ORA OBAH, ORA MAMAH Studi Kasus Gender pada Sektor Informal di Masa Pandemi COVID-19 Tim Peneliti Dati Fatimah Desintha Dwi Asriani Aminatun Zubaedah Mida Mardhiyyah Penyusun Konten Infografis: Aminatun Zubaedah Mida Mardhiyyah Visual: Azis A Rifai Desclaimer: Infografis ini merupakan ringkasan laporan studi yang dipublikasikan dengan judul yang sama“Ora Obah, Ora Mamah: Studi Kasus Gender pada Sektor Informal di Masa Pandemi COVID-19” yang diterbitkan oleh Friedrich-Ebert-Stiftung. PENDAHULUAN Latar Belakang: Gender menjadi dimensi penting yang berkontribusi pada kerentanan, namun seringkali luput dalam berbagai upaya penanganan bencana, termasuk pandemi COVID-19. Akibatnya, isu-isu gender tidak menjadi prioritas dalam penanganan pandemi COVID-19. Di samping itu, norma sosial yang tidak adil gender bisa menjadikan krisis justru mempertajam ketidakadilan gender yang sudah ada. Pendekatan berbasis gender perlu dilakukan untuk melihat pola dan distribusi kerentanan, hingga upaya penanganan pandemi dilakukan dengan merespon secara efektif kebutuhan yang berbeda antara perempuan dan laki-laki. Tujuan Kajian: Mengidentifikasi respon dan ketangguhan perempuan dan laki-laki selama pandemi. Merumuskan rekomendasi terkait dengan pendekatan penanggulangan COVID-19 yang responsif gender. Metodologi Penelitian: Penelitian dilakukan di D.I. Yogyakarta menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara per telepon dan langsung pada 1 April – 24 Juni 2020 dengan penerapan protokol kesehatan COVID-19. Ora Obah, Ora Mamah 3 PERTANYAAN PENELITIAN Bagaimana pandangan perempuan dan laki-laki tentang pandemi COVID-19? Bagaimana dampak sosial-ekonomi COVID-19 dalam perspektif gender? Bagaimana dampak pandemi COVID-19 terhadap ekonomi di sektor informal? Bagaimana perempuan merespon peran pengasuhan/perawatan dan peran produktif di masa pandemi? Bagaimana perempuan sebagai agen perubahan mengelola situasi krisis dan tetap produktif? 4 Ora Obah, Ora Mamah PROFIL RESPONDEN Berdasarkan jenis kelamin Berdasarkan usia Ora Obah, Ora Mamah 5 Berdasarkan pekerjaan Berdasarkan latar belakang pendidikan 6 Ora Obah, Ora Mamah PERSPEKTIF TENTANG PANDEMI COVID-19 Ora Obah, Ora Mamah 7 DAMPAK SOSIAL PANDEMI COVID-19 DALAM PERSPEKTIF GENDER Beban ganda. Saat pandemi, beban pengasuhan dan perawatan – yang secara sosial dilekatkan dan disosialisasikan sebagai tanggung jawab perempuan – menjadi semakin panjang daftarnya seiring dengan berpindahnya sebagian besar aktivitas publik ke dalam rumah. Keterbatasan mobilitas. Ketika tanggung jawab pengasuhan dan perawatan hampir seluruhnya terpusat di rumah, mobilitas perempuan menjadi semakin terbatas. Kecemasan merupakan persoalan yang sering muncul ketika menghadapi ketidakpastian atau krisis dan dapat mempengaruhi kondisi kesehatan. Pada responden perempuan kecemasan berimplikasi pada masalah kesehatan psikis dan masalah kesehatan reproduksi. Diperlukan kajian lebih lanjut pada aspek ini. Risiko kekerasan terhadap perempuan dan anak. Menurut data yang dirilis oleh KPPPA dan Komnas Perempuan, risiko kekerasan pada perempuan dan anak meningkat ketika aktivitas terpusat di rumah yang selama ini menjadi lokus kasus kekerasan. Keterbatasan ruang dan akses teknologi. Adanya pergeseran luring ke daring di masa pandemi membuat akses teknologi digital menjadi krusial. Perempuan banyak menyuarakan perhatiannya pada soal mahalnya akses teknologi digital yang dalam situasi pandemi dirasa sebagai tekanan, karena berimplikasi pada prioritas dan alokasi belanja keluarga. Macetnya ruang dan skema komunal. Terhentinya seluruh aktivitas dan kelembagaan sosial(seperti rewang, hajatan, posyandu, PKK) akibat pandemi dirasa berat oleh perempuan. Aktivitas-aktivitas komunal tersebut menjadi ruang interaksi dan perjumpaan sosial bagi perempuan untuk berbagi ruang hidup dan saling dukung. Kerentanan kelompok lansia. Pada kelompok rentan kondisi pandemi juga bisa membuat mereka menghadapi situasi yang berat. Pada lansia misalnya, kemampuan beradaptasi lansia membutuhkan penyesuaian berbeda dengan kelompok usia lain, karena seringkali lebih sulit mengubah kebiasaan yang sudah berjalan turuntemurun. 8 Ora Obah, Ora Mamah Siklus Harian dan Beban Ganda Perempuan di Masa Pandemi di Masa Pandemi COVID-19 B agi Atik hidup di masa pandemi tidaklah mudah. Ia yang mengelola warung sayur harus menghadapi situasi yang bertumpuk-tumpuk karena perubahan yang diakibatkan oleh pandemi. Suaminya, Jono, yang bekerja sebagai sopir travel lebih banyak tinggal di rumah dan kehilangan pendapatan. Pada pertengahan Maret, ketika status darurat pandemi ditetapkan, suaminya langsung berstatus sebagai ODP setelah kembali dari mengantarkan pelanggan ke Jakarta yang saat itu termasuk zona merah penyebaran kasus positif COVID-19. Status ini mengundang perundungan dari warga sekitar, karena otomatis dianggap sebagai orang positif Covid-19. Stigmatisasi sosial ini berujung pada pengucilan, dan juga berkurangnya orang yang berbelanja ke warungnya. Walaupun label ini terasa sangat menyakitkan, namun ia mencoba tidak menghiraukannya dan tetap fokus dengan kesibukan harian. Sebelum pandemi, Atik juga sudah sangat sibuk dengan berbagai kegiatan mengurus warung, anak, ayah, dan rumah. Di masa pandemi, kesibukan semakin bertambah; selain harus mengurus suami yang selama 2 minggu berstatus sebagai ODP, melalui aplikasi WA setiap hari ia harus melaporkan perkembangan kondisi suaminya ke puskesmas. Kemudian harus mengatur warung untuk meminimalkan risiko penularan, mengatur waktu belanja ketika ada proses penyemprotan disinfektan di pasar, menemani anak dan keponakan yang belajar di rumah, dan mengurusi anaknya yang masih bayi. Deretan kesibukan ini belum termasuk kewajiban untuk mengantarkan ayahnya memeriksakan diri secara rutin ke RS. Di masa pandemi prosedur untuk mendapatkan layanan kesehatan di RS menjadi lebih panjang dan memakan lebih banyak lagi waktu. Ora Obah, Ora Mamah 9 CONTOH SIKLUS HARIAN PADA KELUARGA PEMILIK WARUNG MAKAN Istirahat& Ibadah Pengasuhan anak/ orang tua Bersih-bersih rumah, mencuci Bekerja produktif Sosial 10 Ora Obah, Ora Mamah DAMPAK EKONOMI PANDEMI COVID-19 DALAM PERSPEKTIF GENDER Keterbatasan ruang dan kesempatan kerja: Dampak ekonomi dirasakan baik oleh perempuan maupun laki-laki, karena berbagai sektor yang terdampak juga menjadi tumpuan hidup perempuan dan laki-laki. Namun demikian, jenis pekerjaan yang terdampak dipengaruhi oleh profil partisipasi dan kendali antar sektor yang berbasis gender. Keterampilan untuk bertahan hidup: Dampak kehilangan pekerjaan dan pendapatan, distribusi keterampilan yang tidak lagi memiliki manfaat ekonomis dan tidak terpakai oleh pasar kerja dipengaruhi oleh distribusi kerja berbasis gender. Implikasi produktivitas karena tingginya beban ganda dan kecemasan: Pandemi yang memperpanjang curah waktu pengasuhan dan perawatan menjadikan perempuan dianggap semakin tidak produktif. Rendahnya akses pada program perlindungan sosial untuk ekonomi: Sektor informal yang didominasi oleh perempuan, memiliki sejumlah kendala untuk dapat mengakses program perlindungan sosial. Kendala utama adalah informalitas, sehingga data, persoalan, dan kebutuhannya menjadi tidak tercatat dan tidak direkognisi dalam berbagai program perlindungan sosial. Ora Obah, Ora Mamah 11 Kehilangan Kerja dan Pendapatan karena Pandemi COVID-19 S ejak awal pandemi COVID-19 aktivitas wisata di pantai Drini yang terletak di Desa Banjarejo, Kecamatan Tanjungsari, Gunungkidul, Yogyakarta ditutup sebagai upaya pencegahan penyebaran COVID-19. Akibatnya tidak ada kunjungan wisatawan yang datang ke pantai ini. Situasi ini berdampak pada Sri yang biasa berjualan makanan di area sekitar pantai. Untuk dapat bertahan hidup, Sri kemudian memanfaatkan media sosial untuk berjualan dan terbatas hanya kepada temantemannya saja. Dengan cara ini hasil yang ia peroleh pun sangat minim. Omset berjualan makanan terjun bebas menjadi hanya 10-20% dari pendapatan biasanya. Memang ada fasilitas pinjaman di kelompok Mina Lestari di mana ia menjadi anggotanya, namun modal kelompok hanya sebesar Rp 10 juta. Masing-masing anggota hanya bisa mendapat pinjaman maksimal sebesar Rp 500.000. Sektor perhotelan yang sangat terkait dengan pariwisata, merupakan salah satu sektor yang paling terdampak oleh pandemi yang berimplikasi pada hilangnya pekerjaan. Salah satunya adalah Anto, yang bekerja sebagai satpam kontrak di salah satu jaringan perhotelan nasional di Yogyakarta. Terhitung 1 Mei 2020, Anto mulai dirumahkan tanpa disertai dengan pesangon, dan kemudian hanya mendapatkan sedikit THR dan uang sisa tutup buku. Sebelum ia dirumahkan, sejak April 2020 manajemen sudah memberi ancang-ancang akan rencana pengurangan karyawan yang dilakukan secara bertahap dengan melihat perkembangan bisnis. Ketika akhirnya dirumahkan, manajemen hanya menginformasikan bahwa karena tidak ada lagi tamu yang menginap di hotel, maka sebagian besar pekerja dirumahkan untuk menekan biaya operasional. Dari total 11 satpam, 7 diantaranya dirumahkan, termasuk Anto. Ia juga kesulitan mencari pekerjaan di tempat lain, karena kelesuan juga terjadi di hotel-hotel yang lain. 12 Ora Obah, Ora Mamah MELACAK DAMPAK SOSIAL-EKONOMI PANDEMI COVID-19 BERBASIS GENDER Pertama: Perbedaan keterpaparan dan kerentanan terhadap pandemi merupakan hasil dari proses sosialisasi dan pembakuan peran gender yang ketat, yang menjadikan perempuan dan laki-laki berupaya memenuhi norma sosial tentang menjadi laki-laki dan menjadi perempuan. Dalam berbagai kasus terlihat bahwa norma sosial dan konstruksi gender yang tidak adil gender dapat berimplikasi sama merugikannya bagi perempuan dan laki-laki, walaupun melalui cara dan dengan kedalaman yang berbeda. Sebagai contoh, karena proses sosialisasi dan perilaku yang berbeda, laki-laki menuai kerentanan dari aspek kesehatan dan lebih banyak terpapar atau menjadi korban COVID-19. Di sektor kesehatan, peran feminin yang menjadikan perempuan sebagai mayoritas tenaga kesehatan, membuat mereka menghadapi ancaman harian berupa risiko penularan ketika bekerja dengan perlindungan keamanan diri dan kebijakan yang lemah. Kedua: Kebijakan bekerja dan belajar di rumah membawa implikasi berbeda bagi perempuan dan laki-laki. Perempuan harus mengerjakan banyak sekali aktivitas pengasuhan dan perawatan dengan curah waktu lebih panjang. Kondisi ini berbeda dengan laki-laki, karena secara sosial tidak terdapat kewajiban dan peran laki-laki dalam kerja pengasuhan dan perawatan. Memang terdapat contoh keterlibatan laki-laki/suami dalam urusan pengasuhan anak seperti menemani anak belajar atau bermain, namun secara sosial tanggung jawab utama masih melekat pada perempuan. Ketiga: Sekalipun tidak tergambar jelas, implikasi ekonomi dari pandemi tidak bisa dipisahkan dari persoalan gender, di mana perempuan harus berbagai waktu dan energi untuk mengurusi pekerjaan‘produktif’ dengan kerja pengasuhan dan perawatan. Implikasinya, kesempatan perempuan untuk menjaga kesehatan mental, beristirahat, dan mengembangkan potensi diri menjadi semakin terbatas. Dari sisi ekonomi, hal ini juga bisa berimplikasi pada rendahnya rekognisi terhadap produktivitas ekonomi perempuan, karena waktu dan energi perempuan tersedot untuk memenuhi norma sosial. Ora Obah, Ora Mamah 13 KONTRIBUSI PEREMPUAN PADA STRATEGI DAN ALTERNATIF PENGELOLAAN KRISIS SOSIAL-EKONOMI DI MASA PANDEMI COVID-19 Ketahanan dalam merespon kebiasaan baru: Ada kesamaan antara laki-laki dan perempuan dalam upaya adaptasi. Namun dalam beberapa hal, adaptasi kebiasaan baru oleh perempuan tetap banyak dilakukan di rumah dan berkaitan dengan orang lain. Ini menunjukkan bagaimana dikotomi ruang publik/privat yang ada sebelumnya turut mempengaruhi pola perilaku laki-laki dan perempuan di masa pandemi. Ketahanan ekonomi keluarga: Studi menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran yang cukup besar dalam mengantisipasi risiko ekonomi yang lebih besar, terutama pada level keluarga di mana sebagian dari mereka berupaya mengembangkan strategi baru atau beralih pekerjaan. Pengalaman tersebut menunjukkan bagaimana dinamika keseharian perempuan layak untuk dipertimbangan sebagai basis pengetahuan dalam memetakan strategi bertahan di situasi krisis. Ketahanan komunitas: Pandemi juga menggugah kesadaran masyarakat untuk berbagi. Tidak sedikit perempuan yang juga berpartisipasi dan bahkan menginisiasi gerakan berdonasi. Beberapa gerakan donasi yang diinisiasi oleh perempuan, misalnya#Jogjamaskeran, solidaritas pangan. 14 Ora Obah, Ora Mamah ADAPTASI TERHADAP KEBIASAAN BARU Ora Obah, Ora Mamah 15 PEMBELAJARAN DARI PENGALAMAN KELENTINGAN PEREMPUAN DI MASA PANDEMI COVID-19 Pengembangan alternatif aktivitas ekonomi yang melampaui dikotomi publik/ privat: Strategi yang responden perempuan lakukan menunjukkan bahwa fungsi publik dan privat harus dilihat secara seimbang sehingga keberlanjutan produktivitas ekonomi di tingkat keluarga dapat dikelola dengan baik. Negosiasi peran gender yang lebih cair: Skema ketahanan berbasis solidaritas, diantaranya dilakukan melalui aktivitas donasi makanan, donasi masker, atau donasi benih tanaman. Sebagai skema solidaritas, aksi-aksi ini bermuara pada pemaknaan dan spiritualitas yang menggerakkan perempuan melalui aksi berbagi Sistem pendukung dan solidaritas bagi perempuan di sektor informal: Skema ketahanan berbasis solidaritas, diantaranya dilakukan melalui aktivitas donasi makanan, donasi masker, atau donasi benih tanaman. Sebagai skema solidaritas, aksi-aksi ini bermuara pada pemaknaan dan spiritualitas yang menggerakkan perempuan melalui aksi berbagi. Pengembangan gagasan fleksibilitas pada aktivitas kerja dan pemanfaatan teknologi: Gagasan fleksibilitas ditunjukkan dari cara perempuan memanfaatkan teknologi saat harus bekerja di masa pandemi. Sebagian berhasil memanfaatkan teknologi digital untuk menjaga keberlangsungan usaha di tengah pandemi. Sebagian lagi bahkan mampu mengambil kesempatan ekonomi baru, ketika sumber penghidupan yang lama terdampak oleh pandemi. Pengembangan gagasan kepemimpinan perempuan: Dalam konteks kebencanaan, sikap dan pilihan tindakan perempuan dapat dilihat sebagai sebuah agensi yang kontributif terhadap pengembangan studi kebencanaan itu sendiri. Artinya, pengalaman perempuan dalam mengelola krisis dapat menjadi input bermakna bagi strategi penanganan bencana yang lebih komprehensif. Oleh karena itu keterlibatan perempuan dalam kebijakan pengelolaan bencana menjadi sangat relevan. 16 Ora Obah, Ora Mamah REKOMENDASI 1. Kapasitas untuk meredam(absorptif) a. Penyediaan jaring pengaman sosial berupa bantuan langsung tunai(BLT), jatah hidup( jadup), maupun asuransi yang cukup membantu kelompok miskin dan mereka yang tiba-tiba harus kehilangan pekerjaan akibat pandemi COVID-19. b. Penting untuk mempertimbangkan mekanisme pemberian jaring pengaman sosial yang lebih inklusif. c. Jaring pengaman sosial disalurkan melalui kelompok yang selama ini menjadi ciri khas perempuan dalam merawat modal sosialnya. d. Jaring pengaman sosial tersebut juga perlu diperkuat dengan sistem keamanan rantai pasok, terutama untuk kebutuhan dasar, bahan baku produksi dan pemasaran hasil dari sektor informal. e. Sosialisasi dan optimalisasi layanan konseling online untuk kesehatan mental dalam membangun adaptasi terhadap pandemi bagi sektor informal. 2. Pengembangan kapasitas dan daya adaptasi a. Penguatan kapasitas adaptasi pelaku sektor informal untuk menerapkan protokol hidup sehat dalam konteks pandemi. b. Penguatan pengetahuan dan pengelolaan keuangan( financial literacy ), manajemen, kepemimpinan perempuan dalam bisnis dan strategi komunikasi bisnis dengan pemanfaatan media sosial. c. Peningkatan kapasitas untuk memampukan sektor informal melakukan diversifikasi usaha. d Penguasaan teknologi( technology literacy ), khususnya adalah teknologi digital e. Kesadaran dan perspektif gender dalam pembagian peran sosial dalam kehidupan sehari-hari, sehingga risiko seperti beban ganda perempuan di masa pandemi COVID-19 dapat diantisipasi sejak dini. Ora Obah, Ora Mamah 17 Pada konteks ini, negara dapat melakukan intervensi melalui: a. Pembangunan infrastruktur teknologi secara merata khususnya terkait dengan kualitas dan aksesibilitas jaringan internet agar dapat diakses oleh perempuan di sektor informal. b. Rekognisi terhadap kepemimpinan perempuan dan kerja-kerja perawatan( care works ). c. Penguatan peran sosial badan negara di masa krisis. Misalnya, alih fungsi kantor pos sebagai penyalur bantuan negara, baik yang sifatnya tunai maupun dukungan logistik bagi produk yang dihasilkan oleh sektor informal. 3. Peningkatan kapasitas dan alternatif untuk melakukan transformasi a. Penguatan kapasitas dan posisi strategis usaha informal perempuan dalam rantai pasokan yang lebih pendek dan pembagian keuntungan yang lebih adil. Misalnya melalui skema kolektif(kelompok, koperasi) sehingga mengambil peran dalam distribusi, lebih dekat ke end-customer , dan bisa memiliki posisi tawar yang lebih baik. b. Peningkatan kapasitas terkait akses dan pemanfaatan teknologi digital bagi pelaku sektor informal, sebagai media untuk mengalihkan aktivitas jual beli tradisional ke e-commerce. c. Penguatan akses ekonomi bagi pelaku sektor informal, seperti akses kepada permodalan. Kebijakan dan skema relaksasi kredit menjadi salah satu opsi yang penting untuk didorong. d. Penguatan dan perlindungan pasar domestik dengan memberikan insentif atas produk lokal. e. Pemerintah dapat memfasilitasi mentoring dari pelaku usaha besar ke asosiasi usaha sektor informal. f. Negara melalui kebijakan dan program juga bisa mendorong fleksibilitas dalam peran dan ruang berbasis gender. Pembangunan infrastruktur yang inklusif untuk mengakomodir kebutuhan care works seperti tempat pengasuhan anak, serta kampanye keterlibatan laki-laki dalam pengasuhan dan perawatan, bisa menjadi agenda yang dilakukan oleh pemerintah. 18 Ora Obah, Ora Mamah Friedrich-Ebert-Stiftung Indonesia Office Jl. Kemang Selatan II No. 2A, Jakarta Selatan 12730