berolahraga. Akibatnya, tubuh mereka akan lebih lemah dan mudah sakit. Padahal, banyak sekali permainan tradisional yang bermanfaat bagi anak-anak. Salah satu permainan tradisional tersebut ialah Margala atau di sebagian daerah Toba, Provinsi Sumatera Utara menamakan permainan ini dengan sebutan Marcabor. Margala merupakan jenis permainan anak yang dilakukan oleh anak-anak Suku Batak di daerah kawasan Danau Toba. Permainan tradisional ini ternyata sudah ada sejak zaman dahulu. Bahkan, permainan Margala ini adalah salah satu permainan sebagai hiburan resmi para raja Batak terdahulu. Permainan ini dulunya dimainkan pada saat rondang bulan atau poltak tula, yang artinya terang bulan. Ketika rondang bulan inilah seluruh rakyat berkumpul di halaman rumah sang raja. Permainan ini sangat mudah untuk dimainkan dan tidak memerlukan alat yang sulit ditemukan. Para pemain Margala hanya bermodalkan dengan menggambar dan menggaris bentuk permainan di atas tanah atau lapangan yang telah tersedia. Bentuknya terdiri dari tiga garis horizontal dan tiga garis vertikal yang membentuk empat kotak dan kotak itulah yang dijadikan arena permainan. Bagi masyarakat Batak, cara memainkan permainan ini sangatlah seru. Permainan ini merupakan permainan yang dimainkan dua tim. Pada permainan ini perempuan dengan laki-laki dapat bergabung karena permainan ini tidak membutuhkan tenaga yang kuat akan tetapi kejelian dan kelincahan setiap pemain. Pertama-tama, tiga orang lawan berkesempatan untuk menjaga di tiga titik terdepan dan ada seseorang lagi yang berkesempatan menjaga di tengah garis vertikal. Kemudian yang menjadi pihak lawan akan berusaha memasuki arena yang telah dijaga tersebut. Lawan akan berusaha masuk dengan cara jangan sampai badan mereka tersentuh oleh pihak yang menjaga, apabila salah seorang pihak lawan yang masuk badannya tersenggol oleh tim yang menjaganya maka berarti lawan tersebut kalah dan permainan digantikan oleh pihak yang bertugas menjaga. Namun, jika lawan lolos maka akan mendapat tambahan nilai dan posisinya akan kembali ke tempat semula untuk memainkan permainan untuk yang kedua kalinya. Permainan ini juga dikategorikan sebagai salah satu jenis olahraga 96 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional tradisional yang hingga kini masih dilestarikan keberadaannya. Permainan Margala ini merupakan permainan yang membutuhkan kegesitan dari setiap para pemainnya. Pasalnya, jika kita bermain permainan ini dan tersentuh oleh lawan, maka kita akan dinyatakan langsung kalah. Setiap pemain yang bermain juga harus memiliki kekompakan antarpemainnya. Hal ini dibutuhkan karena saat bermain, antarpemain akan kesulitan untuk berkomunikasi. Layaknya orang menghitung strategi dan peluang yang ingin diciptakan. Dilihat dari dimensi sosiologis kedekatan relasi antara permainan masyarakat Batak Toba pada zaman ini sangatlah kurang, terlihat dari sulitnya ditemukan permainan ini pada kalangan masyarakat Batak Toba di berbagai daerah masyarakat bermukim. Padahal, beberapa puluh tahun yang lalu permainan ini sangat populer bagi masyarakat Batak Toba. Pemainan ini sering sekali dimainkan kaum anak-anak yang berada di suatu lingkungan desa secara bersama-sama, ketika mereka memiliki waktu luang, bahkan banyak anak-anak yang memainkan permainan ini pada waktu sekolah dan saat pulang sekolah. Sementara itu, dari dimensi ideologis masyarakat Batak Toba memercayai bahwa setiap orang yang memainkan permainan tersebut dapat bekerja sama dengan team, dipercaya juga dapat menjalin kekeluargaan kepada setiap pemain. Margala memiliki interrelasi dan interdependensi yang mendalam dan menjadi permainan yang memiliki banyak fungsi bagi masyarakat Batak Toba. Ketergantungan masyarakat Batak Toba dengan permainan tradisional Margala menyebabkan masyarakat mencari tahu fungsi dari permainan tersebut dan memainkannya sebagai wujud dari interaksi sosial. Selanjutnya juga terlihat jelas bahwa permainan Margala membutuhkan pelestarian dari masyarakat Batak Toba. Hasil interaksi dari generasi tua ke generasi muda menyebabkan permainan Margala masih dikenal masyarakat sekitar. Bila disejajarkan dengan olahraga permainan Margala mirip dengan cabang olahraga Kabaddi yang dipertandingkan di ajang Asian Games 2018 dan masih sangat asing bagi masyarakat Indonesia. Namun, jika menyaksikannya secara langsung atau lewat televisi, cara bermain cabang olahraga tersebut terlihat seperti permainan Margala. Sebagai permainan yang merupakan warisan budaya, permainan Margala patut untuk dilestarikan. Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 97 Rangkuman Margala merupakan jenis permainan anak yang dilakukan oleh anakanak Suku Batak di daerah kawasan Danau Toba. Permainan ini dulunya dimainkan pada saat rondang bulan atau poltak tula, yang artinya terang bulan. Ketika rondang bulan inilah seluruh rakyat berkumpul di halaman rumah sang raja. Bagi masyarakat Batak, cara memainkan permainan ini sangatlah seru. Permainan ini merupakan permainan yang dimainkan dua tim. Pada permainan ini perempuan dengan lakilaki dapat bergabung karena permainan ini tidak membutuhkan tenaga yang kuat akan tetapi kejelian dan kelincahan setiap pemain. Latihan Pembelajaran 1. Dari daerah mana permainan Margala berasal? 2. masa lalu pada saat peristiwa apa permainan ini dimainkan? 3. Bagaimana bentuk/gambar permainan Margala? 4. Bagaimana cara memainkan permainan Margala? 5. Nilai-nilai apa yang terdapat dari permainan Margala? 98 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 99 MATERI 17 Budaya dan Falsafah Merantau dalam Masyarakat Bugis 100 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Tema Kelas Alokasi Waktu Metode Pembelajaran Media Belajar Sumber Belajar : dan Falsafah Merantau dalam Masyarakat Bugis : 3 SMP : 1 JPL(45 Menit) : Ceramah, Diskusi, dan Tanya Jawab : Proyekor, Gambar/Video Orang Bugis di Rantau : Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Kompetensi Dasar - dan mengenal budaya merantau sebagai bagian dari tradisi masyarakat Bugis Indikator Pencapaian Kompetensi/Capaian Pembelajaran - Aspek Pengetahuan Memahami pentingnya keberadaan budaya merantau bagi masyarakat Bugis - Aspek Sikap Menghargai dan menghormati budaya merantau yang merupakan bagian dari budaya masyarakat Bugis - Aspek Keterampilan Mampu mempraktikkan nilai-nilai penting yang terdapat dalam budaya merantau di kehidupan keseharian, seperti etos kerja yang baik, saling menghormati budaya lain, dan sikap merdeka dari sistem yang membatasi kebebasan hidup. Tujuan Pembelajaran - dapat menjelaskan tentang budaya merantau dalam tradisi masyarakat Bugis. - dapat mempraktikkan nilai-nilai penting yang terdapat dalam budaya dan falsafah merantau orang Bugis. Materi Pembelajaran Merantau atau bermigrasi ke wilayah lain adalah pilihan seseorang untuk pergi dari tempat asalnya ke daerah lain untuk menjalani kehidupan atau mencari pengalaman. Merantau dapat dilakukan sementara waktu. Tetapi sering juga orang merantau dalam waktu Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 101 yang cukup lama selama bertahun-tahun, bahkan hingga menetap secara permanen bergenerasi. Beberapa suku di Indonesia yang dikenal memiliki budaya merantau yang sangat kuat antara lain suku Bugis(Sulawesi Selatan), Minangkabau(Sumatra Barat), Gayo(Aceh) dan Bawean(Jawa Timur). Salah satu faktor yang mempengaruhi budaya merantau suatu masyarakat ialah budaya masyarakatnya yang kuat dan mendukung mereka merantau. Karena berbagai faktor yang mempengaruhi dan alasan yang beragam, budaya merantau juga tumbuh di masyarakat dan suku lain, seperti suku Banjar(Kalimantan), Batak(Sumatra Utara) dan Madura(Jawa Timur). Pada masyarakat Bugis, tradisi merantau bahkan ke wilayahwilayah melampaui Indonesia, terutama hingga ke Asia Tenggara. Budaya merantau suku Bugis ini juga telah berlangsung lama. Waktu itu, jenis usaha masyarakat Bugis masih bergantung terutama pada kegiatan transportasi dan perdagangan antarpulau. Pengembangan sistem navigasi tradisional yang baik dan terampil oleh masyarakat Bugis sangat penting bagi keberhasilan mereka, yang memungkinkan komunitas suku Bugis merantau, berdagang dan membuka pemukiman di wilayah-wilayah baru. Bugis adalah salah satu suku di Sulawesi Selatan. Sejak akhir abad ke-17, orang-orang Bugis berdiaspora atau menyebar ke berbagai pulau, termasuk Kalimantan, Sumatra dan Semenanjung Malaysia. Orang-orang Bugis dikenal sebagai komunitas pedagang antar-pulau yang penting, yang membangun jaringan perdagangan lintas pulau di nusantara yang hingga kini masih berpengaruh. Pada tahun 1930-an, banyak masyarakat Bugis merantau ke wilayah Tanah Bumbu di Borneo (Kalimantan) bagian selatan dan timur. Wilayah di Kalimantan tersebut merupakan kawasan terbesar yang menjadi tempat perantauan masyarakat Bugis, di mana mereka beradaptasi dan secara bertahap membentuk suatu jaringan ekonomi dan perdagangan lintas pulau. Peristiwa politik dan pembangkangan di Sulawesi di tahun 1950-an mendorong masyarakat Bugis kembali bermigrasi, saat itu hingga ke kawasan timur Indonesia. Saat pemerintahan Orde Baru(1966-1998) berkuasa, di mana kontrol negara lebih kuat mengendalikan kawasan Timor Timur dan Papua, para pedagang Bugis mengikuti jejak dan jalur para tentara untuk mencari peluang usaha. Karenanya, masyarakat Bugis yang di perantauan ini, dengan identitas mereka sebagai pendatang, tak jarang menjadi target penyerangan saat konflik antar102 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional suku terjadi di Maluku dan Timor pada akhir 1990-an, sehingga banyak di antara mereka yang terpaksa kembali pulang ke Sulawesi Selatan. Banyak orang Bugis yang merantau ke daerah lain yang beralasan karena ingin mencari kehidupan yang lebih baik. Akan tetapi, faktor ekonomi tentu bukan satu-satunya yang mendorong masyarakat Bugis merantau ke wilayah lain. Menurut beberapa penelitian, orang Bugis merantau ke wilayah lain juga didorong oleh keinginan mendapatkan ketenteraman jiwa atau kemerdekaan( ininnawa). Situasi politik pun mendorong masyarakat Bugis merantau ke wilayah lain. Misalnya, orang Bugis Wajo menganggap banyak pejabat pemerintah telah melanggar adat dan aturan pemerintahan, maka untuk alasan ini orang Bugis Wajo lebih banyak memilih berwiraswasta yang bebas daripada memilih pekerjaan di bidang politik(pemerintahan). Hal ini juga terungkap dalam falsafah orang Bugis Wajo: maradeka to Wojoe ade’nami napopoang(artinya: rakyat Wajo itu merdeka, hanya adat yang dipertuan/mereka taati). Jika dalam penyelenggaraan pemerintahan hukum tidak ditegakkan, maka orang Bugis Wajo akan berduyun-duyun berpindah ke wilayah lain sebagai tanda protes pada kezaliman pemerintah. Secara umum, dalam budaya merantau orang Bugis memiliki falsafah dan prinsip sebagai berikut: 1. yang jelas dan pasti: Merantau harus disertai dengan kepastian tempat yang dituju. Merantau tidak boleh tanpa arah. Bahkan sebelum pergi, seseorang harus mencari informasi tentang tanah rantau yang ditujunya, menaruh ruh dan jiwanya ke tanah rantau tersebut, dan membayangkannya dalam benaknya. 2. manusia yang lebih baik: Merantau dimulai dengan bekal yang kecil, kemudian kembali ke kampung halaman dengan hasil yang besar. Seorang perantau awalnya bukanlah siapa-siapa, tetapi kembali ke kampung halaman harus sebagai orang yang dipandang. Ini bermakna bahwa merantau harus menghasilkan banyak ilmu baru, dibandingkan dengan ketika sebelum merantau. 3. menyerah: Merantau harus disertai dengan niat yang teguh dan tekad yang kuat. Tidak boleh mundur dan surut sebelum berhasil. Merantau juga harus memiliki prinsip pantang menyerah apa pun risikonya. Ibarat pelaut yang telah memasang kemudinya, pantang kembali mendarat sebelum sampai ke tujuan. Lebih baik tenggelam daripada harus surut dan mundur demi menjaga harga diri( siri’). Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 103 4. dan demi kebaikan bersama: Merantau di negeri orang harus memahami budaya setempat. Tidak boleh seenaknya dan merasa hebat. Orang Bugis di rantau harus mampu beradaptasi, menerima budaya lokal dan harus menjadi bagian dari masyarakat setempat. Dalam pepatah orang Bugis:“Di mana pun perahuku kutambatkan, di sanalah aku menanam budi baik”. Dengan keempat falsafah dan prinsip merantau orang Bugis di atas, kebanyakan orang Bugis terbukti mampu hidup berdampingan dengan masyarakat dari budaya lain, dan berbaur dengan budaya setempat. Misalnya di Bali, para pendatang Bugis di Bali semua pandai berbahasa setempat, dan saling hormat-menghormati terhadap kepercayaan Hindu. Orang Bugis yang kebanyakan beragama Islam, tidak hanya menjalankan sikap toleransi, akan tetapi mengamalkan apresiasi terhadap budaya lain. Hal ini dibuktikan dengan sikap saling membantu antara masyarakat suku Bugis dan Bali saat berlangsungnya hari raya keagaamaan masing-masing. Pada hari raya Nyepi, masyarakat Bugis ikut serta menjadi pecalang(petugas keamanan lokal di Bali). Sebaliknya, warga Bali ikut takbir keliling desa saat pada hari raya Idul Fitri. Rangkuman Materi Budaya merantau di kalangan masyarakat Bugis merupakan kebiasaan sejak lama yang dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain politik, ekonomi, dan proses pertukaran budaya yang terjadi di masyarakat. Banyak orang Bugis yang merantau ke daerah lain yang beralasan karena ingin mencari kehidupan yang lebih baik. Akan tetapi, faktor ekonomi tentu bukan satu-satunya yang mendorong masyarakat Bugis merantau ke wilayah lain. Mereka merantau ke wilayah lain juga didorong oleh keinginan mendapatkan ketenteraman jiwa atau kemerdekaan. Dalam budaya merantau masyarakat Bugis, terdapat nilai-nilai yang terkandung, antara lain yang mengajarkan etos kerja keras yang baik, perilaku saling menghormati dan beradaptasi dengan budaya lain, serta sikap merdeka dari sistem yang membatasi kebebasan dalam hidup. 104 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Latihan Pembelajaran 1. Apa yang dimaksud dengan budaya merantau atau bermigrasi? 2. Apa saja falsafah dan prinsip merantau masyarakat Bugis? 3. Sebutkan alasan orang Bugis merantau ke daerah-daerah lain? 4. makna falsafah orang Bugis Wajo yang berbunyi maradeka to Wojoe ade’nami napopoang? 5. apa saja yang terkandung dalam budaya merantau masyarakat Bugis? Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 105 MATERI 18 Wayang Beber 106 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Tema Kelas Alokasi Waktu Metode Pembelajaran Media Belajar Sumber Belajar : Wayang Beber : 3 SMP : 1 JPL(45 Menit) : eramah, Diskusi, Tanya Jawab dan Demonstrasi : Projector, Gambar/Video Pertunjukan Wayang Beber : Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Kompetensi Dasar - dan mengenal wayang beber sebagai bagian dari tradisi masyarakat Bantul, Yogyakarta Indikator Pencapaian Kompetensi/Capaian Pembelajaran - Aspek Pengetahuan Memahami pentingnya keberadaan wayang beber bagi masyarakat Bantul, Yogyakarta - Aspek Sikap Menghargai dan menghormati wayang beber yang merupakan bagian dari tradisi masyarakat Bantul, Yogyakarta - Aspek Keterampilan Mampu mempraktikkan nilai-nilai penting yang terdapat dari tradisi pertunjukan wayang beber di kehidupan keseharian, seperti kejujuran, rasa tanggung jawab, kesetiaan, kesabaran, kerelaan untuk berkorban, dan keteguhan. Tujuan Pembelajaran - dapat menjelaskan wayang beber yang merupakan tradisi dari masyarakat Bantul, Yogyakarta - dapat mempraktikkan nilai-nilai penting yang terdapat dalam tradisi/pertunjukan wayang beber Materi Pembelajaran Di daerah Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, terdapat museum wayang beber bernama“Sekartaji”. Museum tersebut lahir dari kerisauan seorang pemuda bernama Indra Suroinggeno akan keberadaan wayang beber yang terancam punah. Mungkin banyak Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 107 orang yang tidak tahu wayang beber. Jenis wayang satu ini memang tidak sepopuler wayang kulit purwa, meski usianya jauh lebih tua. Museum Wayang Beber Sekartaji didirikan pada 1 Oktober 2017. Lokasinya berada di Gg. Pancasila, Dusun Kanutan RT 8, Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul. Melalui museum yang didirikannya, Indra ingin melestarikan serta mengenalkan kembali wayang beber ke masyarakat Indonesia. Selain memajang sejumlah koleksi wayang beber di museumnya, Indra juga melayani jika ada orang yang ingin memesan wayang beber kepadanya. Wayang beber merupakan salah satu dari sekitar 80 jenis wayang yang ada di Indonesia. Saat ini, banyak di antara beragam jenis wayang tersebut sudah punah. Dari berbagai jenis wayang yang ada, wayang beber adalah yang tertua dan masih bertahan hingga sekarang, meski tidak banyak orang yang mengenalnya. Istilah beber berasal dari bahasa Jawa ambeber, yang berarti membeber atau membentangkan. Dalam pertunjukan wayang beber, seorang dalang membentangkan gulungan kertas atau kain bergambar( jagong). Ia kemudian menceritakan lakon-lakon wayang dengan ilustrasi gambar tersebut. Kertas wayang beber berukuran lebar 50–70 cm dengan panjang 360–400 cm. Dalam satu gulungan ada 4 adegan. Untuk mementaskan 1 lakon cerita wayang biasanya dibutuhkan 4 sampai lima gulungan. Pementasannya diiringi alunan musik gamelan, terdiri atas kendang, rebab, kenong, gong, kethuk raras jangga, dan kempul raras lima. Pada mulanya lakon yang dikisahkan dalam wayang beber adalah Mahabharata ataupun Ramayana, seperti yang dikisahkan pada wayang kulit purwa. Gambarnya masih hitam putih, belum disungging. Seiring waktu, gambar tersebut diberi warna. Lakon yang disajikan beralih ke cerita Panji yang menceritakan perjalanan Raden Panji Inu Kertapati (Panji Asmarabangun) mencari kekasihnya, Dewi Sekartaji(Dewi Galuh Candrakirana). Wayang beber dengan lakon Panji ini sangat populer pada masa Kerajaan Majapahit. Namun, popularitasnya meredup pada masa Mataram Islam. Seiring waktu, wayang beber tenggelam, kalah populer dengan wayang kulit purwa yang semakin digemari orang Jawa. Keberadaan wayang beber pernah hampir di ambang kepunahan karena hanya ada dua perangkat wayang beber kuno yang masih bertahan, yaitu di daerah Pacitan dan Gunung Kidul. Lakon wayang beber Pacitan adalah Jaka Kembang Kuning, sedangkan yang ada di Gunung 108 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Kidul adalah Remeng Mangunjaya. Kedua kisah tersebut merupakan bagian dari cerita Panji. Diperkirakan usia keduanya mencapai 350 sampai 400 tahun. Yang berada di Pacitan bahkan dipercaya sebagai peninggalan dari zaman Majapahit. Awalnya, kedua wayang beber tersebut milik Keraton Kasusunan Surakarta. Saat terjadi Geger Pecinan(1740–1743), Sunan dan bendabenda pusaka diselamatkan ke Ponorogo, Jawa Timur. Di antara bendabenda pusaka tersebut adalah seperangkat wayang beber dengan lakon Jaka Kembang Kuning. Sementara wayang beber dengan lakon Remeng Mangunjaya terbawa oleh Pangeran Kajoran yang kemudian diselamatkan oleh Ki Cremoguno. Tinggal dua perangkat wayang beber itulah yang terselamatkan dari masa lalu. Namun, untunglah ada beberapa orang yang kemudian berusaha untuk melestarikan dan mengembangkan seni pertunjukan wayang beber, seperti yang dilakukan Indra dengan Museum Wayang Beber Sekartajinya. Dalam upayanya mengenalkan wayang beber ke khalayak yang lebih luas, Indra memajang koleksi lukisan wayang beber karya Bu Ning(Hermin Istirianingsih), Dani Iswardana, dan juga karyanya sendiri. Dipajang juga alat musik gamelan yang digunakan sebagai pengiring pertunjukan wayang beber. Selain itu, Indra juga menggelar sejumlah program. Melalui Sanggar Seni Budaya Bhuana Alit yang didirikannya, Indra menggelar program pembelajaran pementasan dan melukis wayang beber serta workshop pembuatan kertas dluwang. Dluwang atau daluang merupakan kertas yang digunakan sebagai media lukisan wayang beber. Kertas asli Indonesia ini terbuat dari serat paper mulberry( Broussonetia papyryfera Vent). Di Indonesia, tanaman tersebut dinamakan daluang. Masyarakat Sunda menyebutnya dengan nama pohon saeh. Dluwang sangat cocok sebagai media lukisan wayang beber karena seratnya yang kuat. Di masa silam, kertas yang sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini digunakan sebagai media penulisan naskah kuno serta sebagai bahan pembuat ketu(mahkota penutup kepala) dan kain tapa. Menurut Indra, wayang beber dapat menjadi media pembelajaran yang baik bagi pendidikan karakter. Kisah Jaka Kembang Kuning yang tergambar pada Wayang Beber Pacitan, misalnya, mengajarkan betapa Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 109 pentingnya kejujuran, rasa tanggung jawab, kesetiaan, kesabaran, kerelaan untuk berkorban, dan keteguhan. Di balik kisah percintaan antara Jaka Kembang Kuning dan Dewi Sekartaji, kita dapat mengambil pelajaran bahwa tidak ada satu pengorbanan pun yang sia-sia apabila dilakukan dengan niat, tekad, dan usaha yang sungguh-sungguh. Ini bukan hanya untuk urusan cinta, namun juga untuk semua hal yang diperjuangkan manusia. Itu sebabnya, tak hanya melestarikan wayang beber, Indra juga berkreasi dengan produk budaya tersebut. Menggunakan media wayang beber, Indra menciptakan cerita yang berkaitan dengan kehidupan kita masa kini. Salah satunya adalah Wayang Beber Pancasila yang diciptakannya pada 2017. Selain sebagai media pembelajaran moral, upaya Indra dalam mengembangkan cerita kekinian juga dimaksudkan untuk menarik minat generasi muda saat ini terhadap wayang beber. Selain Indra, ada Bu Ning dan Dani Iswardana yang juga berupaya untuk melestarikan dan mengembangkan wayang beber. Bu Ning telah mendedikasikan dirinya sebagai pelukis wayang beber sejak tahun 1985. Banyak karya-karyanya menghiasi ruangan hotel di tanah air hingga ke Perancis dan Suriname. Adapun Dani Iswardana berkiprah dengan menggagas wayang beber kontemporer pada 2005. Pementasan pertama Dani diselenggarakan di Balai Soedjatmoko, Solo. Wayang beber karya Dani lebih mengarah kepada cerita dengan muatan kritik sosial. Di Jakarta, ada Komunitas Wayang Beber Metropolitan. Lakon yang dibawakan merupakan kisah kehidupan kaum urban di Jakarta lengkap dengan isu-isu perkotaan dan solusi yang ditawarkan. Wayang Beber Metropolitan bukan wayang yang bisa berdiri sendiri dengan tema dan bentuk yang sudah ada, tetapi terbentuk dari berbagai unsur seni dan pementasan. Komunitas ini juga menggunakan berbagai fenomena yang ada pada masyarakat modern untuk menentukan bentuk wayang yang akan ditampilkan dalam sebuah pertunjukan. Rangkuman Wayang beber merupakan wayang tertua di Indonesia yang masih bertahan hingga sekarang. Dinamakan wayang beber karena dalam pertunjukannya, sang dalang membeber atau membentangkan gulungan kertas atau kain bergambar( jagong) dan menceritakan lakon-lakon wayang dengan ilustrasi gambar tersebut. Saat ini, hanya 110 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional ada dua wayang beber kuno yang masih selamat, yaitu wayang beber Pacitan dengan cerita Jaka Kembang Kuning dan wayang beber Gunung Kidul dengan cerita Remeng Mangun Jaya. Wayang beber dapat menjadi media pembelajaran yang baik bagi pendidikan karakter. Kisah Jaka Kembang Kuning yang tergambar pada Wayang Beber Pacitan, misalnya, mengajarkan betapa pentingnya kejujuran, rasa tanggung jawab, kesetiaan, kesabaran, kerelaan untuk berkorban, dan keteguhan. Mengingat pentingnya melestarikan jenis wayang yang satu ini, beberapa pihak berupaya untuk mengenalkan wayang beber ke khalayak, seperti yang dilakukan Indra Suroinggeno dengan Museum Wayang Beber Sekartajinya. Latihan Pembelajaran 1. Apa yang dimaksud dengan istilah Beber? 2. Sebutkan dua media lukisan wayang beber! 3. Mengapa wayang beber dikatakan sebagai wayang tertua? 4. Di mana dan kapan museum wayang beber Kertajati didirikan? 5. Nilai-nilai apa yang terkandung dalam pertunjukan wayang beber? Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 111 MATERI 19 Angklung 112 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Tema Kelas Alokasi Waktu Metode Pembelajaran Media Belajar Sumber Belajar : Angklung : 3 SMP : 1 JPL(45 Menit) : eramah, Diskusi, Praktik, Tanya Jawab dan Penugasan : Projector, Gambar/Video Pementarasan Angklung : Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Kompetensi Dasar - dan mengenal angklung sebagai bagian dari tradisi masyarakat tradisional Jawa Barat Indikator Pencapaian Kompetensi/Capaian Pembelajaran - Aspek Pengetahuan Memahami pentingnya keberadaan angklung sebagai bagian dari tradisi masyarakat tradisional Jawa Barat - Aspek Sikap Menghargai dan menghormati angklung yang merupakan bagian dari tradisi masyarakat tradisional Jawa Barat - Aspek Keterampilan Mampu mempraktikkan nilai penting yang terdapat dalam permainan angklung, seperti kebersamaan Tujuan Pembelajaran - dapat menjelaskan angklung sebagai bagian dari tradisi masyarakat tradisional Jawa Barat - dapat mempraktikkan nilai penting yang pada permnainan alat musik angklung yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat tradisional Jawa Barat. Materi Pembelajaran Siapa yang tak mengenal angklung? Alat musik yang terdiri atas bilah-bilah bambu ini tidak hanya dikenal di nusantara. Nama angklung kini sudah mendunia, terlebih setelah ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO pada November 2010. Angklung pun sudah dimainkan di pelbagai belahan bumi, sebutlah Jepang, Tiongkok, Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 113 Australia, Korea Selatan, dan negara-negara lainnya. Bahkan di Amerika tepatnya di Taman Nasional Mall-Washington Monument tercatat sebuah rekor baru dari Guinness World Record. Anugerah ini ditujukan untuk mengapresiasi pemainan angklung terbanyak yang melibatkan 5000 orang dari berbagai suku bangsa di Amerika. Kata angklung berasal dari bunyi(anomatope) yang dihasilkan oleh alat musik ini,“klung, klung”. Jika menilik sejarahnya, angklung lahir antara abad ke-12 sampai dengan abad ke-16. Pada masa itu, angklung dimainkan oleh kerajaan yang berada di Pasundan untuk menyenangkan Nyai Sari Pohaci yang dianggap sebagai Dewi Kesuburan. Oleh karenanya setiap musim panen padi selalu terdapat perayaan yang dinamakan seren taun sebagai ungkapan syukur atas hasil panen yang melimpah. Selain itu, angklung pun sering dimainkan dalam acara ritual keagamaan dan musik pengiring yang menyemangati tentara kerajaan di Pasundan. Angklung pada mulanya memiliki lima nada atau dikenal dengan pentatonik(nada da, mi, na, ti, la) atau dikenal dengan titi laras. Nada pentatonik dalam angklung menyesuaikan dengan nada gamelan Sunda.(Sudarsono& Merthayasa, 2013). Potensi besar yang dimiliki angklung dirasakan oleh Daeng Soetigna. Terlebih pada masa itu, timbul sebuah gerakan untuk menciptakan kebudayaan nasional dengan menghadirkan musik nasional Indonesia. Kemudian pada tahun 1938, Daeng Soetigna melakukan pengubahan titi laras angklung, yang mulanya memiliki nada pentatonik menjadi nada diatonik(do, re, mi, fa, sol, la, si). Perubahan ini terinsiprasi pengaruh budaya Eropa di bidang alat musik, seperti gitar, piano, dan biola.(Bramantyo, 2014). Pada tahun 1955, nada diatonik mulai diperkenalkan Daeng Soetigna kepada dunia melalui acara Konferensi Asia Afrika. Pada acara itu, Presiden Soekarno, dan setiap delegasi negara peserta KAA memainkan harmoni nada-nada yang tercipta dari angklung atas arahan Daeng Soetigna. Peristiwa bersejarah ini menjadi momentum penting dalam sejarah perkembangan angklung sebagai alat musik tradisional yang mendunia. Angklung kini tidak hanya dimanfaatkan sebagai alat musik yang mengiringi musik tradisional. Angklung juga dimainkan untuk mengiringi musik modern, seperti EDM( Electronic Dance Music). Harmonisasi nada yang dimiliki alat musik angklung membuat angklung diminati oleh pelbagai kalangan dari anak kecil, anak muda, sampai kalangan 114 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional orang tua. Besarnya minat masyarakat kepada angklung membuat alat musik ini terus diproduksi baik untuk pasar nasional dan pasar internasional. Untuk menghasilkan suara yang nyaring, tidak semua bambu dapat digunakan sebagai bahan dasar angklung. Menurut Widjaya, hanya tiga jenis bambu yang menjadi bahan dari angklung, yaitu bambu tutul dengan nama latin( bambusa vulgaris Schrad. ex J. C. Wendl. var. maculata Widjaja), bambu hitam( Gigantochloa atter(Hassk.) Kurz ex Munro), dan bambu apus( Gigantochloa apus Bl. ex Schultes f. However). Di antara ketiga jenis bambu tersebut, bambu hitam termasuk jenis bambu yang sering digunakan dalam pembuatan angkung(Siswanto et al., 2012). Bambu yang dipilih sebagai bahan utama angklung biasanya adalah bambu yang berusia sedang, tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda. Biasanya, pengrajin angklung akan mengecek kualitas bambu yang siap potong dengan mengecek suara pada batang bambu. Bambu yang baik akan menghasilkan suara yang nyaring ketika dipukul. Pohon bambu kemudian ditebang pada waktu yang ditentukan, yaitu antara pukul 11.00-13.00 siang. Pada waktu itu, kandungan air dalam bambu tidak terlalu banyak. Bambu yang sudah ditebang dikeringkan selama kurang lebih 3 minggu. Setelah itu, bambu dipotong sesuai dengan ukuran sambil mengecek suara atau nada yang dihasilkan dan tabungtabung suara. Jika suara yang dihasilkan sudah pas, tabung-tabung suara kemudian dirangkai dengan menggunakan rotan. Pohon-pohon bambu menjadi bahan dasar pembuatan berbagai jenis angklung, seperti Angklung Baduy, Angklung Dogdog Lojor, Angklung Gubrag, and Angklung Badeng. Selain itu, terdapat pula jenis-jenis angklung lain, seperti Angklung Buncis, Angklung Bungko dan Angklung Soetigna. Cara memainkan angklung terbilang mudah. Angklung dimainkan dengan cara memegang bagian penyangga atas dan tabung dasar angklung. Secara sederhana terdapat tiga teknik dasar, yaitu teknik kurulung dengan menggoyang bagian tabung dasar dengan cepat. Teknik kedua adalah teknik cektok. Teknik dilakukan dengan cara jari tangan kanan yang memegang tiang angklung, kemudian angklung digoyang ke arah telapak tangan. Teknik terakhir adalah teknik tengkep. Teknik ini dilakukan dengan cara jari tangan kanan memegang tiang dan tabung besar, lalu angklung digoyangkan ke arah kanan. Kemudahan Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 115 dalam memainkan angklung membuat banyak orang tertarik untuk memainkannya. Apalagi angklung melibatkan banyak orang sehingga timbul keseruan dan kekompakan saat memainkannya. Yuk bermain angklung demi melestarikan budaya Indonesia. Rangkuman Kata angklung berasal dari bunyi(anomatope) yang dihasilkan oleh alat musik ini,“klung, klung”. Jika menilik sejarahnya, angklung lahir antara abad ke-12 sampai dengan abad ke-16. Untuk menghasilkan suara yang nyaring, tidak semua bambu dapat digunakan sebagai bahan dasar angklung. Menurut Widjaya, hanya tiga jenis bambu yang menjadi bahan dari angklung, yaitu bambu tutul dengan nama latin ( bambusa vulgaris Schrad. ex J. C. Wendl. var. maculata Widjaja), bambu hitam( Gigantochloa atter(Hassk.) Kurz ex Munro), dan bambu apus( Gigantochloa apus Bl. ex Schultes f. However). Secara sederhana terdapat tiga teknik dasar memainkan angklung. Teknik pertama yaitu teknik kurulung dengan menggoyang bagian tabung dasar dengan cepat. Teknik kedua adalah teknik cektok. Teknik dilakukan dengan cara jari tangan kanan yang memegang tiang angklung, kemudian angklung digoyang ke arah telapak tangan. Teknik terakhir adalah teknik tengkep. Teknik ini dilakukan dengan cara jari tangan kanan memegang tiang dan tabung besar, lalu angklung digoyangkan ke arah kanan. Latihan Pembelajaran 1. Dari mana alat musik angklung berasal? 2. Kapan angklung lahir? 3. 3 jenis bambu yang menjadi bahan untuk membuat angklung? 4. dan nada apa yang memperkenalkan angklung pada 1955 di Konvensi Asia-Afrika? 5. Sebutkan 3 teknik dasar cara bermain angklung? 116 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 117 MATERI 20 Satu Tungku Tiga Batu 118 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Tema Kelas Alokasi Waktu Metode Pembelajaran Media Belajar Sumber Belajar : Satu Tungku Tiga Batu : 3 SMP : 1 JPL(45 Menit) : Ceramah, Diskusi, dan Tanya Jawab : Projector, Gambar/Video Mengenai Satu Tungku Tiga Batu : Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Kompetensi Dasar - dan mengenal tradisi“Satu Tungku Tiga Batu” sebagai bagian dari tradisi lokal masyarakat Fakfak, Papua Barat Indikator Pencapaian Kompetensi/Capaian Pembelajaran - Aspek Pengetahuan Memahami pentingnya keberadaan tradisi“Satu Tungku Tiga Batu” bagi lokal masyarakat Fakfak, Papua Barat - Aspek Sikap Menghargai dan menghormati tradisi“Satu Tungku Tiga Batu” sebagai bagian dari tradisi lokal masyarakat Fakfak, Papua Barat - Aspek Keterampilan Mampu mempraktikkan nilai-nilai tradisi“Satu Tungku Tiga Batu” dalam tradisi lokal masyarakat Fakfak, Papua Barat, seperti kekeluargaan, kebersamaan dan toleransi Tujuan Pembelajaran - dapat menjelaskan tradisi“Satu Tungku Tiga Batu” dalam tradisi lokal masyarakat Fakfak, Papua Barat - dapat mempraktikkan nilai-nilai penting yang terdapat dalam tradisi“Satu Tungku Tiga Batu” dalam tradisi lokal masyarakat Fakfak, Papua Barat Materi Pembelajaran Papua, termasuk juga Papua Barat, adalah wilayah dengan tingkat keragaman yang begitu tinggi. Sekurang-kurangnya terdapat sekitar 255 suku asli mendiami wilayah paling timur Indonesia ini. Sementara jumlah bahasa yang dituturkan, menurut data Balai Bahasa Papua Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 119 tahun 2019, yakni sebanyak 384 bahasa dengan rincian 294 bahasa daerah di Provinsi Papua dan 90 bahasa daerah lain dituturkan di Provinsi Papua Barat. Dengan banyaknya ragam bahasa yang dituturkan tadi, Papua layak disebut sebagai provinsi dengan bahasa daerah terbanyak di Indonesia. Fakta keragaman etnis dan bahasa tersebut merupakan berkah bagi Papua, dan bangsa Indonesia secara luas. Tetapi, keragaman itu juga bisa menjadi petaka jika tidak kelola dengan baik dan cermat. Misalnya, bisa saja dengan adanya perbedaan etnis, bahasa, bahkan dialek yang dituturkan sehari-hari, seorang warga bisa terpicu amarahnya lantaran merasa etnis atau bahasanya“direndahkan” oleh etnis dan penutur bahasa lain yang merasa lebih tinggi. Tetapi, kebinekaan di atas menjadi berkah tatkala setiap warga negara menganggap perbedaan etnis dan bahasa sebagai elemen yang dapat memperkaya dirinya dan khazanah pengetahuan yang dimilikinya. Artinya, seseorang menjadi lebih kaya secara pengetahuan sebab bisa mengetahui lebih banyak etnis, bahasa, kebiasaan, budaya lain selain yang melekat pada dirinya saja. Dari sanalah lahir pemahaman dan pengertian mendalam terhadap yang lain. Fakfak merupakan satu kabupaten di Papua Barat dengan luas wilayah 14.320 Km, memiliki 17 distrik, 7 kelurahan, dan 142 kampung. Wilayah ini terus berkembang terutama setelah kedatangan para pendatang dari luar wilayah Fakfak yang bergaul dan berbaur dengan orang-orang asli Fakfak yang biasa disebut sebagai“anak negeri”. Biasanya, alasan ekonomi, pekerjaan, dan perkawinan yang menarik minat banyak orang dari luar Fakfak bermukim di wilayah tersebut. Para pendatang dari luar Fakfak dan Papua biasanya berasal dari etnis Jawa, Bugis, Ambon, Sumatra, Ternate, Tidore, Manado, Buton, dan lain-lain. Ada pula warga keturunan Tionghoa dan Arab yang telah bermukim di wilayah ini sejak beberapa abad silam. Jejaknya masih dapat dijumpai saat ini seperti kawasan Pecinan di wilayah Kota Lama Kabupaten Fakfak, sebuah kawasan perniagaan yang sangat ramai yang terletak di Jalan Izak Tellusa. Dari sisi etnis, terdapat tujuh suku asli yang mendiami Fakfak yaitu Mbaham, Ma’tta, Mor, Onin, Irarrutu, Kimbaran, dan Arguni. Dari tujuh suku tadi, terdapat 10 bahasa yang dituturkan sehari-hari oleh masyarakat antara lain bahasa Karas Laut(disebut dengan bahasa Karkaraf), Karas Darat, Patimunim(bahasa Mbaham), Matta(bahasa 120 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Iha), Onin(bahasa Rumbati), Patipi, Sekar(bahasa Kokas), Arguni, Moor, dan Irarutu. Semua keragaman yang dimiliki itu menjadi modal sosial serta kekayaan daerah yang paling potensial untuk membangun Kabupaten Fakfak lebih berkembang di masa depan. Sebab, dengan keragaman etnis, bahasa, budaya, tradisi, dan kebiasaan, artinya potensi dan kerja sama yang dapat dikembangkan pun semakin banyak dan beragam. Belum lagi ditambah dengan keragaman agama di wilayah ini yang membuat Fakfak menjadi semakin menarik bagi orang lain untuk dijadikan contoh teladan. Kabupaten Fakfak dihuni oleh warga dari tiga agama besar, yaitu Islam, Katolik, dan Kristen Protestan. Para penganut agama-agama ini tidak mempersoalkan status, ritual, kebiasaan, atau cara beribadah saudara-saudara mereka yang lain yang tentu sangat berbeda. Pemahaman yang mantap terhadap yang berbeda itu merupakan buah dari pembumian nilai-nilai toleransi yang tercermin dari kepintaran lokal( local genius) masyarakat Fakfak yang telah hidup bertahuntahun yakni“Satu Tungku Tiga Batu, Satu Hati Satu Saudara” atau“ War Ih Teri Tromid Tep Bpona/Qpona.” Semboyan ini sangat masyhur di Fakfak sehingga menjadi panduan dalam menjalani hidup bersama. Filsafat hidup ini bermula dari Fakfak, lalu diadaptasi ke wilayah lain di Papua karena memiliki semangat yang sama. Semboyan ini menggambarkan prinsip hidup warga Papua dalam menjaga keseimbangan dan kebersamaan hidup, antara lain melalui penghormatan yang tinggi terhadap pentingnya kerukunan hidup antarumat beragama yang ada di daerah itu, yakni Islam, Katolik, dan Kristen Protestan. Bagi masyarakat Fakfak, Islam, Katolik, dan Kristen Protestan adalah agama keluarga, karena itu kerja sama antarwarga dengan latar agama berbeda-beda itu bukan hal asing di wilayah ini. Juga harmoni dan kerukunan antaragama yang berlangsung di wilayah ini merupakan pemandangan biasa sehari-hari. Tentu saja dalam menjalani hidup bersama selalu ada perbedaan prinsip dan pandangan, tetapi selalu selesai, tidak meluas atau membesar hingga merusak tatanan kewargaan di Fakfak, apalagi menggerus ikatan dan jalinan kekeluargaan yang telah lama terbangun. Boleh dibilang, prinsip“Satu Tungku Tiga Batu” merupakan mekanisme penyelesaian masalah, konflik, atau perang di antara warga. Semua Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 121 perbedaan terselesaikan dengan baik dengan membentangkan ingatan bahwa semua warga adalah saudara. Semboyan“Satu Tungku Tiga Batu” diambil dari kebiasaan memasak masyarakat setempat yang menggunakan tungku dengan batu sebagai penopangnya.‘Tungku’ adalah kebersamaan hidup. ‘Tiga Batu’ adalah simbol dari tiga agama besar—Islam, Katolik, dan Kristen Protestan—yang hidup di sana. Masyarakat meyakini, jika keseimbangan terjaga stabil, semua persoalan hidup dapat diatasi dengan baik. Semboyan“Satu Tungku Tiga Batu” juga berarti sinergi harmonis antara tiga elemen masyarakat dalam pembangunan, yaitu Adat, Agama, dan Pemerintah. Sinergi artinya mengelola perbedaan agar tidak menimbulkan perpecahan. Kecerdasan para pemuka adat dan agama di Fakfak sejak tiga abad lalu telah memungkinkan harmoni dan kerukunan agama dan adat berlangsung baik di Tanah Papua. Dalam kehidupan sehari-hari, mempraktikkan tenggang rasa dalam bangunan masjid yang didirikan persis di bibir pantai Kampung Patimburak(100 kilometer dari Kota Fakfak). Gagasan monumental dari bangunan ini adalah memadukan bentuk Masjid dan Gereja. Bangunan dan ornamen masjid menjadi simbol toleransi penuh makna sejak masjid berdiri pada 1700-an. Dari semboyan sederhana itu, kita bisa belajar bagaimana mengelola keragaman dan kekerabatan etnis. Kita berharap kerukunan yang terjalin di Fakfak dapat menyebar ke seluruh wilayah lain di Papua dan mampu menginspirasi anak-anak bangsa untuk menjaga kerukunan umat beragama di Tanah Air. Uraian tentang local genius dari Fakfak di atas merupakan contoh teladan tentang masyarakat yang mampu mengikat perbedaan menjadi kekayaan, menjalin keragaman menjadi kohesi sosial. Inilah prinsip hidup yang harus menjadi teladan, bahwa meskipun kita berbeda-beda tetapi harus tetap bersatu. Rangkuman Semboyan“Satu Tungku Tiga Batu” diambil dari kebiasaan memasak masyarakat setempat yang menggunakan tungku dengan batu sebagai penopangnya.‘Tungku’ adalah kebersamaan hidup. ‘Tiga Batu’ adalah simbol dari tiga agama besar—Islam, Katolik, dan Kristen Protestan—yang hidup di sana. Masyarakat meyakini, jika keseimbangan terjaga stabil, semua persoalan hidup dapat diatasi 122 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional dengan baik. Semboyan“Satu Tungku Tiga Batu” juga berarti sinergi harmonis antara tiga elemen masyarakat dalam pembangunan, yaitu Adat, Agama, dan Pemerintah. Sinergi artinya mengelola perbedaan agar tidak menimbulkan perpecahan. Latihan Pembelajaran 1. Jelaskan makna semboyan Satu Tungku Tiga Batu! 2. Sebutkan tujuh suku asli yang mendiami Fakfak! 3. minimal lima bahasa yang dituturkan oleh suku asli yang mendiami Fakfak! 4. Apa arti kata Satu Tungku Tiga Batu dalam bahasa Fakfak? 5. apa yang dapat diambil dari semboyan Satu Tungku Tiga Batu? Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 123 MATERI 21 Sastra Sinawung Ing Kidung Dalam Ajaran Ki Hajar Dewantara 124 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Tema Kelas/Semester Alokasi Waktu Metode Pembelajaran Media Belajar Sumber Belajar : Sastra Sinawung Ing Kidung pada Kesenian Operet : 3 SMP : 1 JPL(45 Menit) : Ceramah, Diskusi, dan Tanya Jawab : Projector, Gambar/Video Kesenian Operet : Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Kompetensi Dasar - dan mengenal Sastra sinawung ing kidung dalam ajaran Ki Hajar Dewantara pada kesenian operet Indikator Pencapaian Kompetensi/Capaian Pembelajaran - Aspek Pengetahuan Memahami pentingnya Sastra Sinawung in Kidung dalam ajaran Ki Hajar Dewantara pada kesenian operet - Aspek Sikap Menghargai dan menghormati keberadaan Sastra Sinawung in Kidung dalam ajaran Ki Hajar Dewantara pada kesenian operet - Aspek Keterampilan Mampu mempraktikkan nilai-nilai penting yang terdapat dalam Sastra Sinawung in Kidung dalam ajaran Ki Hajar Dewantara pada kesenian operet, seperti kebersamaan dan kecintaan kepada budaya. Tujuan Pembelajaran - dapat menjelaskan Sastra Sinawung in Kidung dalam ajaran Ki Hajar Dewantara pada kesenian operet - dapat mempraktikkan nilai-nilai penting Sastra Sinawung in Kidung dalam ajaran Ki Hajar Dewantara pada kesenian operet. Materi Pembelajaran Sastra Sinawung ing Kidung yang merupakan ajaran dari Raden Mas Suwardi Suryaningrat atau biasa dikenal dengan Ki Hajar Dewantara (KHD). Ajaran ini sudah diterapkan sebagai budaya sekolah di Sekolah Taman Siswa yang didirikan tanggal 3 Juli 1922 di Yogyakarta. Melalui lembaga pendidikan yang bernuansa budaya Jawa, KHD berharap dapat Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 125 melestarikan warisan budaya luhur melalui seni. Pendekatan yang digunakan dalam pengembangan seni berbasis budaya lokal adalah menggunakan metode Sariswara, yaitu mendidik secara utuh ciptarasa dan karsa siswa melalui karya seni dari KHD. Sastra Sinawung in Kidung merupakan sastra yang tidak hanya menampilkan aspek fisik saja melainkan menekankan makna dari sebuah karya sastra. Operet adalah salah satu aktivitas yang digunakan untuk menampilkan Sastra Sinawung. Kelebihan operet dalam budaya Sastra Sinawung adalah mengangkat budaya Jawa dengan menggunakan iringan alat musik piano dan dialognya menggunakan tembang atau lagu. Karena itu, operet pada dasarnya tidak sekedar aktivitas seni semata namun mengandung misi pelestarian budaya Jawa sesuai dengan tema yang diangkat. Ki Hajar Dewantara adalah Bapak Pendidikan Nasional yang mendirikan sekolah Taman Siswa sejak tahun 1992 di Yogyakarta. Sekolah tersebut menjawab masalah perlakuan diskriminatif kolonial Belanda di masyarakat sebagaimana telah dialami juga oleh KHD. Dia sangat peduli terhadap nasib anak bangsa yang memiliki semangat untuk terus belajar dan kelak akan menjadi penerus bangsa di masa depan. Dia banyak melakukan inovasi dalam bidang pendidikan melalui sekolah Taman Siswa untuk ikut andil menjaga negara Indonesia. Di antara ajaran KHD adalah Ambuka Raras Angesti Wiji yang berarti kesenian menjadi pepucuk dalam hal mengajar. Hal ini sesuai dengan Peraturan Daerah Istimewa Yogyakarta No. 5 Tahun 2011 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan Berbasis Budaya. Dalam PERDA tersebut, salah satu pertimbangan yang digunakan adalah menghasilkan pendidikan yang berkualitas termasuk cerdas dalam berbudaya secara utuh dengan filosofi dan ajaran moral nilai luhur budaya. Karena itu, inovasi yang dilakukan KHD pada dasarnya sangat mendukung adanya peraturan daerah tersebut. Selain itu, implementasi kebijakan pemerintah terus dapat mengambil inspirasi konsep yang ditawarkan KHD khususnya terkait dengan bidang kesenian. Dalam proses pendidikan, pendekatan dan strategi pembelajaran yang menyenangkan dan tidak membosankan bagi setiap peserta didik harus menjadi pertimbangan penting. Dalam hal ini KHD menciptakan sebuah metode Sariswara. Metode ini diciptakan untuk mewujudkan cita-cita luhur KHD yaitu mempersatukan orang dari beragam latar 126 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional belakang seperti agama, ras, suku dan budaya itu sendiri sehingga muncul kesatuan kebudayaan, khususnya dalam hal mendidik anak. Sariswara menjadi acuan dalam proses pembelajaran dengan menggabungkan tiga pelajaran sekaligus, yaitu lagu, sastra dan cerita. Jadi, kesenian tidak hanya disampaikan secara fisik saja, melainkan menekankan pada olah rasa dengan menyeimbangkan antara suara dengan sebuah alunan lagu atau tembang. Hal tersebut juga termasuk dalam Sastra Sinawung ing Kidung yang diperkenalkan oleh KHD. Dalam berkesenian tidak hanya dilihat dari aspek keindahannya saja melainkan juga makna yang terkandung di dalamnya sehingga dapat mempengaruhi jiwa seseorang. Dalam buku yang ditulis KHD berjudul Pendidikan halaman 355 terdapat sebuah kutipan“Sastra Gendhing” kepada anak-anak. Sastra tersebut merupakan karya Sultan Agung Hanyakrakusuma, yang berisi ajaran moral, religius, seni, filsafat dan ajaran keselarasan lahir batin dan awal akhir penciptaan manusia, utamanya pendidikan untuk orang dewasa dalam laku kesehariannya sebagai orang Jawa. Karya sastra tersebut berupa sastra sekar atau tembang macapat berseri. Menurut Cak Lis, seorang peneliti dan budayawan yang menekuni pemikiran KHD, salah satu aktivitas yang dilakukan di lingkungan sekolah Taman Siswa untuk melestarikan budaya adalah melalui operet. Operet dikembangkan melalui cerita yang memiliki nilai-nilai luhur kebenaran, kepatutan, kepahlawanan dan kebangsaan. Operet pada awalnya dibuat oleh KHD saat dia diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai bentuk sindiran kepada kolonial Belanda. Pada saat itu istri KHD yang bernama RA. Soetartinah sedang ulang tahun dan KHD tidak membawa apa-apa. KHD berinisiatif menghadiahkan kepada istrinya berupa tembang“Kinanti Senandung”. Tembang tersebut bermakna kecintaan kepada pujaan hatinya. Selain itu, tembang ini juga menggambarkan keaslian kecintaan budaya negeri sendiri. Tembang tersebut sangat terkesan, sehingga pada tahun 1916, di kota Den Hag, RM. Soerwardi dibantu teman-temannya untuk membuat sebuah pertunjukan pentas“Kinanthi Sandoong”. Kelebihan dari pertunjukan ini adalah tembang yang dinyanyikan tidak menggunakan alat musik gamelan melainkan piano. Karena itu, notasi gamelan dikonversi ke notasi balok. Pementasan ini sangat unik karena masih mengangkat budaya Jawa dan pertama kali terjadi Indonesia maupun luar negeri terutama Eropa. Jadi, tema operet yang awalnya terkait dengan Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 127 hubungan suami istri dapat dikembangkan lagi sesuai dengan konteks realitas yang berubah. Operet dimainkan lebih dari dua orang sesuai dengan cerita yang diangkat. Terlebih yang bertema Jawa, misalnya kisah cinta KHD dengan RA. Soertartinah. Dialog dalam cerita tersebut lebih menggunakan tembang atau lagu yang diiringi dengan alat musik piano agar tidak membosankan dan lebih menarik. Bila dilihat dari pementasan operet, terkesan kita tidak hanya menampilkan aktivitas fisik saja, melainkan kita bisa mengetahui makna dari tembang dilantunkan selama pentas operet. Dalam operet anak yang berjudul“Amanat Sang Garuda”, misalnya, melibatkan banyak peran untuk mendukung cerita tersebut. Dalam operet tersebut juga menggunakan tembang yang sesuai dengan lagu yang diiringi musik dan tak kalah menariknya juga dibarengi dengan sebuah gerakan tarian. Pemain dalam operet tersebut menggunakan kostum sesuai dengan yang diperankan, misalnya topeng, selendang, mahkota, ataupun properti lainnya. Setiap pemeran memiliki ciri khas tariannya sendiri yang menggambarkan watak dari tokoh yang dimainkan. Selama operet berlangsung ada satu orang yang berperan menceritakan sinopsis dari cerita yang akan dimainkan dalam operet. Pada akhir pementasan biasanya diingatkan juga tentang nilai yang dapat diteladani dari cerita dalam operet tersebut baik melalui lagu ataupun gerakan tarian yang dimainkan oleh seluruh pemain sebagai tanda telah berakhirnya pementasan tersebut. Melalui pentas operet tersebut, anak-anak bisa langsung belajar dan mempraktekkan nilai dari sastra, lagu(tembang), tarian dan juga mengetahui maknanya. Rangkuman Materi Sastra Sinawung ing Kidung merupakan ajaran dari Raden Mas Suwardi Suryaningrat atau biasa dikenal dengan Ki Hajar Dewantara (KHD). Ajaran ini sudah diterapkan sebagai budaya sekolah di Sekolah Taman Siswa yang didirikan tanggal 3 Juli 1922 di Yogyakarta. Melalui lembaga pendidikan yang bernuansa budaya Jawa KHD berharap dapat melestarikan warisan budaya luhur melalui seni. Pendekatan yang digunakan dalam pengembangan seni berbasis budaya lokal adalah menggunakan metode Sariswara, yaitu mendidik secara utuh ciptarasa dan karsa siswa melalui karya seni dari KHD. Sastra Sinawung ing Kidung merupakan sastra yang tidak hanya menampilkan aspek fisik 128 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional saja melainkan menekankan makna dari sebuah karya sastra. Operet adalah salah satu aktivitas yang digunakan untuk menampilkan Sastra Sinawung. Kelebihan operet dalam budaya Sastra Sinawung adalah mengangkat budaya Jawa dengan menggunakan iringan alat musik piano dan dialognya menggunakan tembang atau lagu. Karena itu, operet pada dasarnya tidak sekedar aktivitas seni semata namun mengandung misi pelestarian budaya Jawa sesuai dengan tema yang diangkat. Melalui operet kita dapat membiasakan banyak nilai positif seperti kebersamaan, kerja sama, menghargai, toleransi, kerukunan, gotong rotong dan kepedulian. Kebiasaankebiasaan positif tersebut menjadikan kita bisa hidup dengan damai dan penuh ketentraman terutama dalam menjalani sebuah kehidupan. Selain itu, kita juga bisa melestarikan warisan budaya luhur yang bernuansa Jawa melalui seni. Latihan Pembelajaran 1. Apa yang dimaksud dengan Sastra Sinawung in Kidung? 2. Siapa Ki Hajar Dewantara itu? 3. Apa keunikan dari seni operet yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara? 4. Mengapa kita perlu melestarikan seni operet? 5. Apa saja nilai-nilai yang terkandung dalam seni operet? Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 129 Lampiran 130 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Membaca Pendidikan yang Berkebudayaan dalam Rekaman Grafis Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 131 ALUR CERITA Perbicangan tentang pendidikan selalu menyengat publik, sebab berbagai pihak—pakar, akademisi, guru, penggerak pendidikan, pemuda penggiat literasi, selalu berupaya untuk membenahi pendidikan di negeri ini agar keluar dari kerancuan dan mampu mengurai kekusutan sistem pendidikan yang terjadi saat ini. Buku yang ditulis Yudi Latif, Ph.D. berjudul“ Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi, dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif”(Mizan, 2020) merupakan satu ikhtiar penulis untuk memberikan arah, guidance, dan peta jalan baru bagi pendidikan di negeri ini. Ada sederet tawaran baru yang disampaikan Yudi Latif dalam karya ini, misalnya tentang bagaimana seharusnya pendidikan itu dimaknai. Terutama bagi para pemegang kebijakan, kepala-kepala sekolah, pimpinan-pimpinan yayasan, para guru, kaum muda penggiat literasi, bagaimana seharusnya mengerti pendidikan dan bagaimana anakanak semestinya ditempa dan dididik. Karya ini sangat penting dibaca khalayak luas dengan harapan terjadi pembaruan metodologi, model pengajaran, rencana belajar, dan kurikulum pembelajaran, yang sepenuhnya berorientasi pada penanaman budi pekerti dan pengembangan kapabilitas siswa agar selepas lulus mereka menjadi pribadi yang matang, kuat, tangguh, dan tentu saja bahagia, sebagaimana diniatkan Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia. Salah satu inisiatif agar pikiran-pikiran penting dalam karya ini diketahui publik, Kemenko PMK RI, FES Indonesia, dan PSIK Indonesia menyelenggarakan Kuliah Umum Yudi Latif, Ph.D. yang seluruh materinya bersumber dari buku Pendidikan yang Berkebudayaan. Kuliah Umum tersebut kami gelar sepanjang Mei-Juni 2021. Pada setiap sesinya, Agus GR Ramadani merekam poin-poin penting dalam kuliah umum itu dengan menggoreskan catatan dalam bentuk grafis dan teks singkat. Kami menyebut produk itu dengan graphic recorder atau rekaman grafis. Rekaman grafis itu kami buat dengan tujuan memetakan pemikiran ( mind mapping) penting tentang pendidikan yang diuraikan Yudi Latif dalam kuliahnya tadi. Dengan produk tersebut, kami berharap isi buku lebih mudah dicerna dan para pembaca dapat mengingat poin-poin penting dengan cara yang lebih asyik. 132 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Inisiatif ini akan sangat membantu para pembaca yang ingin mengetahui Pendidikan yang Berkebudayaan secara cepat dan ringkas. Tetapi, jika hendak mengetahui kandungan bukunya secara utuh, pembaca harus menelusuri setiap lembarnya secara seksama. Tak ada cara lain. Rekaman grafis ini memetakan inti pemikiran dari tiga seri Kuliah Umum Yudi Latif, Ph.D. Seri kuliah pertama berlangsung pada Rabu, 5 Mei 2021, membicarakan topik“Pendidikan sebagai Proses Kebudayaan”. Pada kesempatan kuliah umum perdana ini, Yudi menekankan pendidikan sebagai institusi dari interaksi yang menjamin proses pemanusiaan manusia dari generasi ke generasi serta revitalisasi pendidikan budi pekerti, bersatunya pikiran, perasaan, dan tekad kemauan untuk mendorong terciptanya perbuatan yang baik, benar, dan indah. Sesi kuliah kedua berlangsung pada Selasa, 25 Mei 2021, mengajukan tema“Pendidikan Transformatif: Prioritas Pembangunan Karakter” sebagai materi pembahasan. Pada kesempatan tersebut, Yudi menegaskan bahwa pendidikan pembangunan pribadi berkarakter—dalam arti bermoral—dilakukan guna mendukung manusia mengembangkan potensi individunya. Secara eksternal, perlu membentuk karakter kolektif, yang dalam konteks berbangsa, pembentukan moral kolektif itu melalui Pancasila. Berbasis pada nilai-nilai Pancasila inilah, transformasi sosial pada sektor mental/ karakter dan material/institusional dapat dicapai dengan baik. Seri kuliah pamungkas terselenggara pada Selasa, 8 Juni 2021, mengambil tajuk“Pendidikan, Visi Kesetaraan, dan Kesejahteraan” sebagai materi pembahasan. Dalam pemaparannya, Yudi menguraikan, bahwa pendidikan berdasarkan aspek hukum memiliki visi kesetaraan, sebab pendidikan merupakan hak semua orang, apa pun latar belakang dan status sosialnya. Dan, berdasarkan Human Development Index, secara tegas dinyatakan bahwa pendidikan menjadi satu aspek indikator yang menentukan kesejahteraan individu dan komunitas. Semakin baik akses terhadap pendidikan pada suatu bangsa, semakin memungkinkan individu atau bangsa itu sejahtera. Inilah alur cerita dari tiga Kuliah Umum Yudi Latif, Ph.D. yang kami selenggarakan. Alur cerita ini kami buat untuk memudahkan pembaca menangkap inti pembahasan, sekaligus memberi modal bacaan awal guna menelusuri setiap rekaman grafis yang kami sajikan. Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 133 KULIAH UMUM SERI 1 Pendidikan Sebagai Proses Kebudayaan Pendidikan sebagai proses kebudayaan adalah keniscayaan. Sebab, bilamana pendidikan mengalami proses pengerdilan— dalam arti terpisah dari proses kebudayaan—pendidikan hanya akan menghasilkan manusia dengan defisit budaya dan adab. Belajar dari pikiran genuine Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia, pendidikan sebagai proses kebudayaan berorientasi pada pengembangan kemampuan afektif dan kognitif, bukan sekadar mengarahkan pada pengembangan kognitif belaka. Sebagai konsekuensinya, kurikulum pendidikan harus dapat membantu peserta didik untuk belajar“mengeluarkan dan mengembangkan” daya pikir, daya rasa, daya karya, dan daya raga, yang sesuai dengan jenjang pendidikan dan tingkat pengembangan peserta didik. Dengan kata lain, pendidikan seharusnya membebaskan dan memerdekakan peserta didik. Pendidikan tidak boleh berhenti pada urusan kalkulatif belaka, yakni bagaimana mencetak siswa, anak didik, hanya menjadi orang yang siap kerja selepas lulus nanti, tetapi lebih jauh dari itu yakni perlu dilakukan pengembangan diri, intelegensia, dan potensi diri yang perlu diperhatikan. Sebab, sebagaimana diungkapkan Aristoteles, mendidik pikiran itu penting, tetapi harus dibarengi dengan mendidik hati. Karena mendidik pikiran tanpa mendidik hati, sama artinya dengan tak ada pendidikan sama sekali. Dengan kata lain, tekanan mendidik seseorang harus diprioritaskan pada nilai-nilai atau karakter. Sebab, dua orang dengan tingkat kognitif yang sama, namun memiliki basis karakter berbeda akan memberi dampak berbeda pula pada berbagai hal. 134 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 135 136 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 137 138 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 139 140 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 141 142 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 143 144 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 145 KULIAH UMUM SERI 2 PENDIDIKAN TRANSFORMATIF: PRIORITAS PEMBANGUNAN KARAKTER Pendidikan pada hakikatnya ialah proses belajar menjadi manusia seutuhnya, yakni dengan cara belajar dari kehidupan sepanjang hayat. Guna menjadi manusia seutuhnya, sebagaimana diniatkan oleh Ki Hajar Dewantara, harus dipahami bahwa kedirian manusia memiliki dua dimensi, yakni kedirian personal( private self) yaitu karakter dasar, dan kedirian publik( public self) alias karakter bersama. Dalam arti ini, pendidikan harus mengarahkan seseorang agar dapat mengerti dirinya, memahami potensinya, sehingga ia mengerti apa yang harus dikembangkan. Dengan demikian, ia tahu tujuan moralnya ( moral purpose) mengapa ia diciptakan, sehingga ia menjadi manusia yang berharga. Ada dua hal yang harus diperhatikan terkait prioritas pendidikan karakter, yakni membangun mentalitas mandiri dan membangun mentalitas gotong-royong. Membangun mentalitas mandiri ini penting dilakukan agar manusia-bangsa Indonesia dapat berdikari dalam ekonomi, berdaulat dalam politik, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Pembangunan karakter ini diyakini dapat menumbuhkan keberanian berpikir, bersikap, bertindak secara berdaulat, dan terbebas dari intervensi dan paksaan pihak-pihak lain. Sedangkan membangun mentalitas gotong-royong berarti mengarahkan manusia-bangsa Indonesia bersikap lebih aktif dalam ranah publik, siap berkolaborasi, siap bekerja sama, siap saling membantu, dan siap bersinergi dalam kebajikan kolektif. Pembangunan karakter ini dapat menumbuhkan kepercayaan diri ketika bergaul dan berinteraksi dengan jejaring lain yang lebih luas. 146 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 147 148 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 149 150 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 151 152 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 153 154 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional KULIAH UMUM SERI 3 PENDIDIKAN, VISI KESETARAAN, DAN KESEJAHTERAAN Pendidikan bukan hanya diorientasikan untuk membentuk seseorang menjadi pribadi yang baik, tetapi harus menjadi medium untuk menjamin terciptanya masyarakat yang baik. Inilah tekanan penting pokok-pokok pendidikan dan pengajaran yang disusun panitia kecil yang dipimpin Ki Hajar Dewantara kala membentuk Konstitusi pada tahun 1945. Dan prasyarat agar pendidikan dapat membentuk seseorang menjadi warga negara yang baik, maka pendidikan harus memenuhi visi kesetaraan, kesejahteraan, dan kemajuan, di satu sisi, serta di sisi lain, pendidikan harus mengandung visi persatuan, kepribadian, dan perdamaian dunia. Rumusan mengenai pentingnya pendidikan untuk mewujudkan citacita kesetaraan dan kesejahteraan ini tercermin dalam Pembukaan UUD 1945 pada alenia keempat di mana frasa“mencerdaskan kehidupan bangsa” secara terang benderang ditulis sebagai salah satu basis legitimasi negara kesejahteraan Indonesia. Jika ditelisik secara mendalam, pesan kesetaraan dalam pendidikan begitu kentara dalam pikiran dan rumusan para pendiri bangsa dahulu. Penyetaraan manusia sebagai warga negara diperjuangkan lewat pendidikan, di mana semua warga negara berpeluang menjadi terhormat karena kemampuannya sebagai seseorang terpelajar, yang pada gilirannya menjadi manusia sejahtera. Sebab, bagaimana pun, kemajuan pendidikan ialah ketika mutu dan akses pendidikan dapat secara luas dirasakan oleh masyarakat yang tertinggal dan terpinggirkan sehingga membuat mereka berdaya dalam berbagai hal. Dengan begitu, diskriminasi akan hilang, penghargaan manusia menjadi yang paling terdepan. Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 155 156 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 157 158 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 159 160 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 161 162 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional DAFTAR PUSTAKA Abdillah, M,“Moderasi Beragama Untuk Indonesia Yang Damai: Perspektif Islam.” In Prosiding Seminar Nasional Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya, No. 2,(2019), 33-40. Adimihardja, Kusnaka, Kasepuhan yang Tumbuh di Atas yang Luruh. Pengelolaan Lingkungan secara Tradisional di Kawasan Gunung Halimun Jawa Barat,(Bandung: Tarsito, 1992). Adji, S.P.& Wahyuningsih, N.(2018).“Kain Lurik: Upaya Pelestarian Kearifan Lokal.” Dalam Jurnal ATRAT V6/N2/05/2018. Affendi, Yusuf, Seni Tenun Silungkang dan Sekitarnya,(Jakarta: Proyek Media Kebudayaan Jakarta Ditjen Kebudayaan Depdikbud, 1980/1981). Anam, Choerul(2017).“Tradisi Sambatan dan Nyadran di Dusus Suruhan.” Dalam Sabda Volume 12, Nomor 1, Juni 2017. Ariyana, Farida, dkk, Konsepsi Piil Pesenggiri Menurut Masyarakat Adat Lampung Waykanan di Kabupaten Waykanan: Sebuah Pendekatan Discourse Analysis,(Bandar Lampung: Aura Printing& Publishing, 2015). Bagian Humas Setda Kabupaten Kuningan. Upacara Seren Taun https:// kuningankab.go.id/wisata-budaya/upacara-seren-taun, diakses 25 Mei 2021. Baidhawi, Ruby Achmad, Mokaha Urang Cisungsang,(Serang; Biro Humas Provinsi Banten, 2007). BPS Kota Sawahlunto, Kecamatan Silungkang Dalam Angka 2020, (Sawahlunto: Badan Pusat Statistik Kota Sawahlunto, 2020). Bramantyo, T., Daeng Soetigna dan Perkembangan Angklung,(Yogyakarta: Universitas Gajah Mada, 2014). Budiwirman,“Makna Mendidik pada Kriya Songket Silungkang Sumatera Barat,” Jurnal Seni dan Budaya Panggung, Vol. 22, No. 4(Oktober – Desember 2012), h. 401-409. Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 163 Castles, Lance, Profil Etnik Jakarta, terj. Gatot Triwira,(Jakarta: Masup Jakarta, 2007). Chaer, Abdul, Betawi Tempo Doeloe: Menelusuri Sejarah Kebudayaan Betawi, (Depok: Masup Jakarta, 2015). Cribb, R. B.,& Kahin, A. Historical Dictionary of Indonesia(2nd ed). Scarecrow Press,(2004). Dahri, Harapandi, Titik Temu Sunny dan Syi’i; Kajian Tradisi Tabot Bengkulu, (Jakarta: Penamadani, 2008). Darmansyah, dan Bakrie Latief, Sastra Mandar,(Makassar: De La Macca, 2016). Darmawidjaja, Orang Baduj, Harimau Djadi-Djadian dan Si Kabayan,(Yogyakarta: Kinta, 1968). Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara I,(Jakarta: Proyek Pembinaan Media Kebudayaan Ditjen Kebudayaan Depdikbud, 1991/1992). Djunatan, Stephanus, The Principle of Affirmation An Ontological and Epistemological of Interculturality,(Rotterdam: Erasmus Universiteit Rotterdam, 2011). Enggarwati, D.& Sarmini,“Aktualisasi Wayang Beber sebagai Sumber Nilai Karakter Lokal(Studi Kasus Keberadaan Wayang Beber di Desa Nanggungan Kecamatan Pacitan Kabupaten Pacitan)”, dalam Kajian Moral dan Kewarganegaraan No. 1 Vol. 1 Tahun 2013, h. 113–147. Fathurokhman, Ferry,“Hukum Pidana Adat Baduy dan Relevansinya dalam Pembaharuan Hukum Pidana”, dalam Jurnal Law Reform, Volume 5 No. 1, April 2010. h. 1-38. Feener, R. Michael,“ Tabot: Muharam Observances in the History of Bengkulu ,” dalam Jurnal Studia Islamika Volume 6, Number 2(Jakarta: PPIM, 1999). Garna, Yudistira, Kurnia, Masyarakat Baduy di Banten, dalam Masyarakat Terasing di Indonesia: Seri Etnografi Indonesia No. 4,(ed.) Koentjaraningrat& Simorangkir,(Jakarta: Departemen Sosial dan Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial dengan Gramedia Pustaka Utama, 1993). 164 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Gunawan, Agus, Tradisi Upacara Perkawinan Adat Sunda(Tinjauan Sejarah dan Budaya di Kabupaten Kuningan), Jurnal Artefak, Vol.6 No.2 September 2019. Hadjar Dewantara, Ki. Pantjasila,(Yogyakarta: N.V. Usaha Penerbitan Indonesia, 1950). Hamidy, Badrul Munir(Ed.), dkk., Upacara Tradisional Daerah Bengkulu; Upacara Tabot di Kotamadya Bengkulu,(Bengkulu: Bagian Proyek Inventarisasi dan Perkembangan Nilai-Nilai Budaya Daerah Bengkulu, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1991/1992). Handayani, Rizqi,“Dinamika Kultural Tabot Bengkulu”, Al-Turas, Vol. XIX, No. 2, Juli 2013. Haris, Tawalinuddin, Kota dan Masyarakat Jakarta: Dari Kota Tradisional ke Kota Kolonial Abad XVI-XVIII(Jakarta: Wedatama Widya Sastra, 2007). Hariyanto, Oda, I. B dan Sihombing, Dane Afrina,“Tradisi Ritual Masyarakat Desa Rawabogo Ciwidey Sebagai Daya Tarik Desa Wisata”, Jurnal ALTASIA, Vol. 1, No. 1, Tahun 2019. Hendarti, Latipah.(ed.), Menepis Kabut Halimun. Rangkaian Bunga Rampai Pengelolaan Sumberdaya Alam,(Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2008). https://bangka.tribunnews.com/2017/06/27/tradisi-hantaran-rantang-yangdirindukan-masyarakat-betawi-saat-lebaran https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditwdb/melestarikan-kebudayaanbetawi-di-tengah-gempuran-globalisme/ https://lppm.ipb.ac.id/lunturnya-tradisi-motong-kebo-andilan/diakses25 Mei 2021. https://today.line.me/id/v2/article/q3n9pm Nganter Bandeng Kala Imlek: Tradisi yang Jadi Cermin Eratnya Kaum China dan Betawi, diakses 25 Mei 2021. https://voi.id/memori/6320/i-nganter-i-tradisi-khas-lebaran-yang-jadiantitesis-individualisme-orang-jakarta, diakses 25 Mei 2021. Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 165 https://www.youtube.com/watch?v=G8mOrjM2oDA&t=924s, Presentasi Fitzgerald Kennedy Sitorus mengenai Teori Pengakuan Axel Honneth dan diunggah ke Youtube pada 21 Februari 2021 oleh Genial TV. Humaeni, Ayatullah, Kebudayaan Masyarakat Cisungsang,(Serang: LP2M IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, 2017). _________________, Kontestasi Agama(Islam) dan Adat Masyarakat Kasepuhan di Banten dan Jawa Barat,(Serang: LP2M UIN SMH Banten, 2019). Husain, B., Khusyairi, A.,& Samidi, S. Sailing to the Island of the Gods’: Bugis Migration in Bali Island, Utopía Y Praxis Latinoamericana, 25(1), (2020), h. 333–342. Ima Kesuma, Andi, Moral Ekonomi(Manusia) Bugis,( Makassar: Rayhan Intermedia, 2012). Iqbal, Muhammad Za’far, Kafilah Budaya, Pengaruh Persia Terhadap Kebudayaan Indonesia, Jakarta: Citra, 2006. Irianto, S. dan Margaretha, R.,“Piil Pesenggiri: Moral Budaya dan Strategi Identitas Ulun Lampung”, dalam Makara, Sosial Humaniora, Vol. 15, No. 2, h. 140-150. Koentjaraningrat, dkk, Masyarakat Terasing di Indonesia(Jakarta: Gramedia, 1993). Kusmayadi, Yadi, Tradisi Sawer Penganten Sunda di Desa Parigi Kecamatan Parigi Kabupaten Pangandaran, Jurnal Agastya, Vol. 8 No. 2 Juli 2018. Linda Astuti, Pemaknaan Pesan pada Upacara Ritual Tabot(Studi Pada Simbolsimbol Kebudayaan Tabot di Provinsi Bengkulu), Jurnal Professional FIS UNIVED, Vol. 3, No. 1, Juni 2016. Logita, Embang, Lagu Saweran dalam Pernikahan Adat Sunda(Dari Segi Struktur, Konteks Penuturan, Ko-teks dan Fungsi) dan Pelestariannya Sebagai Bahan Ajar Bahasa Indonesia Serta Bahan Ajar Pelatihan Ekstrakurikuler, Prosiding Seminar Nasional Linguistik dan Sastra (SEMANTIKS)“Kajian Linguistik pada Karya Sastra”, 2019. Maharsi, Indiria, Wayang Beber,(Yogyakarta: Dwi-Quantum, 2018). Mansyur,‘Migrasi dan Jaringan Ekonomi Suku Bugis di Wilayah Tanah Bumbu, Keresidenan Borneo Bagian Selatan dan Timur, 1930-1942, Jurnal Sejarah Citra Lekha, 1(1),(2016), h. 24. 166 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Margana,“Wayang Beber sebagai Materi Pelajaran Seni Budaya”, dalam Jurnal Ilmu Pendidikan Jilid 20 Nomor 2, Desember 2014, h. 156–164 Masitoh,“Mengingat dan Mendekatkan Kembali Nilai-nilai Kearifan Lokal(Piil Pesenggiri) Sebagai Dasar Pendidikan Harmoni Pada Masyarakat Suku Lampung”, dalam Edukasi Lingua Sastra, Vol. 17, No. 2, h. 64-81. Natalia, W. A., Widiawati, D.,& Sachari, A.(2019). Perancangan Produk Fashion bagi Masyarakat Urban Indonesia dengan Pemanfaatan Tenun Lurik Jawa Pedan.” Dalam Serat Rupa Journal of Design, Juli 2019, Vol.3, No.2: 112–133. Naufal, R.A.A.& Zaini, I.“Nilai-nilai Pendidikan Karakter pada Bentuk Visual Wayang Beber Pancasila Karya Indra Suroinggeno”, dalam Jurnal Seni Rupa, Vol. 8 No. 2 Tahun 2020, h. 89–105. Pamungkas, A.D, Rosyani,& Suandi(2013).“Kajian Nilai Sambatan dalam Kehidupan Sosial dan Kaitannya dengan Keberlanjutan Masyarakat Desa di Desa Meranti Jaya.” Dalam Sosio Ekonomi Bisnis Vol. 16(2) 2013. Peraturan Desa Kanekes Nomor 01 Tahun 2007 tentang Saba Budaya dan Perlindungan Masyarakat Adat Tatar Kanekes(Baduy). Poelinggomang, Edward L., Sejarah Mandar Masa Kerajaan Hingga Sulawesi Barat,(Solo: Zadahaniva, 2015). Prihatini, T.(2018).“Makna Simbolis Kain Tenun Lurik.” Dalam Jurnal Socia Akademika Vol.4 No. 3, 18 Desember 2018. Rahmawaty, Enden Irma, Makna dan Simbol Dalam Upacara Adat Perkawinan Sunda Di Kabupaten Bandung, Jurnal Patanjala Vol. 3, No. 2, Juni 2011. Rohman, Fathnur, Menilik Makna Upacara Adat Seren Taun bagi Masyarakat Sunda Wiwitan, https://travel.okezone.com/ read/2018/09/10/406/1948762/menilik-makna-upacara-adatseren-taun-bagi-masyarakat-sunda-wiwitan, diakses 25 Mei 2021. Saidi, Ridwan, Babad Betawi,(Jakarta: Gria Media Prima, 2002). Siswantara, Yusuf dan Sugiarto, Bernardus Ario Tejo, Rumah Budaya Sebagai Ruang Publik Untuk Mengembangkan Kegiatan Kepariwisataan di Desa Wisata Rawabogo, Kecamatan Ciwidey Kabupaten Bandung Barat,(Bandung: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Universitas Katolik Parahyangan Bandung, 2012). Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional 167 Siswanto, W. A., Tam, L., dan Kasron, M.Z.,“Sound Characteristics and Sound Prediction of the Traditional Musical Instrument the Theree-rattle Angklung”, International of Acoustics and Vibration, Vol. 17, No. 3, (2012), h. 120-126. Sudarsono, A. S., and Merthayasa, I. G. N.,“Acoustic Analysis From Pentatonic Angklung”, Prceedings of Meetings on Acoustics,(2013). Supinah, Pien, Sawer: Komunikasi Simbolik pada Adat Tradisi Suku Sunda dalam Upacara Setelah Perkawinan, Jurnal Mediator, Vol. 7 No. 1 Juni 2006. Suprayitni& Ariesta I.(2014).“Makna Simbolik Di Balik Kain Lurik SoloYogyakarta.” Dalam HUMANIORA Vol. 5 No. 2 Oktober 2014: 842– 851. Tauchid, Mochammad, Perjuangan dan Ajaran Hidup Ki Hajar Dewantara, (Yogyakarta: Majelis Luhur Taman Siswa, 1963). Wani, Hilal, Raihanah Abdullah dan Lee Wei Chang,“An Islamic Perspective in Managing Religious Diversity”, Religions, 6: 644,(2015) Wardjo, Pendidikan dan Kebudayaan,(Yogyakarta: Madjelis Luhur Taman Siswa, 1955). Wawancara Ketua Adat Kasepuhan Cisungsang, Juru Basa Kasepuhan Ciherang dan Juru Basa Kasepuhan Bayah. Wawancara langsung dengan Tetua Adat di Kasepuhan Cisungsang, Kasepuhan Karang, Kasepuhan Cibarani dan Kasepuhan Ciherang Kab. Lebak, Prov. Banten. WS, Hasanuddin, dkk., Ensiklopedia Sastra Indonesia(Bandung: Titian Ilmu Bandung, 2007). Wuryani, Sri(2013).“Lurik Dan Fungsinya Di Masa Lalu.” Dalam Jurnal Ornamen Vol. 10 No. 1, Januari 2013. Yasil, Suradi, Puisi Mandar Kalindaqdaq dalam Beberapa Tema,(Yogyakarta: Ombak, 2013). 168 Modul Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional Pendidikan adalah sarana paling penting untuk mengajarkan dan menyebarkan nilai-nilai positif kepada para peserta didik. Dengan materi yang baik, pemahaman yang bagus, dan penguasaan atas metode pengajaran yang mumpuni, materi pembelajaran diyakini dapat disampaikan kepada para peserta didik dan diterima oleh mereka dengan sangat baik. Salah satu materi penting untuk disampaikan kepada para peserta didik ialah bahasan tentang lokalitas dan pengetahuan tradisional yang begitu kaya dan beragam yang dimiliki bangsa Indonesia. Kekayaan khazanah budaya bangsa Indonesia itu harus diketahui, diterima, dan dipahami para peserta didik sebagai modal sosial mereka dalam memahami perbedaan sebagai warisan kekayaan yang harus dijaga keberadaanya bersama-sama. Atas dasar itu, PSIK Indonesia dengan dukungan penuh Kemenko PMK RI dan FES Indonesia membuat Modul Pembelajaran tentang Lokalitas dan Pengetahuan Tradisional sebagai ikhtiar kami menyampaikan kekhasan tradisi dan nilai utama seperti kerja sama, toleransi, dan alasan mengapa para murid perlu mengetahui tema-tema tradisi dan budaya yang diajarkan. Modul pembelajaran ini kami buat untuk para pendidik di tingkat Sekolah Menengah Pertama, untuk kemudian diajarkan ke para peserta didik sehingga mereka mampu memahami dengan baik tema-tema dan kekhasan tradisi yang disampaikan. Semoga kehadiran karya ini dapat memberikan kontribusi positif bagi pemahaman dan pelestarian lokalitas dan pengetahuan tradisional di Tanah Air. PSIK INDONESIA Grha STR Lt. 4, Ruang 411 Jl. Ampera Raya 11, Jakarta Selatan 12550 Telp.: 021-7813911 Website: http://psikindonesia.org Email: psikindonesiaorg@gmail.com