Pengantar Perubahan iklim yang menjadi isu pembangunan global saat ini, telah menjadi variabel penting yang mempengaruhi kehidupan dan kesejahteraan komunitas. Perubahan iklim telah menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup banyak komunitas, karena mempengaruhi keamanan dan akses terhadap suplai bahan pangan, air dan energi yang vital bagi semua orang. Secara ekonomi, perubahan iklim juga menyebabkan kerugian ekonomi yang berpotensi memperlambat pencapaian tujuan peningkatan kesejahteraan seluruh warga. Cuaca ekstrem yang berkelindan dengan persoalan pembangunan juga meningkatkan risiko kejadian bencana alam, seperti banjir, puting beliung dan tanah longsor yang menelan korban jiwa dan merusak sumber-sumber penghidupan. Studi ini berupaya mengkaji, bagaimanakah implikasi dari perubahan iklim terhadap pola konsumsi pangan, air bersih dan energi, dan melihat bagaimana gender mempengaruhi ketiganya. Kajian pada pola konsumsi di tingkat rumah tangga ini juga akan memetakan, bagaimanakah upaya-upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yang dilakukan, dengan melihat peran, kontribusi dan tantangan berbasis gender. Peneliti: Dati Fatimah, Aminatun Zubaedah, Herni Ramdlaningrum, Ahmad Sarkawi, Dian Ajeng Pangestu,& Mida Mardhiyyah Pembaca Kritis: Erlinda Panisales, Desintha D Asriani, Rina Julvianty, Rinto Andriono& Leya Cattleya Penyusun Konten Infografis: Dati Fatimah, Aminatun Zubaedah,& Mida Mardhiyyah Infografis: Aziz A Rifai 1 Kerangka Analisis Penelitian Studi dilakukan di tiga wilayah: • Desa Banjarejo, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul • Kampung Tambaklorok dan Kelurahan Krobokan, Kecamatan Tanjungmas, Kota Semarang • Desa Sungai Batang, Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir(OKI) Metodologi: FGD, wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumen. Waktu: September-Oktober 2017 2 Sejarah Pola Konsumsi Air, Pangan, dan Energi di Desa Banjarejo 3 Sejarah Pola Konsumsi Air, Pangan, dan Energi di Kampung Tambaklorok 4 Sejarah Pola Konsumsi Air, Pangan, dan Energi di Desa Sungai Batang 5 Siklus Harian Laki-laki dan Perempuan di Desa Banjarejo, Tanjungsari, Gunungkidul Curah waktu perempuan petani Curah waktu laki-laki petani Istirahat/ pribadi Produktif Sosial Memasak, bersih-bersih Pengasuhan anak Istirahat/ pribadi Produktif Sosial Bersih-bersih(mencuci) Pengasuhan anak Di Gunungkidul laki-laki dan perempuan berkontribusi pada kerja domestik dan pengasuhan dengan beban yang berbeda. Pembangunan infrastruktur air bersih sampai ke rumah tangga(PAH, PDAM) secara signifikan mengurangi curah waktu dan beban kerja untuk aktifitas domestik(mencari air, memasak, dan mencuci), yang sebelumnya dilakukan laki-laki dan perempuan dengan peran berbeda. 6 Siklus Harian Laki-laki dan Perempuan di Kampung Tambaklorok, Tanjung Mas, Semarang Curah waktu perempuan buruh terasi dan istri nelayan Curah waktu laki-laki nelayan Istirahat/ pribadi Produktif Sosial Memasak, bersih-bersih Pengasuhan anak Istirahat/ pribadi Produktif Sosial Di Semarang beban kerja perempuan saat rob meningkat, terutama untuk membersihkan rumah dan menyelamatkan perabotan dan pangan keluarga. Curah waktu laki-laki menggambarkan nelayan kecil yang melaut dalam jarak pendek karena pertimbangan konsumsi BBM. Setiap nelayan memiliki aktifitas berbeda pada siang hari diantaranya istirahat atau memperbaiki kapal. Perempuan selain menjadi buruh terasi juga membersihkan dan menjual hasil tangkapan laut dari suaminya. Laki-laki merasa malu bila menjual sendiri hasil tangkapan harian ke pasar atau pengepul. 7 Siklus Harian Laki-laki dan Perempuan di Desa Sungai Batang, Air Sugihan, Ogan Komering Ilir Curah waktu perempuan nelayan Curah waktu laki-laki nelayan Istirahat/ pribadi Produktif Sosial masak, beres-beres rumah, mencuci, mengumpulkan air bersih Pengasuhan anak Istirahat/ pribadi Produktif Sosial Di Sungai Batang, beban kerja perempuan pada musim hujan meningkat untuk mengumpulkan air dari kucuran atap. Keluhan reumatik pada perempuan banyak ditemukan. Laki-laki tidak melaut pada masa gelombang tinggi. Sejak beberapa tahun terakhir, warga yang bermodal memiliki ternak walet sebagai alternatif penghidupan. 8 Dampak Perubahan Iklim Berbasis Gender Penyakit: Reumatik pada perempuan, gatal dan diare pada anak dan lansia Kesehatan reproduksi: Transmisi IMS(HIV) pada perempuan dan anak Pernikahan usia anak Pekerja anak Risiko keselamatan bagi laki-laki Peningkatan beban kerja pada perempuan 9 Mitigasi dan Adaptasi di Gunungkidul 10 Mitigasi dan Adaptasi di Semarang 11 Mitigasi dan Adaptasi di Ogan Komering Ilir 12 Gender, Perubahan Iklim dan Pola Konsumsi: Studi Kasus Banjarejo(Gunungkidul) Sri*: Perempuan kepala keluarga berperan sebagai pencari nafkah utama bagi keluarganya. Terdiri dari lansia, adik lakilaki, anak-menantu, dan cucu. Buta huruf dan bekerja sebagai petani. Kebutuhan air terpenuhi dengan menumpang dari tetangga yang berlangganan air PDAM karena dianggap lebih murah dan fleksibel (berhenti mengkonsumsi air PDAM ketika musim hujan). “Untuk memenuhi kebutuhan harian, Sri menjual sebagian hasil panen. Saat tidak memiliki uang, kebutuhan pangan harian didapat dengan cara menghutang dengan tenggat waktu pembayaran 15 hari. Sri biasa menyewakan tanah untuk menutup kebutuhan ekonomi tak terduga atau pada masa tertentu seperti untuk kebutuhan pakan ternak, biaya kesehatan lansia yang sakit, juga membeli air tangki ketika air PDAM tidak mengalir dengan lancar, bahkan hingga dua minggu. Keluarga prasejahtera seperti Sri umumnya memiliki penampungan air ukuran 10.000 liter. Sehari-hari makan sayur dan nasi. Sesekali makan ikan.” * : bukan nama sebenarnya 13 Gender, Perubahan Iklim dan Pola Konsumsi: Studi Kasus Tambaklorok(Tanjung Mas, Semarang) Aminah*: Perempuan kepala keluarga yang bekerja sebagai buruh terasi tanpa kontrak. Buta huruf dan tidak memiliki perlindungan sosial. Mengandalkan bekerjanya pola subsisten skema komunal pada saatsaat kritis seperti berhutang di warung tetangga. Agar rob tidak masuk rumah, Aminah juga harus meninggikan rumah secara berkala. Material untuk meninggikan rumah ia dapatkan dengan cara menabung uang di toko bangunan. Aminah juga harus membeli tanah uruk kualitas nomor dua yang cenderung berlumpur. “Sebagai buruh terasi, upah harian Aminah sebesar Rp 60.000. Untuk kebutuhan makan, ia dan keluarganya terbiasa makan 3x sehari dengan komposisi makanan berupa nasi, tahu atau tempe. Ikan menjadi lauk pilihan saat memiliki rezeki lebih. Kebutuhan belanja keluarga rata-rata sebesar Rp 50.000. Ia juga sering berbagi belanja dengan keluarga anaknya, terutama untuk membayar pengeluaran besar seperti listrik dengan sistem pulsa dan langganan air sumur artesis sebesar Rp 20.000/minggu. Jika tidak mempunyai uang, dia akan merapelkan bayaran di minggu berikutnya. Untuk memasak sehari-hari Aminah menggunakan gas untuk bahan bakar. Sampai saat ini, Aminah tidak memiliki keberanian memasangkan gas pada kompor karena khawatir meledak.” * : bukan nama sebenarnya 14 Gender, Perubahan Iklim dan Pola Konsumsi: Studi Kasus Sungai Batang(Air Sugihan, OKI) Ica* : Berusia 16 tahun pada saat penelitian dilaksanakan. Ica adalah ibu rumah tangga yang menikah pada usia 12 tahun dan memiliki tiga orang anak usia balita. Suaminya bekerja sebagai buruh nelayan. Keluarga Ica tinggal di ujung muara yang menghadap langsung ke laut Bangka. Rumahnya berdinding bambu beratap daun nipah dengan lantai kayu berlubang di banyak titik. Saat angin kencang, dinding dan atap rumahnya terbawa angin. “Kondisi rumah beratap daun nipah tidak memungkinkan keluarga Ica untuk memanen air. Untuk bisa menampung air, drum milik keluarganya diletakkan di rumah saudara. Pada musim kemarau, keluarga Ica membeli air drum untuk mandi, cuci pakaian dan piring, seharga Rp 30.000 per drum. Untuk memasak, harga air yang dibeli sebesar Rp 70.000 per drum. Asupan lauk pauk tidak pernah berubah, hanya ikan kecil dan tidak pernah mengkonsumsi sayur karena harganya mahal.” * : bukan nama sebenarnya 15 Kesimpulan: Karena konstruksi gender, perempuan menanggung dampak berlapis dari 1 perubahan iklim, termasuk dalam hal pola konsumsi keluarga untuk pangan, air bersih dan energi. Walaupun studi menemukan kerentanan khas laki-laki terkait iklim(keselamatan saat melaut), namun laki-laki tetap 2 memiliki keistimewaan dalam prioritas pola konsumsi keluarga, misalnya belanja untuk rokok yang tidak menurun dalam berbagai kondisi perekonomian). Diversifikasi sumber penghidupan dilakukan baik oleh laki-laki maupun 3 akan dipengaruhi oleh peran dan ruang perempuan. Opsi-opsi penghidupan yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Perempuan berkontribusi penting dalam upaya adaptasi pada level individu, keluarga dan komunitas terkecil, 4 manajemen keuangan keluarga, pola seperti dalam penyiasatan pola pangan, konsumsi air bersih di masa krisis dan pemanfaatan berbagai sumber energi. Sayangnya, rekognisi terhadap kontribusi ini masih rendah dan tersembunyi. 16 8 Praktik mitigasi dalam kebijakan pengurangan energi tak terbarukan menyisakan tantangan terkait 5 ketergagapan kelompok-kelompok transfer teknologi. Studi menemukan, marjinal seperti perempuan lansia dalam menghadapi perubahan pola konsumsi energi ini. Pada tataran formal di tingkat negara, proses-proses kunci dalam pengambilan 6 keputusan terkait dengan kebijakan dan program adaptasi, ruang dan kontrol perempuan masih terbatas. Ditemukan praktik adaptasi iklim yang positif dan juga negatif yang 7 justru mengurangi kapasitas dan kesejahteraan. Pelayanan publik yang tepat bisa membantu mengurangi dampak iklim 8 yang ditanggung perempuan, seperti pengurangan curah waktu untuk pekerjaan domestik dan perlindungan sosial bagi kelompok rentan. 17 Rekomendasi: Perempuan dan laki-laki menghadapi situasi dan dampak perubahan iklim yang berbeda, sehingga perlu memastikan konsultasi memadai tentang kebijakan, 1 program dan kegiatan mitigasi dan adaptasi yang dilakukan di berbagai level baik pusat, daerah, maupun desa, sehingga tepat dan berguna baik bagi laki-laki maupun perempuan. 2 adaptasi di berbagai level, melalui rekognisi dan penguatan kapasitas yang tepat. Penguatan partisipasi dan kepemimpinan perempuan dalam upaya mitigasi dan Proteksi dan skema khusus bagi kelompok rentan dalam mitigasi dan adaptasi 3 perubahan iklim dengan penguatan jaring pengaman sosial, baik melalui kebijakan negara dan pelayanan publik, maupun skema berbasis komunal. Transfer teknologi dalam pengelolaan sumber daya yang lebih lestari, perlu 4 mempertimbangkan perbedaan kondisi, kebutuhan dan tantangan yang dihadapi oleh perempuan dan laki-laki, serta kondisi khas kelompok rentan. 18