Druckschrift 
Membangun Perlindungan Sosial yang Inklusif bagi Penyandang Disabilitas
Entstehung
Einzelbild herunterladen
 

om. Saya tidak punya kendaraan sendiri(Informan Y, wawancara, 10 Juni 2024). Dari kisah Y ini, memperlihatkan bagaimana Y sangat tergantung kepada keluarganya baik secara finansial maupun terkait dengan mobilitas. Hal ini hampir sama dengan yang dialami oleh A yang merupakan seorang ibu dengan anak disabilitas dari Klaten, yakni L. L menginjak usia pra-remaja dan termasuk dalam penyandang disabilitas ganda, yakni rungu-wicara dan fisik. Karena secara teknis A mengurus L yang belum mandiri, maka A menjadi ibu rumah tangga full-timer. Untuk biaya hidup sehari-hari A mengandalkan keluarganya dan kadangkala mendapatkan makanan yang masak dari para tetangganya. Suami dari A sudah meninggal sejak L usia 5 tahun(Informan A, wawancara, 10 Juni 2024). Ketergantungan kepada keluarga, kerabat dan tetangga sekitar yang tinggi seperti ini menunjukkan perlunya memperkuat jaringan dukungan di luar lingkup keluarga inti, seperti melalui komunitas, organisasi masyarakat dan layanan pemerintah yang lebih inklusif. Program yang menyediakan pelatihan keterampilan hidup mandiri, akses ke layanan dukungan, serta peluang ekonomi yang lebih luas dapat membantu mengurangi ketergantungan ini dan meningkatkan kemandirian penyandang disabilitas. Mengurangi ketergantungan pada keluarga inti melalui dukungan yang lebih luas akan membantu penyandang disabilitas mencapai kualitas hidup yang lebih baik dan memungkinkan mereka untuk berpartisipasi lebih aktif dan setara dalam masyarakat. 4. Perumahan dan Mobilitas Rumah adalah tempat untuk melepaskan lelah, tempat bergaul, dan membina rasa kekeluargaan diantara anggota keluarga, tempat berlindung keluarga dan menyimpan barang berharga, dan rumah juga sebagai status lambang sosial(Azwar, 1996; Mukono, 2000). Oleh karena itu, variabel perumahan digunakan sebagai kriteria hidup layak dalam penelitian ini. Bagi penyandang disabilitas, rumah yang aksesibel turut menentukan bagaimana ia bisa beraktivitas sehari-hari secara optimal dan meminimalkan bantuan orang lain. Dilihat dari hal ini, lebih dari 56,2% rumah yang mereka tempati(baik di Lombok Tengah dan Klaten) sudah memenuhi kriteria aksesibel. Adapun di Lombok Tengah, masih ada yang sama sekali tempat tinggal 95